MARKET DATA

Mata Uang Malaysia & Singapura Adu Digdaya di ASEAN, Rupiah Apa Kabar?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 January 2026 11:15
Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak
Foto: Infografis/ Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dua mata uang negara tetangga RI, dolar Singapura dan ringgit Malaysia tengah terapresiasi hingga mencetak level terkuatnya dalam beberapa waktu terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kedua nilai tukar tersebut terpantau sedang dalam tren penguatan terhadap greenback dalam beberapa waktu belakangan ini, seiring dengan tekanan jual yang tengah terjadi pada indeks dolar AS (DXY).

Dolar Singapura (SGD)

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Senin (26/1/2026) pukul 10.00 WIB, dolar Singapura menguat 0,30% ke level SGD 1,2676/US$, sekaligus menjadi level terkuat sejak 24 September 2014 atau lebih dari 11 tahun.

Penguatan ini melanjutkan tren positif pada perdagangan sebelumnya, Jumat (23/1/2026), ketika SGD ditutup menguat tajam 0,73% ke posisi SGD 1,2713/US$.

Secara year-to-date (ytd), dolar Singapura telah terapresiasi 1,39% terhadap greenback, mengindikasikan meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi SGD sejak awal 2026.

Ringgit Malaysia (MYR)

Mata uang Ringgit Malaysia pun tak mau kalah dari penguatan SGD. Pada waktu yang sama, ringgit menguat bahkan jauh lebih tinggi yakni sebesar 0,87% atau terapresiasi ke level US$ 3,968/US$ yang sekaligus mencatatkan level terkuat ringgit sejak 22 Mei 2018 atau hampir dalam delapan tahun terakhir.


Sama seperti dolar Singapura, penguatan ringgit Malaysia pada perdagangan Senin (26/1/2026) sekaligus melanjutkan apresiasi yang terjadi pada perdagangan terakhirnya, Jumat (23/1/2026) ketika ringgit ditutup menguat 0,87% ke level MYR 4,003/US$.

Secara year-to-date pun ringgit berhasil menguat lebih besar lagi yakni hingga 2,17% terhadap greenback.

Dolar AS Tertekan, DXY Turun Tajam

Penguatan kedua mata uang negara tetangga RI ini tak lepas dari pelemahan indeks dolar AS.

DXY atau indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ini tengah mengalami aksi jual yang cukup masif seiring ketegangan geopolitik yang membuat investor lebih waspada dan kembali menghidupkan narasi "Sell America" yang sempat mengemuka setelah gelombang tarif "Liberation Day" tahun lalu.

Sebagai catatan, DXY mengalami pelemahan sebesar 0,77% ke level 97,599 pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) dan menjadi penurunan harian tertajam nya dalam enam bulan terakhir atau sejak Agustus 2025.

Sentimen global pun masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Trump pada pekan lalu sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyebut ada kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.

Pergeseran sikap yang cepat ini membuat pelaku pasar menilai risiko kebijakan AS masih tinggi, sehingga tekanan terhadap dolar berlanjut dan pada akhirnya membuka ruang mata uang negara lain termasuk emerging markets untuk mengalami penguatan.

Bagaimana dengan Rupiah?

Berbeda dengan dolar Singapura dan ringgit, rupiah sempat berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS dan hampir menembus level psikologis Rp17.000/US$ pada awal pekan lalu (20/1/2026).

Namun, rupiah mulai membaik. Pada Senin (26/1/2026) per pukul 10.24 WIB, rupiah menguat 0,21% ke posisi Rp16.775/US$. Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan terakhir, Jumat (23/1/2026), ketika rupiah ditutup menguat 0,41% di level Rp16.810/US$.

Kondisi ini mengindikasikan rupiah mulai mencoba keluar dari tekanan dolar AS yang telah berlangsung sejak akhir 2025 dan berlanjut hingga awal tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular