MARKET DATA

Daftar Virus Paling Mematikan di Dunia, Ini Dia "Juaranya"

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
22 February 2026 12:00
Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan pemukiman Rusun Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta (8/9/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Pelaksana Tugas(Plt) Kepala Suku Dinas KPKP Suharini Elliawati menjelaskan "pemberian vaksin tersebut untuk menghindari penularan virus rabies kepada manusia, vaksin gratis dan rutin yang sifatnya pengulangan setiap setahun sekali" jelasnya. 

Petugas kesehatan memastikan dalam progran baksinasi ini petygas KPKP harus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 berupa penggunaan masker, sarung tangun untuk pencegahan pemularan Covid-19.  

Penyuntikan vaksin dilakukan secara door to door kelingkungan warga sebagau bentuk pelayanan dan memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagau pemularan rabies di masa PSBB. 

Vaksinasi tersebut digelar selama dua bulan yaitu dibulan Agustus dan September 2020. 

Menurut Adjat Sudrajat (korlap) "Vaksin rabies diberikan kepada hewan penular rabies (HPR) seperti kucing, anjing serta musang. Untuk hari ini Selasa 8 September 2020 ada anjing 21 ekor, 8 ekor yabg telah disuntuk vaksin rabies. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan pemukiman. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko kematian akibat infeksi virus sangat bergantung pada jenis patogennya. Sejumlah virus bisa sangat mematikan dengan tingkat fatalitas tinggi.

Melansir himpunan data Visual Capitalist, di mana virus diurutkan berdasarkan case fatality rate atau persentase pasien yang meninggal dari total kasus, rabies berada di posisi teratas. Begitu gejala klinis muncul, peluang bertahan hidup nyaris tidak ada.

Secara global, rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian setiap tahun. Penularan paling sering terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing. Kasus banyak ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara. Akses terhadap vaksin dan terapi pascapajanan menjadi faktor penentu dalam menekan angka kematian.

Di bawah rabies, terdapat sejumlah virus dengan tingkat fatalitas sangat tinggi meski jumlah kasusnya terbatas. Virus Herpes B mencatat fatalitas sekitar 80% dengan 21 kematian terdokumentasi. Virus Lujo berada pada kisaran yang sama dengan empat kematian yang tercatat. Artinya, skala wabah kecil tidak otomatis berarti dampaknya ringan.

Virus Nipah memiliki tingkat fatalitas 40%-75% dengan sekitar 600 kematian yang pernah dilaporkan. Virus Hendra mencatat fatalitas sekitar 57% dengan empat kematian. Kedua virus ini berkaitan dengan penularan dari hewan ke manusia dan biasanya muncul dalam klaster terbatas.

Kelompok demam berdarah virus juga mendominasi daftar. Ebola dan Marburg masing-masing memiliki tingkat fatalitas sekitar 50%. Ebola telah menyebabkan lebih dari 15.000 kematian secara global, sementara Marburg mencatat lebih dari 470 kematian. Infeksi pada kelompok ini sering berkembang cepat dan berujung pada kegagalan organ.

Influenza burung H5N1 memiliki tingkat fatalitas sekitar 50% pada kasus manusia yang terkonfirmasi, dengan total 477 kematian. Jumlah infeksi manusia memang relatif jarang, namun ketika terjadi, risikonya tinggi.

Crimean-Congo hemorrhagic fever memiliki fatalitas 10-40% dan diperkirakan menyebabkan 1.000-2.000 kematian per tahun. Penyebarannya berkaitan dengan kutu dan hewan ternak di wilayah Afrika dan Eurasia.

MERS-CoV mencatat fatalitas sekitar 36% dengan 959 kematian yang terdokumentasi sejak pertama kali diidentifikasi pada 2012.

Pola asal-usul virus dalam daftar ini relatif seragam. Banyak di antaranya berasal dari hewan seperti kelelawar, hewan pengerat, burung, dan unta. Artinya, pengendalian penyakit pada populasi hewan menjadi komponen penting dalam mencegah lonjakan kasus pada manusia.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)



Most Popular