Masih Tertekan Aksi Jual, Sampai Level Mana IHSG Mampu Bertahan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berlangsung dramatis. Kendati saat ini indeks berhasil memantul (rebound) ke kisaran level 7.800-an, sebuah sinyal teknikal negatif telah terkonfirmasi yaitu garis rata-rata pergerakan 200 hari (Moving Average/MA 200) di level 8.000 telah resmi ditembus (breakdown).
Untuk melanjutkan rally, angka ini tidak boleh ditembus dan pasar sesegera mungkin harus reclaim level ini agar momentum bullish tetap terjaga untuk melanjutkan rally dan target Menteri Keuangan Purbaya di level 10.000 pada akhir tahun.
Kondisi ini menandakan tren jangka panjang IHSG sedang dalam ancaman serius, meskipun indeks sempat selamat dari kejatuhan lebih dalam pada perdagangan hari ini.
Penurunan ke Level 7.497: 'False Break' yang Menyelamatkan
Penurunan tajam hari ini sempat menyeret IHSG menyentuh level terendah harian (intraday low) di 7.481,99. Posisi ini sedikit menembus ke bawah area support Fibonacci Retracement 0,5 di level 7.497.
Beruntung, pasar merespons dengan cepat. Penurunan di bawah 7.497 tersebut hanya bersifat sementara (false break), dan indeks sukses memantul kembali. Level 7.497 ini terbukti validitasnya sebagai benteng pertahanan historis yang kuat, mengulangi pola yang terjadi pada Agustus 2025, November 2024, dan Agustus 2024.
Pertahanan Terakhir Trendline Jangka Panjang
Namun, investor tidak boleh lengah. Jika skenario terburuk terjadi di mana level Fibonacci 0,618 di 7.111 gagal menahan penurunan, pasar memiliki satu benteng terakhir di level 6.725.
Level 6.725 ini merupakan area yang sangat vital karena merupakan titik pertemuan garis tren (trendline) jangka panjang yang menghubungkan dua peristiwa koreksi besar (major crash) sebelumnya.
Garis ini ditarik dari titik terendah saat kejatuhan pasar pada tahun 2020, yang kemudian dihubungkan dengan titik terendah pada April 2025 saat pasar saham rontok akibat sentimen kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
Oleh karena itu, level 6.725 dianggap sebagai "dinding terakhir" bagi IHSG. Jika level ini sampai tertembus, maka struktur tren kenaikan jangka panjang pasar saham Indonesia dapat dinyatakan patah sepenuhnya.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)