Waspada Deretan Saham Ini Masih Rawan Longsor Senin Besok
Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan pergerakan harga emas dunia yang jeblok, saham-saham yang terkait logam mulia di Bursa Efek Indonesia (BEI) potensi koreksi pada pekan depan.
Sebagai catatan, harga emas menutup pekan terakhir Januari 2026 dengan volatilitas ekstrem. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, logam mulia ini justru mengalami aksi jual tajam dan mencatatkan penurunan harian terdalam sejak 1983.
Melansir Refinitiv emas spot ditutup melemah 9,8% di level US$4.864,35 dan sempat anjlok 9,5% ke level US$4.883,62 per troy ounce pada Jumat (30/1/2026), setelah sehari sebelumnya menyentuh puncak US$5.594,82.
Pada Jumat kemarin, harga emas sempat menyentuh US$ 5.450 sebelum harganya dibanting ke posisi terendahnya di US$ 4695,23 sekitar pukul 02.30 WIB
Data LSEG menunjukkan penurunan ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah pencatatan sejak Februari 1983 atau hampir 43 tahun di mana emas ambruk 12,09% sehari.
Koreksi ini terjadi di tengah euforia harga yang sudah terlalu cepat. Sepanjang Januari, emas masih menguat lebih dari 13% dan mencatat kenaikan bulanan keenam berturut-turut.
Ketika harga emas global turun seperti ini, akan cenderung memicu rawan taking profit pada saham-saham emas, apalagi untuk investor yang sudah pegang dari bawah, lebih baik mereka merealisasikan cuan dulu.
Seperti terlihat di bawah ini, sejumlah saham emas pada Jumat lalu sudah turun, bahkan ada yang sampai lebih dari 7% sehari.
Kami menilai risiko penurunan masih akan berlanjut pada Senin besok (2/1/2026), mengingat tekanan jual pada harga emas masih berlanjut.
Suki Cooper, Global Head of Commodities Research di Standard Chartered Bank, menjelaskan pemicu di balik aksi jual tersebut kemungkinan merupakan kombinasi berbagai faktor, mulai dari pengumuman ketua The Fed hingga arus makroekonomi yang lebih luas.
"Baik jika kita melihat pergerakan dolar maupun ekspektasi imbal hasil riil, kombinasi faktor-faktor ini telah memicu aksi ambil untung," ujarnya, dikutip dari Reuters.
Trump menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai pilihannya untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua The Fed pada Mei, sehingga menempatkan sosok yang kerap mengkritik bank sentral tersebut ke posisi kepemimpinan kunci.
Menurut Suki koreksi ini mencerminkan fase ambil untung yang memang sudah lama ditunggu pasar. Ia menjelaskan bahwa kombinasi penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi imbal hasil riil menjadi pemicu utama aksi jual. Indeks dolar AS tercatat naik 0,7%, bangkit dari posisi terendah empat tahun, sehingga membuat emas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli global.
Sentimen kebijakan moneter menjadi kunci perubahan arah harga. Selama reli Januari, emas ditopang spekulasi bahwa Trump akan menunjuk figur dovish yang berpotensi menekan suku bunga lebih agresif.
Nicky Shiels, Head of Metals Strategy MKS PAMP SA kepada BBC, menyebut Januari 2026 sebagai bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia. Ia menilai koreksi masih berpotensi berlanjut hingga level yang lebih sehat secara teknikal. Dalam catatannya, emas di kisaran US$4.600, perak US$80, dan platinum US$2.000 dipandang sebagai target penurunan yang realistis untuk mereset tren bullish jangka menengah.
Meski demikian, secara fundamental emas belum kehilangan daya tariknya.
Ketidakpastian geopolitik masih tinggi, mulai dari eskalasi tensi di Timur Tengah, US Shutdown yang kembali lagi, kebijakan tarif AS terhadap negara pemasok minyak ke Kuba, hingga tekanan lanjutan terhadap Meksiko.
Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global tetap menjadi bantalan struktural, meski laju permintaannya mulai melunak dibanding periode pasca-2022.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)