MARKET DATA

Bukan RI! Ini Primadona Investor di ASEAN

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 February 2026 15:15
INFOGRAFIS, Indonesia Jadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia
Foto: Infografis/ ASEAN/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Arus investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment FDI ke lima negara utama ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam menunjukkan pemulihan yang solid dalam enam tahun terakhir.

Berdasarkan data yang dipublikasikan di ASEANstats, setelah turun tajam pada 2020 akibat pandemi Covid-19, total FDI ASEAN melesat pada 2021 dan kemudian konsisten bertahan di atas US$200 miliar sepanjang 2021 hingga 2024.

Pada 2024, FDI ASEAN tercatat US$226,0 miliar, hanya turun tipis dibanding 2023, menandakan kawasan mulai memasuki fase normalisasi setelah rebound besar pascapandemi. Pergeseran ini menegaskan arus modal semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi di kawasan.

Penerima FDI terbesar di antara lima negara utama ASEAN masih didominasi Singapura dengan nilai sekitar US$142,4 miliar pada 2024. Angka ini setara kira kira 63% dari total FDI ASEAN.

Berikutnya penerima investasi langsung asing terbesar adalah Indonesia sekitar US$24,2 miliar dan Vietnam sekitar US$20,2 miliar, lalu Malaysia US$11,4 miliar dan Thailand US$10,6 miliar.

Bagi investor dan pembuat kebijakan, pesannya jelas. FDI ASEAN kini bukan lagi soal pulih atau tidak, melainkan soal rotasi dan selektivitas.

Fokusnya bergeser ke negara mana yang menjadi tujuan utama ketika momentum kawasan mulai melandai. Untuk membaca arah 2025, kuncinya adalah melihat perkembangan per negara, sektor unggulan yang menjadi magnet, serta dari mana sumber investor terbesar datang.

Siapa Primadona Investor di 2025?

Vietnam

Aliran FDI Vietnam pada 2025 tetap solid. Total registered foreign investment mencapai US$38,42 miliar, naik tipis 0,5% dibanding 2024, sementara disbursed FDI diperkirakan US$27,62 miliar, naik 9% dan menjadi level tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Dari sisi sektor, manufaktur dan pengolahan masih menjadi mesin utama. Dari total realisasi FDI, sektor ini menyerap sekitar US$22,88 miliar atau 82,8%. Posisi berikutnya ditempati sektor real estate sebesar US$1,93 miliar, disusul sektor listrik dan gas sekitar US$914,9 juta.

Pada jumlah proyek baru, Vietnam menerbitkan izin untuk 4.054 proyek baru dengan nilai registered capital sekitar US$17,32 miliar.

Jumlah proyek meningkat tajam, namun nilai modal proyek baru justru turun, memberi sinyal tren masuknya proyek berukuran lebih kecil.

Meski begitu, komposisi sektor proyek baru tetap didominasi manufaktur dan pengolahan dengan nilai sekitar US$9,8 miliar atau 56,5% dari investasi baru, diikuti real estate sekitar US$3,67 miliar atau 21,2%.

Dari sisi sumber FDI, daftar teratas pada proyek baru juga cukup jelas. Singapura menempati posisi pertama dengan nilai sekitar US$4,84 miliar atau 27,9% dari total, disusul China sekitar US$3,64 miliar.

Indonesia

Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi (BKPM) untuk FDI 2025 sebesar Rp900,9 triliun atau sekitar US$53,4 miliar, naik tipis 0,1% dibanding tahun sebelumnya, tetapi lajunya melambat tajam dibanding lonjakan 2024. Cerita sektor masih sangat terkait hilirisasi.

Industri logam dasar masih menjadi penerima FDI terbesar sekitar US$14,6 miliar, disusul pertambangan sekitar US$4,7 miliar.

Ini sejalan dengan arah kebijakan penguatan pemrosesan domestik mineral, termasuk pasca pembatasan ekspor bijih nikel dan beberapa mineral lain.

Dari sisi sumber investor, tiga besar adalah Singapura, Hong Kong, dan China.

Hal ini memperlihatkan dua hal. Pertama, Indonesia masih kuat sebagai tujuan investasi berbasis komoditas bernilai tambah, khususnya logam dasar. Kedua, sumber investor Asia tetap dominan, dengan Singapura sering berperan sebagai hub penyaluran modal untuk Indonesia.

Malaysia

hingga kuartal III-2025, Malaysia mencatat approved investments sebesar RM285,2 miliar,  naik 13,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan arus dari investor asing yang menguat. Dari sisi sumber negara, lima besar negara pemberi investasi adalah Singapura, China, Amerika Serikat, British Virgin Islands, dan Jepang.

Dengan kurs saat ini (sekitar US$0,254 per RM) maka FDI yang masuk ke Indonesia mencapai US$72,35 miliar.

Yang membuat Malaysia semakin menarik adalah pergeseran investasi ke pusat data center. Dalam kajian Bank Negara Malaysia (BNM), data center disebut menjadi sumber penting FDI yang menopang ambisi digitalisasi Malaysia. Ekosistem investasi yang kondusif membuat Malaysia semakin agresif menarik investasi asing untuk pembangunan data center, terutama dari penyedia layanan cloud untuk global.

Trennya terlihat jelas dari kapasitas pusat data yang melesat dari 55 MW pada 2019 menjadi 784 MW pada kuartal III-2025, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 55,6%.

Pertumbuhan Kapasitas Data Center MalaysiaFoto: Bank Negara Malaysia (BNM)
Pertumbuhan Kapasitas Data Center Malaysia

Dampaknya terlihat pada perubahan komposisi FDI. Antara 2021 hingga semester I-2025, total investasi data center yang telah disetujui mencapai RM144,4 miliar. Arus ini mengubah arah penerima FDI di Malaysia, karena investasi data center disebut telah melampaui investasi ke indsutri manufaktur sebagai penerima terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan begitu, Malaysia pada 2025 bisa dibaca lewat dua jalur yang saling menguatkan. Di satu sisi, manufaktur tetap penting sebagai basis industri. Di sisi lain, gelombang investasi ke pusat data mendorong sektor jasa bernilai tinggi, memperkuat ekonomi digital, dan menjadikan Malaysia bukan hanya lokasi produksi, tetapi juga infrastruktur kunci untuk komputasi dan layanan cloud di Asia Tenggara.

Thailand

Thailand menunjukkan lonjakan yang sangat kuat pada sisi pengajuan investasi, berdasarkan laporan Badan Investasi Thailand atau Board of Investment BOI. Sepanjang 2025, total pengajuan investasi mencapai 3.370 proyek dengan nilai sekitar 1,87 triliun baht, naik 67% dibanding tahun sebelumnya.

Sementara untuk investasi langsung dalam kerangka BOI, nilainya disebut mencapai sekitar 1,359 triliun baht, naik 66%, dengan 2.421 proyek.

Dari sisi sektor, pendorong utamanya berasal dari infrastruktur digital. Industri digital menjadi kontributor terbesar dengan nilai sekitar 746,198 juta baht, yang banyak ditopang oleh investasi data center. Berikutnya didorong sektor elektronik dan peralatan listrik dengan nilai sekitar 277,645 juta baht, termasuk penguatan rantai produksi papan sirkuit tercetak serta proyek pabrik sel baterai untuk kendaraan listrik.

Thailand sedang membangun posisi sebagai basis manufaktur berteknologi tinggi sekaligus pusat infrastruktur digital, bukan hanya mengandalkan industri otomotif konvensional.

Dari sisi sumber investor, daftar negara teratas mencakup Singapura, Hong Kong, China, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Taiwan, Belanda, Prancis, dan Swiss.

Singapura

Singapura tetap menjadi pusat tujuan FDI di antara negara-negara ASEAN lainnya. Dalam Year in Review Economic Development Board (EDB) untuk 2024, komitmen fixed asset investment tercatat sebesar SGD 13,5 miliar, yang didorong terutama oleh sektor manufaktur, termasuk semikonduktor dan biomedical manufacturing.

Dengan kurs saat ini (sekitar US$0,786 per SGD) maka FDI ke Singapura mencapai US$10,61 miliar.

EDB juga menyebut sumber investasi datang dari beragam negara dari seluruh dunia, dipimpin Amerika Serikat, lalu Eropa dan China. Yang menggarisbawahi posisi Singapura sebagai hub regional bagi perusahaan global.

Di 2025, arah penguatan sektor terlihat dari kebijakan dan proyek yang mendorong dua tema besar, transisi energi dan kapasitas digital.

Salah satunya, Singapura mengalokasikan lahan tambahan di Jurong Island untuk fasilitas energi terbarukan, produksi bahan bakar rendah karbon, serta rencana data centre park terbesar dengan kapasitas daya hingga 700 MW.

Ini selaras bahwa Singapura cenderung menjadi pintu masuk investasi untuk aktivitas bernilai tambah tinggi, dari specialty chemicals, energi rendah karbon, sampai infrastruktur digital, sementara arus FDI regional bisa berputar ke negara lain untuk kapasitas manufaktur dan ekspansi lahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular