MARKET DATA

Saham TINS Mau Ngebut Sejauh Apa? Ini Hitung-hitungan Potensinya

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
08 January 2026 16:50
PT Timah TBK (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: PT Timah TBK (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal tahun 2026 menjadi momen pembuktian vital bagi PT Timah Tbk (TINS). Setelah sempat tertekan oleh dinamika kasus hukum dan penurunan produksi pada tahun-tahun sebelumnya, emiten pelat merah ini kini berada di tengah pusaran sentimen positif atau perfect storm yang berpotensi melambungkan kinerjanya secara signifikan.

Kombinasi antara lonjakan harga komoditas global yang ekstrem, pemulihan aset negara, hingga potensi masuknya aliran dana asing membuat valuasi TINS kembali menarik untuk dicermati oleh para pelaku pasar. Optimisme pasar mulai terbangun bahwa tahun ini bisa menjadi titik balik fundamental perseroan.

Ledakan Harga Global di Era Booming AI

Data perdagangan London Metal Exchange (LME) per awal Januari 2026 merekam fenomena luar biasa di mana harga timah kontrak Cash Settlement sukses menembus level US$ 44.200 per ton.

Jika ditarik garis dari awal tahun 2025 yang masih berkutat di kisaran US$ 28.000-an, harga timah telah mencatatkan kenaikan lebih dari 57% dalam setahun terakhir.

Kenaikan agresif ini didorong oleh fundamental permintaan yang kuat dari sektor teknologi. Revolusi Artificial Intelligence (AI) dan semikonduktor memicu ledakan kebutuhan solder timah sebagai bahan baku utama komponen elektronik.

Sementara itu, di sisi suplai, gangguan produksi di negara produsen utama seperti Indonesia, Myanmar, dan Kongo menciptakan kekhawatiran pasar akan kelangkaan barang, yang memaksa harga komoditas ini terus mendaki mencari keseimbangan baru.

Paradoks Kinerja: Volume Turun, Margin Terjaga

Mengacu pada dokumen Laporan Keuangan Kuartal III-2025, kinerja TINS menunjukkan sebuah anomali yang menarik. Volume produksi bijih dan logam timah perseroan tercatat mengalami koreksi cukup dalam, berkisar antara 20% hingga 30% secara YoY akibat faktor cuaca ekstrem dan proses penertiban tambang rakyat yang sedang berlangsung.

Namun, penurunan volume produksi tersebut berhasil dikompensasi oleh kenaikan average selling price. Strategi TINS yang memfokuskan 93% penjualannya ke pasar ekspor terbukti ampuh menjaga profitabilitas.

Perseroan tetap mampu mencetak laba bersih yang solid, yang mengindikasikan bahwa TINS sangat sensitif terhadap kenaikan harga jual. Hal ini memberikan sinyal positif yaitu jika produksi pulih di tahun 2026 saat harga sedang tinggi, lonjakan laba bersih diprediksi akan sangat signifikan.

Tiga Katalis Pendorong Utama

Selain faktor harga komoditas global, terdapat tiga sentimen domestik krusial yang diprediksi menjadi "bensin" tambahan bagi pergerakan saham TINS di tahun 2026:

  • Tambahan Aset Smelter Sitaan: Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyerahkan pengelolaan aset sitaan kasus korupsi berupa 6 smelter swasta dan alat berat kepada BUMN. Langkah ini memungkinkan TINS menambah kapasitas produksi secara instan tanpa perlu mengeluarkan belanja modal (capex) yang besar untuk membangun pabrik baru dari nol.

  • Monopoli Pasar Melalui Regulasi: Penertiban tambang ilegal yang tegas membuat TINS kini memegang kendali penuh atas suplai timah legal dari Indonesia. Posisi ini memberikan kekuatan tawar (pricing power) yang besar di hadapan pembeli global seperti raksasa elektronik dunia, karena keran suplai ilegal dari pasar gelap telah ditutup rapat.

  • Potensi Masuk Indeks MSCI: TINS dikabarkan masuk dalam radar kandidat untuk dimasukkan ke dalam indeks MSCI Small Cap pada rebalancing bulan Februari 2026. Jika terealisasi, hal ini akan memicu arus dana masuk (inflow) otomatis dari investor institusi asing dalam jumlah triliunan rupiah yang wajib melakukan penyesuaian portofolio mengikuti bobot indeks tersebut.

Kemana Saham TINS Melaju?

Melihat deretan sentimen di atas, target harga saham di level Rp 4.500 yang diproyeksikan sejumlah pelaku pasar memiliki landasan fundamental yang logis. Target ini didasarkan pada konsep operating leverage, di mana biaya operasional tambang yang cenderung tetap akan menghasilkan laba berlipat ganda saat pendapatan naik.

Dalam simulasinya, jika manajemen TINS berhasil mengerek produksi kembali ke level 30.000 ton (naik 50%) dengan dukungan aset smelter baru, dan harga timah dunia bertahan di kisaran US$ 44.000 (naik 30%), maka laba bersih perusahaan berpotensi melonjak hingga dua kali lipat menembus estimasi Rp 1,6 Triliun.

Dengan estimasi Laba per Saham (EPS) di kisaran Rp 216 dan asumsi pasar memberikan valuasi premium (PER 20x) di tengah siklus komoditas bullish, maka harga wajar saham TINS secara matematis berada di rentang Rp 4.300 hingga Rp 4.500.

TINS Diharapkan Bisa Panen Tahun Ini

Secara keseluruhan, data dan sentimen pasar mengonfirmasi bahwa TINS sedang berada di jalur pemulihan yang kuat. Level harga saham saat ini di kisaran Rp 3.500-an (per 8 Januari 2026) dinilai belum sepenuhnya mencerminkan potensi ledakan laba yang mungkin terjadi jika target produksi 2026 tercapai.

Level psikologis Rp 4.000 akan menjadi ujian terdekat. Jika harga saham mampu menembus level resisten tersebut dengan volume transaksi yang tinggi, maka tren kenaikan menuju target Rp 4.500 akan semakin terkonfirmasi.

Tahun 2026 berpotensi besar menjadi tahun panen bagi perseroan, asalkan momentum harga tinggi ini dapat dimanfaatkan dengan eksekusi produksi yang disiplin.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular