MARKET DATA

Lonjakan Usia Harapan Hidup Global Sejak 1965, Siapa Paling Melaju?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
11 January 2026 06:00
Monks carry a wooden box outside a Buddhist monastery in Dratshang, Bhutan, Sunday, April 21, 2013. Known by its people as the Land of the Thunder Dragon, Bhutan's snowcapped peaks and mountainside monasteries have long intrigued Westerners in search of a Buddhist nirvana. (AP Photo/Anupam Nath)
Foto: Biksu di Dratshang, Buthan pada 21 April 2013 (AP Photo/Anupam Nath)

Jakarta, CNBC Indonesia- Usia harapan hidup global naik signifikan dalam enam dekade terakhir. Pada 1965, rata-rata dunia berada di kisaran 54 tahun.

Kini, pada 2025, angka ini bertambah sekitar 20 tahun. Sayangnya, agregat global menyamarkan kenyataan penting, sebagian kecil negara mencatat lompatan jauh lebih besar dibanding rata-rata dunia, sementara negara maju hanya mencatat kenaikan terbatas .

Data Our World in Data dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan adanya ketimpangan kecepatan peningkatan usia harapan hidup antarnegara sejak 1965. Beberapa negara menambah lebih dari tiga dekade usia hidup rata-rata penduduknya, sebuah perubahan struktural dalam profil kesehatan dan pembangunan manusia.

Maladewa menjadi kasus paling ekstrem. Usia harapan hidup di negara kepulauan ini naik 41 tahun dalam periode 1965-2025, mencapai 82 tahun pada 2025.

Oman menyusul dengan kenaikan 40 tahun menjadi 81 tahun. Bhutan, Aljazair, Yaman, dan Timor-Leste mencatat kenaikan di atas 30 tahun.

Afghanistan, meski menghadapi konflik berkepanjangan, tetap mencatat tambahan 32 tahun usia harapan hidup sejak 1965 .

Sebagai pembanding, Amerika Serikat hanya menambah sekitar sembilan tahun usia harapan hidup dalam periode yang sama. Artinya, percepatan terbesar justru terjadi di negara-negara yang pada 1960-an berada pada titik awal sangat rendah.



An aerial view shows a resort island at the Male Atoll December 7, 2009. REUTERS/Reinhard Krause/File photoFoto: REUTERS/Reinhard Krause/File photo
An aerial view shows a resort island at the Male Atoll December 7, 2009. REUTERS/Reinhard Krause/File photo

Lonjakan besar ini tidak terjadi secara acak. Negara-negara dengan kenaikan tertinggi memiliki titik awal yang sangat rendah pada 1965, umumnya di bawah 45 tahun.

Dalam kondisi tersebut, perbaikan dasar memberikan efek marginal yang besar terhadap angka harapan hidup.

Mekanisme utama yang tercermin dalam data adalah penurunan tajam angka kematian bayi dan anak, ekspansi layanan kesehatan dasar, serta peningkatan sanitasi dan akses air bersih. Di Asia, termasuk Maladewa, Afghanistan, dan India, transformasi ekonomi dan sistem kesehatan menghasilkan perpanjangan usia hidup yang konsisten dari tahun ke tahun.

China, misalnya, mencatat kenaikan 26 tahun sejak 1965, setara dengan tambahan rata-rata sekitar 22 minggu usia harapan hidup setiap tahun selama periode transformasi ekonominya.

Di Afrika, Aljazair menonjol dengan kenaikan 34 tahun hingga mencapai 77 tahun pada 2025, tertinggi di kawasan tersebut. Secara keseluruhan, sembilan negara Afrika menambah setidaknya 27 tahun usia harapan hidup dalam enam dekade terakhir.

Peningkatan cepat usia harapan hidup mengubah struktur demografi secara mendasar. Negara yang sebelumnya didominasi populasi muda kini bergerak menuju fase penuaan penduduk dalam waktu relatif singkat. Transisi ini membawa implikasi langsung pada pembiayaan kesehatan, sistem pensiun, dan pasar tenaga kerja.

Bagi negara dengan lonjakan tercepat, tantangannya keberlanjutan sistem kesehatan jangka panjang. Negara-negara yang terlambat menyiapkan infrastruktur lansia berisiko menghadapi tekanan fiskal dalam dua hingga tiga dekade ke depan.

Sebaliknya, negara maju dengan kenaikan terbatas menghadapi stagnasi usia harapan hidup, yang menandakan bahwa ruang perbaikan melalui intervensi dasar telah hampir habis.

CNBC Indonesia Research

(emb)



Most Popular