Lobster RI Tersisih dari Meja Makan China, Berkah Imlek Memudar
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Setiap Tahun Baru Imlek, meja makan di China selalu penuh simbol. Ikan utuh untuk kelimpahan, pangsit untuk rezeki, mi panjang umur, dan satu hidangan yang jarang dibahas lobster.
Dalam dialek Kanton, pelafalan lobster diasosiasikan dengan "kenaikan" dan "pertumbuhan", menjadikannya simbol kemakmuran.
Perdagangan lobster Indonesia pada 2025 bergerak berlawanan dengan semangat perayaan. Berdasarkan data ekspor HS 6 030611 (lobster dan sea crawfish beku), total ekspor Januari-November 2025 tercatat US$ 5,188 juta, turun 17,14% secara tahunan.
Penyusutan ini terjadi di tengah posisi lobster sebagai komoditas bernilai tinggi, sensitif terhadap regulasi, dan sangat tergantung pada pasar premium.
Melansir dari satu data Kemendag, struktur pasar lobster Indonesia pada 2025 menunjukkan Amerika Serikat memimpin sebagai tujuan utama dengan nilai ekspor US$ 1,71 juta, disusul Australia US$ 1,40 juta.
Dua negara ini menyerap lebih dari separuh total ekspor.
Di bawahnya, Singapura (US$ 0,48 juta) berfungsi sebagai hub distribusi regional, sementara Jepang dan Taiwan tetap konsisten sebagai pasar tradisional Asia Timur. China berada di peringkat ketujuh dengan nilai US$ 0,17 juta, di bawah Uni Emirat Arab dan hanya sedikit di atas Malaysia.
Ini menarik, mengingat posisi China sebagai salah satu pasar konsumsi lobster terbesar dunia
China sejak 2020 memperketat jalur impor produk perikanan hidup dan beku, sekaligus mendorong substitusi pasokan dari negara yang memiliki kepastian volume dan rantai dingin kuat.
Lonjakan 2024 lebih mencerminkan efek low base dan pembukaan sementara jalur dagang, bukan perubahan struktural.
Ketika konsistensi pasokan tidak terjaga, China cepat beralih. Pasar ini sangat cair, efisien, dan tidak menunggu.
Dengan China yang fluktuatif dan pasar utama bergantung pada negara maju, lobster Indonesia saat ini berada di posisi rentan. Ketergantungan pada AS dan Australia membuat ekspor sensitif terhadap harga, standar kualitas, dan isu keberlanjutan.
Di sisi lain, absennya posisi kuat di China membuat Indonesia kehilangan momentum di pasar yang justru mengalami lonjakan konsumsi saat Imlek periode dengan willingness to pay tertinggi.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)