MARKET DATA

Konsumsi Listrik per Kapita Indonesia Vs ASEAN, Ini Dia Jawaranya!

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 January 2026 16:27
Petugas PLN tengah mengecek kesiapan Gardu Induk bertegangan 150 kilovolt (kV) yang akan memasok operasional smelter milik Antam di Kolaka, Sulawesi Tenggara. (Dok: PT PLN (Persero)
Foto: Petugas PLN tengah mengecek kesiapan Gardu Induk bertegangan 150 kilovolt (kV) yang akan memasok operasional smelter milik Antam di Kolaka, Sulawesi Tenggara. (Dok: PT PLN (Persero)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi suatu negara seringkali tercermin dari seberapa besar energi yang diserap oleh penduduknya. Kenaikan konsumsi listrik per kapita bisa dijadikan sebagai indikator fundamental yang merepresentasikan aktivitas ekonomi, produktivitas masyarakat, hingga tingkat industrialisasi yang sedang berjalan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya tren positif dalam penyerapan listrik nasional. Dalam laporan terbarunya, realisasi konsumsi listrik penduduk Indonesia pada 2025 mencatatkan lonjakan signifikan, melampaui target yang ditetapkan sebesar 1.464 kWh.

"Ini konsumsi listrik per kapita. Sekarang konsumsi listrik per kapita kita 2024 itu 1.411 kWh. 2025 itu naik menjadi 1.584 kWh," ungkap Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Sektor ESDM 2025, di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Kenaikan ini juga didorong oleh agresivitas pemerintah dalam melistriki wilayah-wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

"Ini juga terjadi akibat karena saya katakan 5.700 desa yang belum ada listriknya, 4.400 dusun, dan pada tahun ini kita sudah mengerjakan kurang lebih sekitar 1.500 lebih titik yang kita lakukan terobosan," tambahnya.

Mengacu pada data visualisasi capaian kinerja Kementerian ESDM 2025, tren kenaikan ini terlihat konsisten sejak 2021 (1.123 kWh) hingga menembus 1.584 kWh di 2025, atau terealisasi 108,2% dari target awal. Berikut datanya:

Konsumsi Listrik RI Vs ASEAN

Secara agregat, berdasarkan data ASEAN Urbanist, Indonesia diperkirakan menempati peringkat pertama di ASEAN dengan total konsumsi listrik yang berpotensi mencapai 353,6 miliar kilo Watt hour (kWh) pada 2025. Angka ini sedikit mengungguli Vietnam yang berada di posisi kedua dengan total konsumsi 346,5 miliar kWh.

Besarnya volume konsumsi Indonesia ini sejalan dengan status Indonesia sebagai ekonomi terbesar di kawasan dengan wilayah geografis yang luas. Namun, metrik total konsumsi ini seringkali bias oleh faktor demografi yang masif dan tidak sepenuhnya mencerminkan intensitas produktivitas energi per individu.

Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, konsumsi listrik per kapita Indonesia terlihat masih jauh tertinggal, bahkan di bawah Vietnam dan Thailand. Berikut data perkiraan konsumsi listrik per kapita negara-negara di ASEAN, selain Indonesia, pada 2025, mengacu data dari proyeksi ASEAN Urbanist:

Tertinggal dari Vietnam dan Thailand

Ketika data disesuaikan dengan jumlah penduduk (per kapita), posisi Indonesia terlihat perlu dipacu lebih kencang. Meski data Kementerian ESDM mencatat kenaikan konsumsi listrik ke level 1.584 kWh pada 2025, angka ini secara komparatif masih berada di bawah negara-negara tetangga dengan karakteristik ekonomi serupa.

Perbandingan yang paling mencolok terlihat pada data Vietnam. Konsumsi listrik per kapita Vietnam pada 2025 diperkirakan sebesar 3.431 kWh, atau hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Tingginya angka di Vietnam mengindikasikan laju industrialisasi yang sangat intensif, di mana sektor manufaktur menyerap energi dalam jumlah besar.

Demikian pula dengan Thailand dan Malaysia. Thailand, konsumsi listrik per kapita pada 2025 diperkirakan sebesar 3.033 kWh, sementara Malaysia berada di level 5.124 kWh. Ketertinggalan ini menjadi sinyal bahwa tingkat pemakaian listrik produktif di Indonesia belum sepadat negara-negara kompetitor tersebut.

Ilustrasi Bendera Asean (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Ilustrasi Bendera ASEAN (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Disparitas Infrastruktur Regional

Singapura tetap menjadi anomali positif di kawasan sebagai satu-satunya negara maju, dengan konsumsi per kapita menembus 10.527 kWh. Tingginya angka ini didorong oleh infrastruktur perkotaan yang padat energi dan sektor jasa bernilai tinggi seperti pusat data.

Menariknya, Laos mampu menempati peringkat ketiga dengan 4.041 kWh per kapita. Hal ini didorong oleh populasi yang relatif kecil (7,7 juta jiwa) dikombinasikan dengan surplus energi dari proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air (hidro) yang masif.

Sementara itu, Filipina mencatat angka yang mengkhawatirkan di level 991 kWh per kapita, di bawah ambang batas psikologis 1.000 kWh, yang mencerminkan tantangan pasokan energi di negara kepulauan tersebut.

Data ini menegaskan bahwa meskipun rasio elektrifikasi Indonesia sudah tinggi, pekerjaan rumah selanjutnya adalah meningkatkan intensitas konsumsi listrik untuk mendorong kegiatan ekonomi yang lebih produktif.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular