Kronologi Huru-Hara IHSG Pekan Ini: MSCI, Trading Halt-Bos OJK Mundur
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pasar modal Indonesia baru saja melewati salah satu periode paling kritis dalam sejarah modernnya pada pekan ini (26-30/1/2026).
Sepanjang pekan terakhir bulan Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang luar biasa, yang tidak hanya menggerus kapitalisasi pasar secara signifikan tetapi juga mengguncang kepercayaan investor domestik maupun global.
Apa yang bermula dari sentimen negatif eksternal terkait indeksasi global berkembang cepat menjadi krisis kepercayaan sistemik.
Situasi ini memaksa otoritas pengawas keuangan mengambil langkah-langkah darurat yang belum pernah terjadi sebelumnya, hingga berujung pada perubahan dramatis dalam struktur kepemimpinan tertinggi regulator pasar modal nasional.
Berikut adalah kronologi lengkap peristiwa yang terjadi selama pekan ini, hari demi hari.
Foto: MSCI |
Selasa, 27 Januari 2026: Pemicu Awal dari MSCI
Ketidakpastian pasar bermula ketika MSCI (Morgan Stanley Capital International), penyedia indeks global terkemuka, merilis pengumuman resmi terkait hasil konsultasi pasar mereka untuk sekuritas Indonesia. Dalam dokumen tersebut, MSCI memutuskan untuk memberlakukan status pembekuan (freeze) sementara terhadap seluruh perubahan indeks untuk pasar Indonesia.
Keputusan ini didasari oleh dua temuan utama yang menjadi sorotan tajam investor global. Pertama, MSCI menilai adanya masalah serius terkait transparansi struktur kepemilikan saham yang dinilai belum memenuhi standar keterbukaan internasional.
Kedua, terdapat kekhawatiran mendalam mengenai indikasi "coordinated trading behavior" atau perilaku perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham tertentu. Praktik ini dinilai mendistorsi mekanisme pasar sehingga harga yang terbentuk tidak mencerminkan valuasi yang wajar.
Dampak dari keputusan ini sangat fatal. MSCI menutup pintu bagi penambahan emiten baru ke dalam indeks serta membekukan segala bentuk kenaikan bobot (weighting) saham Indonesia. Bagi investor institusi global, khususnya pengelola dana pasif, status ini merupakan sinyal merah yang memicu penyesuaian portofolio secara otomatis.
Rabu, 28 Januari 2026: Gelombang Aksi Jual dan Trading Halt Pertama
Pasar bereaksi negatif seketika setelah pembukaan perdagangan. Investor asing melakukan aksi jual masif (massive sell-off) yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (Big Caps) di sektor perbankan, telekomunikasi, dan material dasar.
Tekanan jual yang tidak terbendung menyebabkan IHSG terkoreksi sangat dalam melampaui batas toleransi penurunan harian. Kondisi ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengaktifkan protokol krisis dengan memberlakukan penghentian perdagangan sementara (trading halt) selama 30 menit.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit atau trading halt karena IHSG anjlok lebih dari 8% pada pukul 13:43 WIB.
Langkah ini diambil untuk memberikan waktu pendinginan bagi pelaku pasar dan mencegah kepanikan yang lebih meluas. Namun, sentimen negatif yang terlanjur terbentuk membuat indeks gagal bangkit hingga penutupan sesi.
Kamis, 29 Januari 2026: Tekanan Bertubi dan Respons Darurat OJK
Situasi pasar mencapai titik nadir pada hari Kamis akibat kombinasi sentimen negatif tambahan dan eskalasi respons regulator yang memicu trading halt kedua. IHSG mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pagi ini, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 09.24 WIB.
Menanggapi jatuhnya IHSG, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memanggil semua pemangku kepentingan di sektor keuangan.
Hadir dalam rapat Bersama irlangga adalah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa serta CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo serta Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar .
1. Penurunan Peringkat oleh Goldman Sachs
Di tengah kondisi pasar yang rapuh, tekanan bertambah dengan keluarnya riset terbaru dari bank investasi global, Goldman Sachs. Mereka secara resmi memangkas peringkat (downgrade) pasar saham Indonesia dari posisi Overweight menjadi Underweight.
Goldman Sachs menilai bahwa risiko regulasi dan ketidakpastian pasar di Indonesia telah meningkat, sehingga valuasi pasar saat ini dianggap tidak lagi menarik dibandingkan pasar negara berkembang lainnya. Kabar ini memicu gelombang penjualan kedua yang lebih besar, menyebabkan IHSG sempat menyentuh penurunan hingga 10% pada sesi perdagangan, yang kembali memicu mekanisme trading halt untuk kedua kalinya dalam sepekan.
2. Konferensi Pers Darurat dan Komitmen Reformasi
Menyadari situasi yang semakin genting, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) menggelar konferensi pers darurat pada sore harinya. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengumumkan serangkaian langkah konkret untuk menjawab tuntutan transparansi MSCI dan memulihkan integritas pasar:
-
Kenaikan Free Float: OJK mewajibkan emiten untuk meningkatkan porsi saham yang beredar di publik (free float) minimal menjadi 15%, naik dari ketentuan sebelumnya.
-
Transparansi Struktur Kepemilikan: Otoritas berjanji akan mempublikasikan data kepemilikan saham, baik di atas maupun di bawah 5%, secara lebih transparan berdasarkan kategori investor.
-
Pengungkapan Pemilik Manfaat: OJK memerintahkan penyampaian data Pemilik Manfaat Akhir (Ultimate Beneficial Owner) emiten kepada MSCI guna memenuhi standar kepatuhan global.
Foto: Konferensi Pers OJK dan SRO di Gedung BEI, Kamis (29/1/2026). (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini)Konferensi Pers OJK dan SRO di Gedung BEI, Kamis (29/1/2026). (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini) |
Sebagai simbol keseriusan dalam mengawal reformasi ini, Mahendra Siregar juga menyatakan komitmennya untuk berkantor secara fisik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai hari Jumat, guna memantau langsung implementasi kebijakan tersebut.
Jumat, 30 Januari 2026: Pertanggungjawaban Moral Pimpinan Otoritas
Meskipun langkah-langkah perbaikan telah diumumkan, krisis kepercayaan yang terjadi dinilai memerlukan pertanggungjawaban di tingkat tertinggi. Pada hari Jumat, pasar dikejutkan oleh keputusan pengunduran diri tiga pejabat kunci regulator pasar modal secara berturut-turut.
Langkah ini diawali oleh Iman Rachman, yang menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak berselang lama, Inarno Djajadi turut mengundurkan diri dari posisi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK. Puncaknya, Mahendra Siregar secara resmi meletakkan jabatannya sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK, hanya satu hari setelah ia mengumumkan rencana berkantor di bursa.Â
Setelah Mahendra, Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara juga mengundurkan diri pada Jumat malam.
Pengunduran diri massal ini dipandang oleh pelaku pasar sebagai bentuk tanggung jawab moral atas gejolak pasar yang terjadi serta kegagalan dalam menjaga persepsi integritas pasar modal Indonesia di mata investor internasional.
- Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Foto: MSCI
Foto: Konferensi Pers OJK dan SRO di Gedung BEI, Kamis (29/1/2026). (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini)