MARKET DATA

Reformasi Besar Singapura: Bursa Disuntik Rp60 T Hidupkan Saham Gurem

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
26 January 2026 07:13
SGX: Bursa Singapore (Youtube/SGXChannel)
Foto: SGX: Bursa Singapore (Youtube/SGXChannel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Keuangan Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) secara resmi memulai langkah strategis untuk merombak struktur pasar modal domestik mereka.

MAS mulai menyalurkan tahap pertama dari paket stimulus jumbo senilai total S$ 5 miliar (setara US$ 3,9 miliar atau Rp 65,75 triliun) yang disiapkan untuk menghidupkan kembali bursa saham lokal.

Kebijakan ini diambil guna memperkuat momentum pemulihan pasar saham Singapura serta mengatasi masalah likuiditas yang membuat bursa negara tersebut tertinggal dibandingkan rekan-rekannya di kawasan Asia.

Penyaluran Tahap Awal Senilai Rp 14,46 Triliun

Sebagai langkah pembuka dalam program Equity Market Development Programme (EQDP), MAS telah mengucurkan dana sebesar S$ 1,1 miliar (sekitar Rp 14,46 triliun). Pengelolaan dana ini dimandatkan kepada tiga manajer investasi institusional terkemuka, yakni:

  1. JPMorgan Asset Management

  2. Avanda Investment Management Pte (didukung oleh Temasek Holdings Pte.)

  3. Fullerton Fund Management Co.

Ketiga institusi ini akan menggunakan dana pemerintah sebagai modal dasar untuk meluncurkan produk investasi baru yang berfokus pada emiten yang melantai di Bursa Singapura (SGX). Harapannya, keberadaan dana pemerintah ini akan memancing masuknya modal komersial dari investor institusi maupun ritel lainnya.

"Ini adalah momentum yang tepat bagi kami untuk melakukan langkah ini di Singapura. Agar kebijakan seperti ini berhasil, diperlukan dukungan pasar yang kuat, dan saat ini sentimen positif sedang berhembus ke pasar Asia," ujar Ng Kok Song, mitra pendiri Avanda.

Fokus Strategis: Mengangkat Saham Lapis Kedua

Program stimulus ini memiliki target spesifik untuk mengatasi ketimpangan kinerja antar sektor di pasar saham Singapura.

Sepanjang tahun 2025, indeks acuan Straits Times Index (STI) mencatat kenaikan impresif sebesar 22,71%, kinerja tahunan terbaik dalam 16 tahun terakhir. Namun, reli tersebut mayoritas didorong oleh saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan. Di sisi lain, saham berkapitalisasi kecil dan menengah justru tertinggal dan mengalami tekanan likuiditas.

Oleh karena itu, EQDP memberikan mandat kepada para manajer investasi untuk memprioritaskan alokasi dana ke sektor yang belum optimal ini. Berikut rincian strategi investasi mereka:

  • Avanda Investment Management: Meluncurkan Avanda Singapore Discovery Fund pada bulan Oktober lalu. Dana ini menargetkan alokasi 50% portofolio pada perusahaan berkapitalisasi kecil hingga menengah. Avanda menetapkan target imbal hasil absolut hingga 15% dalam jangka waktu lima tahun.

  • Fullerton Fund Management: Melalui Singapore Value-Up Fund, Fullerton menargetkan alokasi 30% asetnya ke saham small-mid caps. Meski demikian, mereka tetap menjaga fleksibilitas berdasarkan likuiditas pasar. Saat ini, kepemilikan terbesar mereka masih berada di saham berkapitalisasi besar seperti DBS Group Holdings Ltd., dengan batasan kepemilikan maksimum 22% pada satu saham.

  • JPMorgan Asset Management: Menerapkan strategi diversifikasi hibrida. Mereka mengalokasikan setengah dari dananya untuk ekuitas lokal small-mid caps Singapura dan setengah sisanya untuk pasar Asia di luar Jepang. Changqi Ong, pengelola dana JPMorgan, menilai valuasi saham non-unggulan di Singapura saat ini sangat menarik karena belum mengalami apresiasi harga yang signifikan.

Reformasi Struktural dan Tantangan Likuiditas

Langkah Singapura ini dinilai mengadopsi keberhasilan reformasi pasar modal yang telah dilakukan oleh Jepang, Korea Selatan, dan India. Pemerintah setempat menyadari bahwa tanpa intervensi struktural, Bursa Singapura berisiko kehilangan daya saing global.

Data menunjukkan ketimpangan likuiditas yang nyata. Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Singapura (SGX) hanya berada di kisaran S$ 1,5 miliar (Rp 19,7 triliun).

Angka ini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan bursa regional utama lainnya yaitu Bursa Hong Kong yang mencapai US$ 32 miliar dan Bursa India yang mencapai nilai transaksi US$ 14 miliar.

Untuk mengatasi hal tersebut, selain suntikan dana, SGX juga berencana mereformasi aturan perdagangan. Salah satunya adalah rencana pemangkasan ukuran lot saham untuk sekuritas dengan harga di atas S$ 10, dari sebelumnya 100 unit menjadi hanya 10 unit per lot. Tujuannya adalah membuat saham-saham bernilai tinggi menjadi lebih terjangkau bagi investor ritel.

Antara Optimisme dan Realitas

Meskipun pemerintah telah turun tangan secara agresif, respons pelaku pasar masih terbelah. Gerard Lee, Chairman Arabesque AI Ltd unit Singapura sekaligus veteran industri investasi, menilai dampak kebijakan ini mungkin terbatas dalam jangka panjang.

"Pasar Singapura mungkin mengalami penemuan kembali berkat program MAS ini, namun tidak akan ada euforia berlebih. Skenario terbaiknya, pasar hanya akan mencapai tingkat kestabilan baru setelah ini," ungkap Lee.

Senada dengan itu, survei Asosiasi Manajemen Investasi Singapura terhadap 60 manajer investasi global menunjukkan sikap hati-hati. Hanya 7% responden yang yakin indeks STI akan naik lebih dari 10% tahun ini.

Mayoritas responden justru memprediksi kenaikan moderat di kisaran 5-10% hingga akhir 2026, dan lebih memilih menaruh harapan pada indeks S&P 500 di Amerika Serikat.

Namun, Shawn Ang dari Fullerton tetap optimistis pada fundamental dasar pasar. "Imbal hasil akan melahirkan likuiditas. Ketika imbal hasil tercipta, itu akan menarik lebih banyak penawaran umum perdana (IPO) masuk ke pasar secara alami," ucapnya.

Kepala Pengembangan Pasar Modal SGX, Chan Kum Kong, menambahkan bahwa EQDP adalah katalis penting, namun momentum ini harus dijaga dengan inisiatif lanjutan, termasuk program "value unlock" untuk meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham secara berkelanjutan.

Pembukaan perdagangan bursa efek Indonesi tahun 2026, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Pembukaan perdagangan bursa efek Indonesi tahun 2026, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Kontras dengan Indonesia: Dominasi Ritel & Efek MSCI

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Pasar saham domestik justru sedang didorong oleh lonjakan saham small-mid caps yang berlomba meniru strategi ekspansi Prajogo Pangestu pasca-Covid. Tujuannya jelas yaitu mendongkrak kapitalisasi pasar agar masuk radar passive fund global seperti MSCI.

Ditambah lagi, dominasi investor ritel yang kini menguasai 50% nilai transaksi mencerminkan karakter pasar yang agresif, berbeda dengan Singapura. Namun, Menteri Keuangan RI menilai tren kenaikan saham small-mid caps ini kurang berkelanjutan mengingat dibandingkan pasar negara maju seperti Singapura dan Amerika yang lebih fokus investasi di Indeks dan emiten big caps.

Merespons risiko ini, Kementerian Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) kini gencar mengarahkan investor untuk kembali melirik emiten big caps seperti perbankan, konsumer, dan tambang-yang memiliki fundamental kuat namun valuasinya masih tergolong sangat murah (undervalued).

Langkah ini mendesak dilakukan karena ketidakstabilan akibat overleverage membuat pasar rawan guncangan. Sejumlah analis bahkan memperingatkan, tanpa topangan dari saham-saham konglomerasi yang marak saat ini, level wajar IHSG diprediksi sebenarnya hanya berada di kisaran 6.000-an.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular