MARKET DATA

Jangan Panik! Begini Strategi Bijak Saat Hadapi Pasar Saham Jeblok

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
29 January 2026 08:45
BUrsa
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok sampai trading halt pada kemarin Rabu (28/1/2026). Lantas, bagaimana strategi yang bijak supaya bisa survive dan bisa tetap cuan di kondisi market yang merah merona?

Sebagai informasi dulu, pada kemarin IHSG dibuka langsung terjun lebih dari 6%. Pelemahan terus melebar sampai sesi pertama berakhir.

Masuk sesi kedua tak berselang lama setelah dibuka, IHSG ambles sampai 8% dan resmi mengalami trading halt selama 30 menit. Setelah penghentian sementara itu, geliat IHSG malah semakin terpuruk sampai turun lagi kisaran 8,6%, meskipun setelah itu berangsur pulih dan berakhir dengan pelemahan 7,35% ke posisi 8.320,56.

Kejatuhan IHSG kemarin ditengarai oleh pengumuman MSCI yang menyebutkan akan menerapkan interim freeze atau pembekuan sementara ke sejumlah indeks review termasuk untuk edisi Februari 2026.

Hal itu menggugurkan ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya berharap beberapa saham bisa masuk ke rebalancing MSCI sebelum diterapkan pengetatan free float pada Mei 2026.

Terkait free float, kini MSCI memberikan waktu sampai Mei 2026 pada regulator (OJK dan BEI) untuk bisa memberikan transparansi data.

Tekanan pasar terlihat merata, tercermin dari 753 saham dari total 910 saham di IHSG yang ditutup melemah pada perdagangan Rabu kemarin, net foreign sell mencapai Rp6,71 triliun. Kondisi ini menunjukkan efek rambatan dari koreksi tajam saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya kelompok konglomerasi.

Lantas, bagaimana strategi bijak yang seharusnya diambil investor?

  1. Jangan Panik

Ketika market jeblok, jangan panik dan buru-buru sell saham kita. Fokus pada menenangkan pikiran dulu supaya bisa berpikir jernih dan mengurai keputusan lebih rasional satu per satu.

Risiko cut loss hanya bisa diambil ketika strategi mengutamakan trading jangka pendek, yang sebelumnya sudah berprinsip pada level Stop Loss (SL) yang sudah ditentukan berdasarkan risiko yang ditoleransi.

Selain itu, saham dengan prinsip fundamental dan fokus untuk hold jangka panjang, sebisa mungkin jangan dijual, karena malah sebaliknya di momen harga turun, kita malah bisa dapat kesempatan untuk beli lagi di harga murah. Opsi average down bisa dilakukan, dengan catatan kombinasikan dengan teknikal, supaya bisa dapat momentum lebih optimal dapat cuan nanti.

   2. Lebih selektif dalam pilih saham

Karena tenggat evaluasi ini sampai Mei 2026, maka dalam jangka pendek kita harus selektif memilih saham dengan fundamental kuat, utamakan saham di luar indeks MSCI.

Bisa juga fokus pada saham yang masih trending untuk watchlist lebih dulu seperti di sektor emas, mengingat harga logam mulia (XAU) lagi-lagi menembus rekor baru menembus US$ 5300 per troy ons.

Selain itu, saham-saham dengan prospek dividen ciamik di luar MSCI juga menarik di lirik, biasanya setelah rilis laporan keuangan mulai akhir bulan ini sampai bulan depan, periode musim dividen akan dimulai lagi sekitar April 2026.

Jadi, momentum turun-nya harga sekarang, bisa dimanfaatkan beli saham dividen untuk dapat yield lebih tinggi.

       3.Sabar! Tunggu tekanan jual mereda

Ketika banyak saham turun, mata kita menuju saham murah dan fundamental menarik, sekilas rasa-nya jadi ingin beli.

Tapi, kita harus hati-hati karena tekanan jual yang tinggi, tak menutup kemungkinan masih bisa berlanjut, jadi untuk beli saham lagi tunggu dulu sampai tekanan jual mereda.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw)



Most Popular