MARKET DATA
Newsletter

The Fed Sudah Buka Kartu, Kini Giliran BI Tentukan Nasib Pasar

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
19 February 2026 05:55
Gubernur Bank Sentral AS (The Fed)
Foto: Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell (REUTERS/Al Drago)

Perdagangan pasar keuangan pada Kamis hari ini (19/2/2026) akan banyak diwarnai sentimen dari global dan domestik. Mulai dari merespon hasil risalah the Fed pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) semalam sampai menantikan keputusan BI rate hari ini.

Dinamika sentimen dari dalam dan luar negeri pada hari ini akan cukup penting mempengaruhi IHSG dan Rupiah, terutama setelah kemarin data utang luar negeri mengalami kenaikan dan gerak mata uang Garuda kembali terpuruk lagi di hadapan dolar AS.

Setelah The Fed memberi kejelasan soal arah suku bunga melalui risalah FOMC, pasar Indonesia kini menanti keputusan BI hari ini.

Adapun berikut beberapa sentimen yang akan mempengaruhi gerak pasar hari ini:

Data Ekonomi AS

AS merilis sejumlah data kemarin mulai dari pertumbuhan pengajuan kredit perumahan, pesanan barang modal, perkembangan pembangunan rumah, sampai data produksi manufaktur.

Output manufaktur Amerika Serikat naik 0,6% pada Januari 2026, tertinggi sejak Februari 2025 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,4%.

Produksi manufaktur barang tahan lama naik 0,8%, dengan kenaikan di hampir semua industri komponen, termasuk produk mineral non-logam, mesin, komputer dan produk elektronik, dan barang tahan lama lainnya.

Produksi barang tidak tahan lama naik 0,4%, dengan hasil yang beragam. Kenaikan pada kertas, percetakan, bahan kimia, plastik, dan produk karet.

Tingkat utilisasi kapasitas manufaktur naik 0,4 poin persentase menjadi 75,6%, namun masih 2,6 poin persentase di bawah rata-rata jangka panjang (1972-2025).

Pesanan baru barang tahan lama AS turun 1,4% secara bulanan pada Desember 2025, setelah lonjakan 5,4% pada November (direvisi naik). Penurunan ini lebih ringan dari perkiraan analis sebesar 2%.

Penurunan terutama didorong oleh turunnya peralatan transportasi dan pesawat non-pertahanan dan suku cadang.

Pembangunan rumah baru di Amerika Serikat naik 6,2% secara bulanan (month-on-month/mtm) menjadi 1,404 juta unit (disesuaikan secara musiman dalam tingkat tahunan) pada Desember 2025, dari 1,322 juta unit pada November dan jauh di atas perkiraan pasar sebesar 1,33 juta unit.

Kenaikan ini menjadi peningkatan bulanan kedua berturut-turut, mendorong level pembangunan ke titik tertinggi sejak Juli serta melanjutkan pemulihan dari posisi terendah 15 bulan pada Oktober.

Secara keseluruhan tahun 2025, diperkirakan 1.358.700 unit rumah mulai dibangun, turun 0,6% dibanding 2024 dan menjadi penurunan tahunan keempat berturut-turut.

Risalah FOMC Minute

Risalah FOMC pada akhir Januari dirilis Rabu kemarin. Risalah tersebut menggambarkan pembuat kebijakan The Fed semua hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan mereka Februari lalu, tetapi tetap terpecah pendapat mengenai langkah selanjutnya.

Beberapa anggota FOMC terbuka untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, yang lain cenderung mendukung penurunan lebih lanjut jika inflasi menurun seperti yang mereka perkirakan, dan seluruh anggota dewan bergulat dengan implikasi kecerdasan buatan (AI) yang muncul bagi perekonomian.

Perpecahan yang terlihat dalam catatan rapat ketiga terakhir Ketua Fed Jerome Powell sebagai kepala bank sentral AS menggarisbawahi tantangan yang dihadapi mantan Gubernur Fed Kevin Warsh, pilihan Presiden Donald Trump untuk menggantikan Powell pada bulan Mei, dalam meyakinkan kelompok pembuat kebijakan untuk mendukung penurunan suku bunga yang menurut Warsh dan Trump diperlukan.

"Dalam mempertimbangkan prospek kebijakan moneter, beberapa anggota menyatakan bahwa penyesuaian lebih lanjut ke bawah pada kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan jika inflasi turun sesuai dengan ekspektasi mereka," demikian bunyi ringkasan rapat tersebut.

Namun, para anggota rapat berbeda pandangan mengenai arah kebijakan selanjutnya. Para pejabat memperdebatkan apakah fokus utama sebaiknya lebih diarahkan pada penanggulangan inflasi atau pada dukungan terhadap pasar tenaga kerja.

"Sebagian anggota berpendapat bahwa kemungkinan akan tepat untuk menahan suku bunga kebijakan tetap stabil untuk beberapa waktu, sementara Komite secara hati-hati menilai data yang masuk. Sejumlah dari mereka juga menilai bahwa pelonggaran kebijakan tambahan mungkin belum diperlukan sampai terdapat indikasi yang jelas bahwa proses disinflasi benar-benar kembali ke jalurnya," tulis risalah tersebut.

Lebih jauh, beberapa anggota bahkan mempertimbangkan kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga dapat kembali menjadi opsi dan menginginkan pernyataan pasca-rapat lebih mencerminkan "deskripsi dua arah atas keputusan suku bunga Komite di masa depan."

Deskripsi tersebut akan mencerminkan kemungkinan bahwa penyesuaian ke atas pada kisaran target suku bunga federal funds dapat menjadi tepat jika inflasi tetap berada di atas target.

The Fed sebelumnya memangkas suku bunga acuan sebesar total tiga perempat poin persentase melalui pemotongan beruntun pada September, Oktober, dan Desember. Langkah tersebut menempatkan suku bunga utama di kisaran 3,5%-3,75% hingga rapat FOMC Januari 2026.

Para anggota FOMC umumnya memperkirakan inflasi akan menurun sepanjang tahun ini meskipun kecepatan dan waktu penurunannya masih belum pasti.

Mereka juga mencatat dampak tarif terhadap harga dan memperkirakan pengaruh tersebut akan memudar seiring berjalannya waktu.

"Namun sebagian besar peserta memperingatkan bahwa kemajuan menuju target 2% Komite mungkin akan lebih lambat dan tidak merata dibandingkan yang secara umum diperkirakan, serta menilai bahwa risiko inflasi bertahan di atas target Komite secara persisten cukup signifikan," demikian isi dokumen tersebut.

Menanti Keputusan BI Rate Hari Ini

Beralih ke sentimen domestik, pada hari ini pelaku pasar akan menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), mayoritas memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.

BI akan menggelar RDG yang kedua kalinya pada 2026 ini yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu-Kamis (18-19 Februari 2026).

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi semuanya solid dengan seluruhnya memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai keputusan menahan suku bunga menjadi opsi paling realistis di tengah kondisi pasar global yang belum stabil.

"Kemungkinan BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya tensi geopolitik," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia pada Rabu (18/2/2026).

Meski begitu, Juniman menilai BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga ke depan, mengingat tekanan inflasi domestik dinilai relatif rendah.

"Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, pelonggaran suku bunga juga dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi domestik," lanjut Juniman.

Sementara dengan itu, Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas juga menilai arah kebijakan BI kali ini akan sangat bergantung pada prioritas pemerintah dalam menjaga stabilitas rupiah.

Karena itu, Ezaridho memperkirakan BI akan menahan suku bunga pada RDG Februari. Namun, pada Maret peluang pemangkasan suku bunga mulai terbuka, meski tetap akan sangat bergantung pada dinamika pasar ke depan.

Update Utang Luar Negeri Pemerintah

Berikutnya, ada update data dari posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat meningkat menjadi US$431,7 miliar, dari sebelumnya US$427,6 miliar pada triwulan III 2025. Pergerakan ULN ini umumnya berkaitan dengan dinamika nilai tukar rupiah dan pasar obligasi.

Kenaikan ULN terbaru berpotensi memberi tekanan terhadap nilai tukar maupun pasar surat utang, terutama di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih fluktuatif.

Peningkatan ULN terutama berasal dari utang pemerintah yang naik seiring masuknya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN). Posisi utang pemerintah mencapai US$214,3 miliar dan didominasi utang jangka panjang (hampir 100%), sehingga risikonya relatif lebih terkendali.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, serta transportasi.

Di sisi lain, ULN swasta justru sedikit menurun menjadi US$192,8 miliar, terutama karena berkurangnya pinjaman dari perusahaan non-keuangan.

Secara keseluruhan, kondisi ULN Indonesia yang naik menjadi tantangan bagi pasar obligasi dan nilai tukar, tetapi secara struktur masih tergolong sehat, tercermin dari rasio ULN terhadap PDB sebesar 29,9% yang masih dalam batas aman, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 85,7% dari total ULN.

 

(saw/saw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features