MARKET DATA

Data Bicara! Puncak Hujan Lebat Jakarta di Februari, Mulai Minggu Ini

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
30 January 2026 16:10
Sejumlah pengendara berteduh saat hujan deras dan angin kencang di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (4/6/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sejumlah pengendara berteduh saat hujan deras dan angin kencang di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (4/6/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Intensitas hujan pada awal 2026 kembali menekan Jakarta dan sekitarnya. Dalam beberapa hari terakhir Januari, hujan lebat hingga ekstrem memicu banjir, gangguan aktivitas, serta keluhan kesehatan warga. Fenomena ini muncul di tengah puncak musim hujan, namun dengan frekuensi dan intensitas yang lebih rapat dibanding kondisi normal.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan hujan lebat awal 2026 memang masih berada dalam koridor monsun Asia. Namun, frekuensi hujan yang tinggi membuat dampaknya terasa lebih luas. "Tingginya intensitas hujan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, memang mengikuti monsun Asia, tetapi frekuensinya cukup intens," ujar Sonni dalam keterangannya, dikutip dari laman IPB University, Jumat (30/1/2026).

Berdasarkan pengamatan citra satelit dan pemantauan cuaca harian, Sonni menyebut ada faktor atmosfer tambahan yang memperkuat hujan monsun. Fenomena tersebut dikenal sebagai Cross Equatorial North Surge (CENS), yakni aliran massa udara dingin dari Laut China Selatan yang melintasi garis khatulistiwa dan masuk ke wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa.

 

Ketika massa udara dingin dan kering bertemu dengan udara tropis yang hangat dan lembap, proses kondensasi meningkat. Pembentukan awan bertambah cepat, intensitas hujan naik, dan suhu udara di dekat permukaan menurun. Menurut Sonni, dinamika ini memperbesar peluang hujan lebat dalam waktu yang berdekatan.

Kondisi awal 2026 ini memiliki kemiripan dengan episode hujan ekstrem pada awal 2020 dan awal 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengolah catatan BMKG menunjukkan Februari 2020 menjadi salah satu periode terbasah dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah wilayah di Pademangan Barat, Jakarta Utara  terpantau dilanda banjir akibat hujan deras, Senin (12/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Sejumlah wilayah di Pademangan Barat, Jakarta Utara terpantau dilanda banjir akibat hujan deras, Senin (12/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Sejumlah wilayah di Pademangan Barat, Jakarta Utara terpantau dilanda banjir akibat hujan deras, Senin (12/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Stasiun Tanjung Priok mencatat Januari-Februari secara konsisten menjadi periode paling basah, di mana Februari adalah yang tertinggi

Pada Februari 2020, curah hujan menembus 784,5 mm, jauh melampaui bulan-bulan lain dalam tahun yang sama. Pola serupa juga muncul pada 2018, 2019, hingga 2023, ketika Februari hampir selalu berada di posisi teratas sebagai bulan dengan intensitas hujan tertinggi.

Gambaran itu bahkan lebih ekstrem di Stasiun Kemayoran. Februari 2020 tercatat mencapai 1.043,2 mm, sebuah angka yang mencerminkan hujan sangat lebat dalam rentang waktu singkat. Dalam konteks perkotaan padat seperti Jakarta, hujan sebesar itu bukan sekadar statistik, melainkan tekanan langsung pada sistem drainase, sungai, dan kawasan permukiman.

Setelah puncak hujan awal tahun, curah hujan cenderung turun tajam. Pada banyak tahun, periode Mei hingga September mencatat angka yang jauh lebih rendah, bahkan mendekati nol di beberapa bulan. Artinya, air hujan  terkonsentrasi pada satu-dua bulan krusial.



Pola historis tersebut memperlihatkan bahwa tekanan hujan di Jakarta sering terkonsentrasi di awal tahun. Januari dan Februari berulang kali mencatat lonjakan tajam, sementara bulan-bulan setelahnya mengalami penurunan signifikan. Distribusi hujan yang timpang ini membuat sistem drainase kota menerima beban besar dalam waktu singkat.

Sonni menambahkan, pada awal 2026 penguatan hujan turut dipengaruhi interaksi monsun Asia dengan CENS serta dinamika atmosfer lain, termasuk keberadaan siklon tropis di tenggara Pulau Jawa yang memengaruhi pergerakan massa udara. Situasi ini memperbesar akumulasi awan hujan di wilayah Jawa bagian barat.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular