MARKET DATA

Ahli Klaim Peradaban China Jauh Lebih Tua dari Perkiraan Orang

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
08 February 2026 20:00
Hanfu Pakaian Adat China
Foto: Hanfu Pakaian Adat China

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah narasi besar yang selama ini mendominasi buku-buku sejarah dunia sedang diguncang. Konsensus global yang meyakini peradaban China berusia sekitar 5.000 tahun kini mendapat tantangan serius dari klaim ilmiah baru yang menyebut usianya jauh lebih tua yaitu 8.000 tahun.

Klaim kontroversial namun berdasar ini datang dari Feng Shi, seorang peneliti senior dan anggota elit Institut Arkeologi di Akademi Ilmu Sosial China (CASS).

Dalam sebuah laporan yang menghebohkan komunitas akademik, Feng mengajukan tesis radikal yang meminta dunia untuk mendefinisikan ulang apa itu "peradaban".

Menggeser Definisi: Dari "Negara" ke "Sains"

Selama puluhan tahun, standar arkeologi yang seringkali dipengaruhi oleh tradisi Marxis menetapkan bahwa sebuah masyarakat baru layak disebut "berperadaban" ketika mereka memiliki struktur negara yang jelas, adanya kelas sosial, dan sistem pemerintahan.

Namun, Feng menolak parameter ini. Menurutnya, tanda sejati dari lahirnya peradaban adalah lonjakan intelektual, khususnya kemampuan manusia menguasai astronomi dan sains demi kelangsungan hidup.

"Diskusi mengenai asal-usul peradaban dan asal-usul negara adalah dua hal yang berbeda," tegas Feng. Ia berargumen bahwa masyarakat China kuno sudah menguasai observasi astronomi yang rumit dan teknik penentuan waktu yang presisi sejak 8.000 tahun lalu.

Penguasaan ini bukan sekadar pengetahuan acak, melainkan basis fundamental bagi masyarakat agraris untuk mengelola panen dan bertahan hidup-sebuah tanda kemajuan peradaban yang tak terbantahkan.

Bukti Peta Bintang Xishuipo

Argumen Feng bukan tanpa bukti fisik. Ia menunjuk pada temuan di situs arkeologi Xishuipo, Provinsi Henan. Di sana, para arkeolog menemukan sisa-sisa peninggalan religius berusia 6.500 tahun yang mencengangkan yaitu formasi kerang yang disusun rapi membentuk pola naga dan harimau di samping kerangka manusia.

Feng meyakini ini adalah bukti fisik tertua dari peta bintang. Keberadaan representasi kosmos yang begitu akurat pada 6.500 tahun lalu mengindikasikan bahwa sistem pengetahuan tersebut tidak muncul tiba-tiba.

Diperlukan ribuan tahun pengamatan dan pewarisan ilmu sebelumnya untuk mencapai tingkat akurasi tersebut, yang secara logis menarik garis waktu peradaban mundur hingga ke angka 8.000 tahun.

Kontroversi Akademis dan Soft Power China

Tentu saja, klaim ini memicu perdebatan panas. Memundurkan sejarah sebanyak 3.000 tahun memiliki implikasi besar, tidak hanya bagi sains tapi juga geopolitik budaya.

Kritikus memperingatkan potensi politisasi sejarah, di mana kriteria "peradaban" diubah secara sewenang-wenang demi memperpanjang umur bangsa China untuk tujuan kebanggaan nasional. Namun, jika teori Feng diterima secara luas, ini akan menjadi kemenangan besar bagi soft power China.

Negeri Tirai Bambu ini tidak hanya akan mengukuhkan statusnya sebagai peradaban tertua yang tak terputus, tetapi juga memposisikan nenek moyang mereka sebagai pionir sains global, jauh melampaui peradaban kuno lainnya seperti Mesir atau Mesopotamia dalam hal astronomi awal.

Terlepas dari pro dan kontra, argumen Feng membuka mata dunia bahwa "peradaban" mungkin bukan hanya soal siapa yang punya raja pertama, tapi siapa yang pertama kali menatap langit dan memahami cara kerja semesta.

Apabila hipotesis Feng Shi mengenai fondasi peradaban China yang berbasis sains dan presisi sejak 8.000 tahun lalu terbukti valid, maka posisi dominan China di panggung dunia saat ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari evolusi intelektual yang panjang.

China Mencengkam Dunia

Kompetensi leluhur China dalam memetakan rasi bintang untuk menjamin produktivitas pertanian, kini telah bertransformasi menjadi penguasaan jalur logistik dan rantai pasok global demi pertumbuhan ekonomi.

Kemampuan analitis untuk membaca pola dan mengantisipasi masa depan-yang dahulu vital untuk musim panen-kini diaplikasikan Beijing dalam memproyeksi tren pasar internasional.

Fokus China telah beralih dari observasi kosmos menjadi ekspansi nyata di berbagai infrastruktur pelabuhan dan pasar strategis dunia. Langkah ini menciptakan tatanan ekonomi baru yang secara signifikan menantang hegemoni kekuatan tradisional seperti Amerika Serikat (AS).

Data visual capitalist, biro statistik AS, dan kantor bea cukai China bahkan membentuk analisis terkait untuk menunjukkan alasan besar China tidak takut dengan Amerika.

peta perdagangan china vs asFoto: Visual Capitalist
Peta Perdagangan China vs AS

Sebagai perbandingan nilai perdagangan AS dengan semua negara pada 2000 tercatat US$ 2 triliun sementara China baru US$ 474 miliar. Pada 2024, nilai perdagangan AS menembus US$ 5,3 triliun tetapi China melonjak hingga US$ 6,2 triliun,

Pada 2000, Tiongkok hanya menjadi mitra dagang utama untuk beberapa negara seperti Kuba, Iran, Libya, Myanmar, Mongolia, Korea Utara, Oman, Sudan, Tanzania, dan Vietnam. Namun, gurita dagang China mengakar ke seluruh negara dalam 20 tahun.

Pada periode 2000-2024, perdagangan AS tumbuh 167% sementara China terbang 1.200%. China menyalip AS sebagai penguasa perdagangan dunia pada 2012.

Nilai perdagangan Indonesia dengan AS pada 2000 sebesar US$ 12,778 miliar sementara pada 2024 sebesar US$ 38,287 atau melesat 200%. Nilai perdagangan Indonesia dengan China pada 2000 tercatat US$ 7,464 miliar tetapi kemudian melesat 1.882,65% pada 2024 menjadi US$ 147,99 miliar.

Selama dua dekade terakhir, China bertransformasi dari pemain regional menjadi kekuatan perdagangan global dengan didukung pertumbuhan ekonomi cepat, integrasi ke dalam rantai pasok global, dan diversifikasi pasar.


-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular