MARKET DATA

AS Invasi Venezuela, Kupluk RI Ikut Terancam?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
05 January 2026 12:30
This handout picture released by the Miraflores Palace press office shows Venezuela's Vice-President Delcy Rodriguez (C) speaking next to Venezuelan Defense Minister Vladimir Padrino Lopez (2nd-L) and Venezuela's Minister of Interior Relations, Justice, and Peace, Diosdado Cabello (2nd-R) during a council of ministers meeting at the Vice Presidency headquarters in Caracas on January 4, 2026. President Donald Trump insisted on January 4, 2026, that the United States is "in charge" of Venezuela after the seizure of Nicolas Maduro, but was also dealing with the new interim leadership in Caracas. (Photo by Marcelo Garcia / Miraflores press office / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  MIRAFLORES PRESS OFFICE / HANDOUT / MARCELO GARCIA  " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS
Foto: AFP/MARCELO GARCIA

Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam periode Januari-Desember 2025, ekspor Indonesia ke Venezuela mencapai US$69 juta, tumbuh 40,59% (year on year/yoy).

Pada saat yang sama, impor Indonesia dari Venezuela hanya US$14 juta, turun 31,12%. Kombinasi ini mendorong neraca perdagangan Indonesia surplus US$55 juta, dengan lonjakan year-on-year sebesar 91,70%.

Mesin utama surplus itu datang dari satu sektor, kendaraan dan komponennya (HS 87). Nilai ekspor otomotif Indonesia ke Venezuela sepanjang 2025 mencapai US$46,39 juta, setara hampir 67% dari total ekspor RI ke negara tersebut.

Di lapis kedua, struktur ekspor Indonesia ke Venezuela diisi oleh barang konsumsi dan kebutuhan rumah tangga. Sabun dan produk pembersih (HS 34) mencapai US$11,29 juta, sementara kertas dan produk pulp (HS 48) sebesar US$2,36 juta, serta pakaian rajut (HS 61) dan non-rajut (HS 62) yang secara gabungan menembus lebih dari US$1,46 juta.

Pola ini mencerminkan Indonesia menembus langsung rantai konsumsi masyarakat Venezuela, tidak semata kebutuhan industri.

Lapisan yang lebih menarik justru muncul dari komoditas yang secara nilai masih kecil tetapi tumbuh ekstrem. Tutup kepala (HS 65) melonjak 66.709%, meski nilainya baru US$0,07 juta.

Alas kaki (HS 64) tumbuh 1.719% menjadi US$0,48 juta, sementara lemak dan minyak nabati/hewani (HS 15) melonjak 958% menjadi US$0,39 juta.

Ekspor RI ke Venezuela menjadi perhatian setelah kisruh di negara tersebut. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditahan di sebuah pusat penahanan di New York pada Minggu (4/1/2026), menyusul operasi penangkapan besar-besaran yang diperintahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Maduro kini menunggu proses hukum atas dakwaan terkait kejahatan narkotika.

Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih kendali atas negara penghasil minyak tersebut. Keputusan Trump tersebut menuai reaksi keras dari sejumlah pemimpin dunia. Banyak pihak mengingatkan kembali pada sejarah kelam intervensi militer AS di Irak, Afghanistan, dan negara lain.

Sebagai sinyal awal dari pembukaan jalur distribusi baru untuk produk gaya hidup dan pangan olahan Indonesia di pasar Venezuela yang sebelumnya sangat tertutup akibat sanksi dan krisis devisa.

Jika dilihat dari mekanismenya, lonjakan ini masuk akal. Venezuela mengalami keterbatasan pasokan barang konsumsi selama bertahun-tahun. Ketika tekanan makro mulai mereda dan akses devisa membaik, impor pertama yang pulih selalu barang jadi: pakaian, alas kaki, kosmetik, makanan olahan.

Kinerja neraca 2025 menunjukkan Indonesia mulai mengisi celah itu. Produk seperti kosmetik dan wewangian (HS 33) sudah mencatat pertumbuhan 81,6%, sedangkan produk kimia (HS 38) tumbuh 101,6%, menandakan permintaan bukan hanya dari rumah tangga, tetapi juga dari sektor jasa dan manufaktur ringan Venezuela.

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap Venezuela justru menurun. Impor Indonesia dari negara itu hanya US$14 juta dan turun tajam 31,12%, sehingga perdagangan bilateral makin timpang ke arah Indonesia. Artinya, risiko eksternal dari Venezuela terhadap neraca Indonesia makin kecil, sementara potensi pendapatan ekspor justru membesar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular