MARKET DATA
RI Waspada Bencana Megathrust

Megathrust Meledak, Ini Daerah RI Rawan Digulung Tsunami-Gempa Dahsyat

Maesaroh,  CNBC Indonesia
28 February 2026 09:30
Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis  off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)
Foto: Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia berada di salah satu kawasan dengan aktivitas gempa paling intens di dunia. Secara geografis, Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), suatu kawasan yang menjadi pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Kondisi ini membuat gempa bumi termasuk gempa megathrust menjadi risiko nyata yang dihadapi Indonesia.

Melansir National Geographic, Ring of Fire merupakan rangkaian gunung berapi dan lokasi aktivitas seismik di sekitar tepi Samudra Pasifik. Kawasan ini memiliki sekitar 75% gunung berapi aktif di bumi dan merupakan tempat terjadinya 90% gempa bumi yang terukur.

Terlepas dari namanya, Ring of Fire tidak benar-benar berbentuk cincin yang melingkar, melainkan lebih menyerupai tapal kuda dengan panjang sekitar 25.000 mil atau 40.000 kilometer. Rangkaian gunung berapi ini membentang dari selatan Chili, menyusuri pantai barat Amerika, melewati kepulauan di lepas Alaska, hingga Jepang dan Filipina.

Ring of Fire terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik, yaitu potongan besar kerak bumi yang saling terkait seperti potongan puzzle. Lempeng-lempeng ini bergerak di atas lapisan batuan padat dan cair yang disebut mantel, terkadang bertabrakan, menjauh, atau bergeser satu sama lain. Sebagian besar aktivitas tektonik di Ring of Fire terjadi di zona-zona yang secara geologis sangat aktif.

Pergerakan lempeng tektonik tersebut dapat memicu terjadinya gempa bumi. Ketika satu lempeng terdorong masuk ke bawah lempeng lain, terjadi tekanan serta gesekan antar lempeng-lempeng tersebut. Gesekan lempeng-lempeng tersebutlah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi.

Aktivitas lempeng tektonik di kawasan Ring of Fire kerap menimbulkan gempa besar yang pernah tercatat dalam sejarah, termasuk gempa megathrust.

Gempa megathrust merupakan jenis gempa bumi berskala besar yang terjadi akibat pergerakan lempeng di zona subduksi. Umumnya, gempa ini terjadi ketika lempeng samudra yang lebih padat menyusup ke bawah lempeng benua yang lebih ringan. Dengan kekuatan guncangan yang dahsyat, gempa megathrust dapat menimbulkan risiko tsunami besar.

Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017, Indonesia memiliki 13 segmen megathrust utama (diperbarui menjadi 14) yang berpotensi menimbulkan peristiwa seismik signifikan. Masing-masing segmen megathrust memiliki magnitudo yang berbeda yang memicu aktivitas gempa bumi yang beragam.

Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis  off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)Foto: Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)
Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

Berikut adalah 13 segmen megathrust di Indonesia

Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi gempa M9.2

Segmen ini terletak di wilayah Aceh dan Andaman, dengan potensi magnitudo gempa hingga 9,2. Data historis menunjukkan bahwa gempa bumi besar jarang terjadi di wilayah ini. Namun hal ini bukan berarti risikonya hilang, karena proses tektonik yang terus berlangsung memunculkan potensi aktivitas seismik yang signifikan.

Megathrust Nias - Simeulue dengan potensi gempa M8.7

Segmen Nias-Simeulue yang Terletak di lepas pantai barat Sumatra memiliki potensi besar menghasilkan gempa megathrust. Segmen ini dikenal karena sejarah peristiwa seismik dahsyat, termasuk gempa bumi besar yang terjadi pada tahun 2005 dan 2006.

Megathrust Batu dengan potensi gempa M7.8

Segmen Batu juga yang memiliki potensi besar menghasilkan gempa megathrust. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan menunjukkan bahwa segmen ini memiliki kemungkinan untuk melepaskan energi seismik dahsyat yang memicu tsunami besar. Selain itu, segmen megathrust Batu telah lama tidak mengalami pelepasan energi besar, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan potensi gempa megathrust di masa depan.

Megathrust Mentawai - Siberut dengan potensi gempa M8.9

Segmen megathrust Mentawai-Siberut memiliki panjang sekitar 200 km dan lebar 200 km. Dengan laju pergeseran hingga 4 cm per tahun, segmen ini menunjukkan akumulasi energi seismik yang berpotensi menghasilkan gempa bumi besar. Sejarah mencatat telah terjadi gempa megathrust di wilayah ini pada tahun 1797 dengan magnitudo 8,7 dan tahun 1833 dengan magnitudo 8,9.

Megathrust Mentawai - Pagai dengan potensi gempa 8.9

Segmen megathrust Mentawai-Pagai yang terletak di lepas pantai barat Sumatra ini berpotensi menghasilkan gempa bumi besar dengan magnitudo maksimum hingga 8,9. Dengan kekuatan tersebut, gempa yang terjadi di kawasan ini bahkan berpotensi menyebabkan tsunami besar.

Megathrust Enggano dengan potensi gempa M8.4

Segmen megathrust Enggano memiliki potensi menimbulkan gempa dengan magnitudo maksimum hingga 8,4. BMKG mengidentifikasi Enggano sebagai bagian dari celah seismik, yang berarti bahwa segmen ini belum mengalami pelepasan energi seismik besar untuk waktu yang lama, sehingga meningkatkan risiko gempa bumi megathrust di masa depan.

Megathrust Selat Sunda - Banten dengan potensi gempa M8.7

Segmen megathrust Selat Sunda terletak di antara pulau Sumatra dan Jawa. Segmen ini dianggap sebagai zona celah seismik yang berpotensi menghasilkan gempa bumi besar. Catatan sejarah memperlihatkan bahwa wilayah ini telah lama tidak mengalami gempa besar, dengan kejadian gempa terakhir tercatat pada tahun 1757.

Megathrust Jawa Barat - Jawa Tengah dengan potensi gempa M8.7

Segmen megathrust Jawa Barat - Jawa Tengah terletak di sepanjang pantai selatan Jawa. Penelitian menunjukkan bahwa segmen ini berpotensi menghasilkan gempa bumi besar dengan magnitudo maksimum mencapai 8,7, hingga dapat memicu tsunami. Menurut BMKG, wilayah ini tergolong sebagai zona celah seismik yang belum mengalami pelepasan energi seismik besar selama ratusan tahun, sehingga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya gempa megathrust di masa depan.

Megathrust Jawa Timur dengan potensi gempa M8.7

Segmen megathrust Jawa Timur terletak di sepanjang pantai selatan Jawa Timur. Segmen ini memiliki panjang sekitar 440 km dan lebar 200 km, dengan laju pergeseran hingga 4 cm per tahun yang menunjukkan akumulasi energi seismik yang signifikan. Wilayah ini pernah mengalami gempa besar pada 1994 dengan magnitudo 7,8. BMKG menilai kondisi tersebut menimbulkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa megathrust yang dapat memicu tsunami, terutama karena segmen ini menjadi bagian dari sistem subduksi aktif yang lebih luas.

Megathrust Sumba dengan potensi gempa M8.5

Segmen megathrust Sumba (M8.5) berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo maksimum hingga 8,5. Seperti beberapa segmen lainnya, kawasan ini telah lama tidak mengalami gempa besar. BMKG menilai kondisi ini sebagai celah seismik yang berpotensi memicu gempa megathrust di masa depan.

Megathrust Sulawesi Utara dengan potensi gempa M8.5

Segmen megathrust Sulawesi Utara (M8.5) terletak di sepanjang pantai utara Sulawesi. Segmen ini memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum hingga 8,5 dan dinilai berisiko tinggi karena mampu menghasilkan gempa besar yang berpotensi menimbulkan tsunami. Menurut BMKG, wilayah Sulawesi Utara berada di zona subduksi aktif yang dalam waktu lama belum mengalami pelepasan energi seismik signifikan, sehingga berpotensi memicu gempa megathrust di masa mendatang.

Megathrust Lempeng Laut Filipina dengan potensi gempa M8.2

Segmen megathrust Lempeng Laut Filipina terletak di wilayah timur laut yang berdekatan dengan Filipina. Dengan potensi gempa dengan magnitudo maksimum hingga 8,2, segmen ini menjadi perhatian utama dalam penilaian risiko seismik. Apalagi mengingat sejarah seismiknya yang menunjukkan akumulasi energi yang belum dilepaskan secara signifikan, yang berpotensi menimbulkan gempa dahsyat di masa mendatang.

Megathrust Papua dengan potensi gempa M8.7

Segmen megathrust Papua Utara terletak di sepanjang pantai utara Papua. Segmen ini memiliki potensi gempa dengan magnitudo mencapai 8,7, dan merupakan zona subduksi aktif yang menyimpan akumulasi energi seismik dan berpotensi memicu gempa besar serta tsunami.

Sejarah mencatat bahwa kawasan-kawasan tersebut telah berulang kali mengalami gempa besar. Gempa di beberapa kawasan seperti segmen megathrust Aceh-Andaman dan Nias-Simeulue bahkan berisiko memicu tsunami dahsyat.

Laporan terbaru dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mengungkap adanya segmen megathrust baru, yakni zona megathrust Palung Cotabato. Meski secara geografis berada di wilayah Filipina, zona ini tetap dikategorikan sebagai sumber gempa karena lokasinya yang berdekatan dengan Kepulauan Talaud di Indonesia bagian utara. Segmen megathrust Palung Cotabato diperkirakan memiliki potensi magnitudo maksimum hingga 8,3.

Salah satu sumber gempa utama di Indonesia adalah Megathrust Jawa. Kawasan ini adalah batas lempeng aktif tempat Lempeng Australia menunjam ke bawah Lempeng Asia Tenggara dengan laju sekitar 68 milimeter per tahun. Proses subduksi tersebut menjadikan wilayah ini rawan gempa megathrust besar dengan magnitudo di atas Mw 8.

Sejumlah peristiwa besar telah tercatat sejarah, seperti gempa Mw 7,9 pada 1994 dan gempa Pangandaran Mw 7,8 pada 2006, yang keduanya memicu tsunami dahsyat di pesisir selatan Pulau Jawa. Selain itu, catatan historis juga menunjukkan kejadian gempa dan tsunami besar lainnya, seperti gempa tahun 1921 (M 7,5) dan 2006 (M 7,7).

Selain catatan sejarah gempa besar, perhatian para peneliti juga tertuju pada keberadaan celah seismik (seismic gap) di sejumlah segmen megathrust di Indonesia.

Di selatan Jawa, terdapat bagian zona subduksi yang relatif lama tidak mengalami gempa besar, sehingga memunculkan kekhawatiran akan potensi terjadinya gempa megathrust di masa depan. Minimnya aktivitas seismik signifikan di wilayah ini dapat mengindikasikan akumulasi tekanan tektonik yang belum dilepaskan dan berpotensi memicu gempa besar.

Fenomena serupa juga ditemukan di Sumatra. Salah satunya adalah di segmen Mentawai-Siberut, yang tercatat mengalami celah seismik selama sekitar 227 tahun. Kondisi ini memperkuat dugaan adanya penumpukan energi tektonik yang dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar.

Keberadaan celah-celah seismik tersebut menegaskan pentingnya pemantauan dan penelitian berkelanjutan, sekaligus penguatan strategi mitigasi guna meminimalkan risiko dan dampak gempa megathrust bagi masyarakat di wilayah rawan.

Catatan Penutup:

Tulisan ini adalah skenario ilmiah berbasis pemodelan, dengan skenario terburuk, bukan prediksi waktu kejadiannya. Tujuan utama tulisan adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi, bukan untuk menimbulkan kepanikan.

(mae/wur) Add as a preferred
source on Google



Most Popular