Asing Berebut Masuk RI Saat Dunia Bingung Tarif Trump, IHSG Nge-Gas?
- Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir menguat di perdagangan kemarin Senin
- Wall Street ambruk di tengah kekhawatiran AI
- Huru hara tarif Trump dan realisasi APBN hingga data jumlah uang beredar bisa menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pasar keuangan pada Senin kemarin (23/2/2026) berhasil kompak mengalami penguatan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik cukup signifikan, rupiah terapresiasi dari greenback, hingga obligasi kembali diminati investor.
Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu kembali melanjutkan tren positifnya pada perdagangan hari ini Selasa (24/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.
IHSG pada perdagangan kemarin Senin berhasil lompat kencang ke posisi 8.396,08, naik 124,31 poin atau terapresiasi sebesar 1,50% dan kian mendekati level resistance nya di 8.400.
Sebanyak 468 saham naik, 206 turun, dan 142 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp24,15 triliun, melibatkan 49,54 miliar saham dalam 3,04 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali menyentuh Rp 15.000 triliun.
Adapun investor asing terpantau kembali melakukan aksi beli dengan total net inflow sebesar Rp1,14 triliun.
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor berada di zona hijau dengan kenaikan terbesar di pegang oleh sektor bahan baku yang terapresiasi 3,31%. Diikuti sektor transportasi dan logistik dengan kenaikan 3,09%.
Dari sisi emiten, saham-saham perbankan terpantau menjadi pendorong kenaikan IHSG pada perdagangan kemarin Senin.
Bank Mandiri (BMRI) menjadi pendorong utama kinerja IHSG dengan kontribusi penguatan 11,65 indeks poin. Serta harganya terapresiasi 2,93% ke Rp 5.275 per saham.
Selanjutnya diikuti oleh saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang naik 1,56% ke Rp 3.900 per saham dengan sumbangsih sebesar 9,43 indeks poin. Selain itu, ada saham Bank Mega (MEGA) yang lompat 25% atau menyentuh batas auto reject atas (ARA) ke level 4.130 dengan sumbangsih 9,09 poin.
Beralih ke pasar nilai tukar, rupiah turut berhasil mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin Senin.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,44% ke posisi Rp16.785/US$. Penguatan kemarin sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang menguat dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah menguat tipis 0,03% di level Rp16.855/US$. Seiring berjalannya perdagangan, rupiah terus menambah penguatan hingga ditutup di level penutupan tersebut.
Melemahnya dolar AS di pasar global menjadi salah satu penopang penguatan rupiah kemarin. Koreksi DXY mengindikasikan adanya tekanan jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga membuka ruang penguatan bagi mata uang lain, termasuk rupiah.
Tekanan pada dolar antara lain dipicu keputusan Mahkamah Agung AS yang pada Jumat pekan lalu menyatakan penerapan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump yang menggunakan landasan hukum darurat internasional (IEEPA) tidak sah.
Putusan tersebut kembali membuka babak baru ketidakpastian terkait arah kebijakan tarif AS ke depan, yang turut mempengaruhi pergerakan dolar.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi rilis APBN KiTa. Salah satu poin yang paling ditunggu pelaku pasar adalah perkembangan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di awal tahun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN per Januari 2026 sebesar 0,21% atau setara Rp54,6 triliun.
"Angka ini masih sangat terkendali dan masih dalam koridor desain APBN 2026," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/2/2026).
Purbaya menjelaskan defisit keseimbangan primer tercatat Rp4,2 triliun. Dari sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp227,3 triliun atau 5,9% dari pagu APBN, sementara pendapatan tercatat Rp172,7 triliun.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan ke level 6,451%.
Sebagai catatan, pergerakan yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah, jika yield turun, maka harga sedang naik, yang artinya investor sedang melakukan pembelian di obligasi RI.
Saham-saham Amerika Serikat anjlok pada Senin atau Selasa dini hariw aktu Indonesia di tengah investor bergulat dengan kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai gangguan kecerdasan buatan (AI) terhadap berbagai industri serta keputusan Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif globalnya.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 821,91 poin, atau 1,66%, dan ditutup di 48.804,06. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1,13% dan berakhir di 22.627,27. S&P 500 anjlok1,04% dan ditutup di 6.837,75, kembali berada di zona merah untuk tahun 2026.
Dow yang berisi 30 saham utama terseret turun oleh saham IBM yang jatuh 13% setelah Anthropic memaparkan kemampuan pemrograman baru untuk produk Claude Code miliknya.
Saham perangkat lunak seperti Microsoft dan CrowdStrike kembali berada di bawah tekanan karena kekhawatiran gangguan AI membayangi pasar. Microsoft turun 3%, sementara CrowdStrike merosot hampir 10%.
Bukan hanya sektor perangkat lunak yang terdampak ketakutan AI baru-baru ini: saham yang terkait dengan truk dan logistik, properti komersial, serta jasa keuangan juga mengalami kerugian bulan ini.
Kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap perekonomian semakin meningkat akhir pekan lalu setelah Citrini Research merilis laporan yang menyatakan bahwa ledakan AI dapat merugikan ekonomi secara luas karena berpotensi menyebabkan tingkat pengangguran mencapai 10%.
Makalah riset tersebut dikutip oleh pelaku perdagangan di Wall Street sebagai penyebab pelemahan saham perangkat lunak dan sektor keuangan. American Express turun 7%, membebani Dow. Saham Mastercard merosot hampir 6%.
Sebaliknya, sektor defensif seperti kebutuhan pokok konsumen mencatat kinerja lebih baik. Saham Walmart dan Procter & Gamble memimpin, masing-masing naik lebih dari 2%.
Kekacauan tarif berlanjut
Trump kembali menegaskan kemampuannya untuk menaikkan tarif pada hari Senin, memperingatkan tarif lebih tinggi bagi negara-negara yang ingin "bermain-main" setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif "resiprokal" miliknya pekan lalu.
Hal ini terjadi setelah pada hari Sabtu presiden mengatakan akan menaikkan tarif global menjadi 15%, dari sebelumnya 10% yang diumumkan pada hari Jumat. Trump menambahkan bahwa tarif baru tersebut berlaku segera, meskipun belum jelas apakah dokumen resmi mengenai waktunya telah ditandatangani. Ia juga mengatakan pungutan tambahan akan diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Pejabat Eropa menyatakan kekhawatiran terhadap langkah tersebut karena dapat mengancam perjanjian perdagangan dengan AS. Bahkan, Parlemen Eropa pada Senin mengumumkan bahwa mereka menghentikan sementara proses ratifikasi perjanjian perdagangan antara AS dan Uni Eropa.
Saham seperti Wayfair dan Nike yang sempat melonjak pada sesi sebelumnya setelah putusan Mahkamah Agung justru turun pada Senin.
Harga emas naik pada hari Senin karena tarif baru meningkatkan ketidakpastian pasar mengenai prospek inflasi dan pertumbuhan global. Harga emas spot naik lebih dari 2%, sementara kontrak berjangka emas melonjak lebih dari 3%.
Bitcoin merosot hingga di bawah US$65.000 dan masih turun lebih dari 4% seiring berlanjutnya aksi jual tajam di pasar kripto.
Volatilitas seputar kebijakan tarif global Trump yang diberlakukan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, yang memungkinkan presiden mengenakan tarif selama 150 hari sebelum memerlukan persetujuan Kongres kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat.
"Pertanyaan besar bagi ekonomi adalah apa yang terjadi setelah periode ini, dan jika kebijakan tarif terus berjalan seperti ini, kita mungkin akan kembali ke Mahkamah Agung lagi tahun ini," kata Michael Landsberg, chief investment officer di Landsberg Bennett Private Wealth Management kepada CNBC International.
"Tarik-menarik soal tarif kemungkinan akan menjadi tema yang mengganggu pasar sepanjang sisa tahun ini, meski volatilitasnya mungkin lebih rendah dibandingkan guncangan awal April lalu." Imbuhnya.
Memasuki perdagangan kedua di pekan ini, euforia pasar keuangan domestik masih terlihat cukup positif. Pelaku pasar tampaknya sudah relatif mengantisipasi dinamika tarif resiprokal yang kembali mencuat, sehingga respons pasar cenderung lebih terukur.
Dari sisi teknikal, IHSG kini sedang mencoba menembus level psikologis 8.400 yang juga menjadi area resistance. Jika level ini berhasil dilewati, ruang penguatan berikutnya mengarah ke kisaran 8.600 hingga 8.700.
Area tersebut merupakan gap yang ditinggalkan IHSG saat terjadi tekanan jual besar pada akhir Januari, ketika MSCI mengumumkan pembekuan terhadap indeks saham Indonesia dan menyatakan potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market.
Foto: TradingViewIHSG |
Secara historis, gap dalam pergerakan teknikal kerap cenderung tertutup, meski waktunya tidak selalu bisa dipastikan. Dengan momentum saat ini, peluang IHSG untuk mengisi area tersebut tetap terbuka.
Kabar baiknya dana asing mulai masuk deras ke pasar saham Tanah Air. Asing mencatat net inflow selama empat hari beruntun dengan nilai Rp 3,2 triliun. Kondisi ini menunjukkan adanya kepercayaan yang meningkat terhadap bursa Indonesia.
Beberapa saham yang ramai dibeli asing kemarin adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS).
Berikut ini beberapa rangkuman sejumlah sentimen yang diperkirakan bisa mempengaruhi pasar pada perdagangan hari ini, Selasa (24/2/2026).
Defisit APBN Januari 2026: Rp54,6 T
Sentimen pertama datang dari laporan APBN KiTa yang menunjukkan posisi fiskal pada awal 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 0,21% per Januari 2026. Defisit ini setara dengan Rp54,6 triliun.
"Angka ini masih sangat terkendali dan masih dalam koridor desain APBN 2026," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Senin (23/2/2026).
Sementara itu, defisit kesinambungan primer tercatat sebesar Rp 4,2 triliun. Adapun, dari sisi belanja negara tercatat Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari pagu APBN. Pendapatan mencapai Rp 172,7 triliun.
Purbayamenuturkan pertumbuhan pajak pada Januari tumbuh sebesar 30,7% pdibandingkan tahun lalu. Artinya ada perbaikan ekonomi dan perbaikan dari efisiensi pajak. Purbayaberharap ini dapat berlanjut pada bulan-bulan berikut.
"Ini menentukan akselerasi belanja pemerintah, khususnya program prioritas," ujarnya.
Dia memastikan secara keseluruhan APBN berfungsi menjadi penggerak ekonomi dan defisit terkendali. "Kita optimis APBN mendukung momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026," paparnya.
Sebagai catatan, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, defisit APBN tercatat 0,09%, sehingga defisit awal tahun ini lebih tinggi.
Uang Beredar M2 Tumbuh 10%
Sentimen berikutnya datang dari rilis Bank Indonesia yang menunjukkan likuiditas perekonomian masih bertambah. BI mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Januari 2026 mencapai Rp10.117,8 triliun, tumbuh 10% secara tahunan. Angka ini lebih cepat dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,6%.
BI menjelaskan penguatan M2 pada awal tahun ini terutama dipengaruhi dua faktor utama.
"Peningkatan M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit," dikutip dari laporan uang beredar BI per Januari 2026, Senin (23/2/2026).
Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tercatat tumbuh 22,6% secara tahunan, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang 13,6%. Sementara penyaluran kredit pada Januari 2026 tumbuh 10,2% secara tahunan menjadi Rp8.416,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang 9,3%.
Dari sisi dana pihak ketiga, BI mencatat penghimpunan DPK pada Januari 2026 sebesar Rp9.489,2 triliun atau tumbuh 10,8% yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang 10,5%. BI juga mencatat pertumbuhan M2 ditopang oleh uang beredar sempit M1 yang tumbuh 14,9% yoy dan uang kuasi yang tumbuh 5,4% yoy.
Kenaikan uang beredar menunjukkan likuiditas perekonomian bertambah, sehingga ketersediaan dana di sistem keuangan makin besar untuk mendukung transaksi dan aktivitas ekonomi.
Ancaman Baru tarif Trump
Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap negara-negara yang "bermain-main" dengan kesepakatan dagang terbaru, setelah Mahkamah Agung pekan lalu memblokir banyak tarif global luas yang sebelumnya diberlakukan.
Peringatan itu muncul ketika negara-negara di seluruh dunia mengatakan mereka sedang mengevaluasi tarif dan kesepakatan dagang mana yang masih berlaku setelah putusan tersebut, yang membatalkan sebagian besar tarif yang dikenakan Trump tahun lalu.
Uni Eropa pada Senin mengatakan akan menangguhkan ratifikasi kesepakatan yang dicapai pada musim panas lalu.
India juga menyatakan akan menunda pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan untuk memfinalisasi kesepakatan terbaru.
Melalui media sosial, Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menggunakan putusan pengadilan sebagai alasan untuk mundur dari komitmen perdagangan yang dibuat sebagai respons terhadap tarif tahun lalu.
"Negara mana pun yang ingin 'bermain-main' dengan keputusan Mahkamah Agung yang konyol ini-terutama mereka yang telah 'memanfaatkan' AS selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun-akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi, dan lebih buruk, daripada yang baru saja mereka setujui," tulisnya di Truth Social. dikutip dari BBC.
Tarik-uluran ini mencerminkan kekacauan yang terjadi setelah Mahkamah Agung pada Jumat membatalkan tarif yang diumumkan Trump musim semi lalu berdasarkan Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional 1977 (IEEPA).
Pengadilan menyatakan bahwa undang-undang tersebut tidak memberi kewenangan kepada presiden untuk memberlakukan tarif, yang merupakan pajak atas impor yang dibayar oleh perusahaan yang membawa barang masuk ke negara tersebut.
Trump kemudian merespons dengan mengumumkan tarif global baru sebesar 10% menggunakan dasar hukum lain, yang segera ia naikkan menjadi 15%. Kebijakan tersebut-dengan beberapa produk dikecualikan-dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa.
Namun banyak negara mengatakan mereka masih belum jelas mengenai status kesepakatan yang dinegosiasikan setelah tarif awal Trump, ketika banyak negara berupaya mendapatkan tarif lebih rendah atas barang mereka sebagai imbalan janji investasi atau konsesi lain untuk mempermudah perusahaan AS berbisnis di luar negeri.
Inggris pada Senin mengatakan sedang menekan pejabat AS untuk mendapatkan kejelasan apakah kesepakatannya-yang menetapkan tarif 10%, lebih rendah dari tarif 15% yang diumumkan Trump pada Sabtu-akan tetap berlaku.
"Saya menyadari ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pengumuman terbaru dari AS," kata Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris Peter Kyle dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa "semua opsi" terbuka saat Inggris berupaya melindungi pelaku usaha dan masyarakat.
Bernd Lange, Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, mengatakan komite tersebut telah menangguhkan persetujuan atas kesepakatan AS-UE yang disepakati pada Juli sambil menunggu kejelasan.
"Situasinya sekarang lebih tidak pasti dari sebelumnya," katanya.
Gedung Putih menegaskan bahwa pendekatan perdagangan mereka tidak akan berubah akibat putusan tersebut, karena pemerintah beralih ke undang-undang lain untuk memberlakukan tarif.
Pidato Pejabat The Fed
Pejabat Federal Reserve dijadwalkan menyampaikan pandangan terbaru mereka mengenai teknologi, kecerdasan buatan, dan dampaknya terhadap ekonomi dalam dua agenda terpisah hari ini.
Pada pukul 09.15 pagi waktu, Gubernur The Fed Christopher J. Waller akan menyampaikan pidato dalam Technology-Enabled Disruption Conference 2026: Shaping the Future of Finance and Payments yang digelar secara virtual. Fokus pembahasan mencakup transformasi teknologi dan implikasinya terhadap sistem keuangan serta pembayaran.
Selanjutnya pada pukul 09.30 pagi, Gubernur The Fed Lisa D. Cook dijadwalkan mengikuti diskusi mengenai kecerdasan buatan dan produktivitas dalam Konferensi Kebijakan Ekonomi Tahunan National Association for Business Economists (NABE) 2026 di Washington, D.C.
Pernyataan dari kedua pejabat tersebut berpotensi memberikan sinyal baru terkait pandangan The Fed mengenai dampak teknologi dan AI terhadap pertumbuhan ekonomi serta kebijakan moneter ke depan.
Pesanan Manufaktur AS Melambat
esanan baru untuk barang manufaktur di Amerika Serikat turun 0,7% secara bulanan (month-to-month) menjadi US$617,5 miliar pada Desember 2025 (seasonally adjusted), menurut data terbaru. Penurunan ini terjadi setelah bulan sebelumnya mencatat level tertinggi dalam enam bulan di US$621,9 miliar.
Angka tersebut juga sedikit lebih buruk dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 0,5%.
Penurunan terutama dipicu oleh melemahnya pesanan barang tahan lama (durable goods) yang turun 1,4% menjadi US$319,9 miliar. Tekanan terbesar berasal dari sektor peralatan transportasi yang merosot 5,4% menjadi US$113,9 miliar.
Kontributor utama pelemahan ini adalah anjloknya pesanan pesawat non-pertahanan dan suku cadang, yang jatuh tajam 24,8% menjadi US$26,7 miliar.
Meski demikian, tidak semua sektor manufaktur mengalami tekanan. Sejumlah kategori justru mencatat peningkatan pesanan, termasuk komputer dan produk elektronik yang naik 3,1% menjadi US$27,9 miliar. Pesanan mesin (machinery) juga naik 0,5% menjadi US$40,4 miliar.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Sarasehatan 99 Ekonom Syariah Indonesia 2026 "Pengarustamaan Ekonomi Syariah Sebagai Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.
-
Konferensi pers virtual buruh terkait rencana aksi terkait THR, tolak impor 105 ribu pikap India, dan pengesahan RUU Ketenagakerjaan.
-
Menteri Perdagangan bersama Menteri Perhubungan akan melakukan peninjauan produk UMKM lokal yang dijual di jaringan bisnis KAI Services. Peninjauan akan dilanjutkan dengan doorstop. Kegiatan akan dilaksanakan di Pintu Timur VIP Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.
-
Media Briefing Lanjut Bukber Bersama Chandra Asri
-
Keterangan Pers Kemudahan KKPR Darat bagi Usaha Mikro yang akan dihadiri oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Wakil Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Command Center, Lantai 5, Gedung Barli Halim, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan.
- Indeks harga rumah AS
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Pembayaran Dividen Tunai: PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(evw/evw) Add
source on Google Next Article IHSG - Rupiah Hari Ini Diuji Data China, Suku Bunga & Manuver Konglo
Foto: TradingView