Besok Ada Pengumuman Penting Buat RI: Bisa Jadi Kabar Baik Atau Buruk?
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan pada Desember 2025 seiring meningkatnya aktivitas akhir tahun serta perayaan Natal dan Tahun Baru.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi periode Desember 2025 besok, Senin (5/12/2025).
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga, Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan akan mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,62%. Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 2,94%.
Konsensus CNBC Indonesia juga memperkirakan inflasi inti pada Desember 2025 akan berada di level 2,44% (yoy).
Sebagai pengingat, inflasi pada periode November 2025 tercatat sebesar 0,17% (mtm) dan secara tahunan mencapai 2,72% (yoy), sementara inflasi inti berada di level 2,36% (yoy).
Inflasi Tahunan Kembali Naik
Inflasi Desember 2025 akan dihitung sebagai inflasi sepanjang tahun. Artinya, inflasi tahunan yang tercatat pada Desember juga menjadi inflasi pada tahun berjalan.
Apabila inflasi tahunan (yoy) pada Desember 2025 mencapai 2,94% sesuai konsensus, maka level tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan 2024 yang berada di 1,57%, yang sekaligus tercatat sebagai inflasi terendah sepanjang sejarah.
Dengan proyeksi tersebut, kinerja inflasi Indonesia pada 2025 menunjukkan perbaikan, seiring meningkatnya tekanan harga dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan inflasi ini utamanya tercermin dari kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, antara lain bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, cabai merah besar, gula pasir, beras, telur ayam, dan daging ayam, sebagaimana terlihat pada grafik rata-rata harga komoditas pangan berikut ini.
Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) perbandingan rata-rata harga komoditas pangan pada 2024 dan 2025, sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan harga, sementara sebagian lainnya relatif stabil bahkan menurun.
Rata-rata harga bawang merah naik dari Rp39.124/kg pada 2024 menjadi Rp45.329/kg pada 2025 meningkat sebesar 15,86%. Sementara itu, cabai rawit merah juga mencatat kenaikan harga yang cukup tinggi, dari rata-rata Rp56.873/kg menjadi Rp65.753/kg pada 2025 atau naik 15,61%.
Harga rata-rata minyak goreng meningkat dari Rp19.308,4 pada 2024 menjadi Rp20.938,2 pada 2025, atau naik sebesar 8,44%.
Cabai merah besar juga tercatat naik dari Rp50.745/kg menjadi Rp53.317/kg di 2025 setara kenaikan 5,07%.
Berbeda dari komoditas lainnya, bawang putih justru mencatat penurunan harga atau deflasi. Rata-rata harga turun dari Rp43.202/kg pada 2024 menjadi Rp42.469/kg pada 2025 terkoreksi sebesar 1,70%.
Proyeksi Kenaikan Inflasi Bulanan Desember 2025
Inflasi bulanan (mtm) pada Desember 2025 diproyeksikan meningkat dibanding bulan sebelumnya. Sejumlah ekonom menilai kenaikan inflasi ini terutama dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni lonjakan harga pangan bergejolak (volatile food), meningkatnya aktivitas konsumsi akhir tahun, serta dorongan dari kenaikan harga emas dan energi nonsubsidi.
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan bahwa inflasi Desember masih terkendali namun lebih tinggi dibanding November, salah satunya akibat kenaikan harga bahan pangan pokok.
"inflasi pada Desember terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan seperti gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, cabai, bawang merah, dan bawang putih," Ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, yang menilai tekanan utama inflasi berasal dari kelompok volatile food akibat terganggunya pasokan.
"Pendorong utamanya bersumber dari volatile food, khususnya cabai rawit, telur, dan bawang yang mengalami kenaikan karena pasokan terganggu."
Kondisi tersebut juga diperparah oleh bencana di beberapa wilayah. Hosianna menjelaskan bahwa kenaikan harga emas dan dampak banjir bandang serta longsor di Sumatra mengganggu distribusi pangan.
Sejalan dengan itu, data PIHPS menunjukkan kenaikan signifikan pada sejumlah komoditas.
Rata-rata harga cabai rawit merah di Desember 2025 naik menjadi Rp74.842/kg dari Rp45.910/kg atau melonjak 63%.
Kenaikan juga terjadi pada daging ayam, di mana rata-rata harga bulanan Desember meningkat 7,62% menjadi Rp41.512/kg dari Rp38.572/kg pada November.
Rata-rata harga telur ayam juga meningkat 3,66%, dari Rp31.562,5/kg pada November menjadi Rp32.717,5/kg di Desember.
Selain itu, rata-rata harga beras justru tercatat mengalami penurunan walau tipis yakni sebesar 0,11%. Jika rata-rata harga beras di November sebesar Rp15.727/kg, pada Desember turun menjadi Rp15.710/kg.
Selain pangan, tekanan inflasi juga muncul akibat peningkatan konsumsi akhir tahun. Hosianna menambahkan bahwa lonjakan konsumsi musiman turut memperkuat tekanan inflasi.
"kenaikan konsumsi akibat tekanan musiman (Nataru), shock pasokan, dan stimulus fiskal sejalan peningkatan belanja pemerintah yang mendorong permintaan dan memperkuat ekspektasi inflasi dalam jangka pendek," Ujar Hosianna.
Selain pangan dan konsumsi musiman, sejumlah komoditas non-pangan turut mendorong inflasi.
Juniman mencatat sejalan dengan kenaikan harga emas dunia, harga emas dan perhiasan juga meningkat pada bulan ini. Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada bulan ini terutama dipicu oleh pelemahan Rupiah.
Dari sisi inflasi inti,kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat penguatan konsumsi domestik dan kenaikan harga emas sebagai faktor tambahan.
Bank Mandiri juga menilai tekanan administered prices turut muncul dari tarif transportasi dan energi.
"Harga yang diatur pemerintah diperkirakan meningkat secara moderat, didorong oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, yang meningkat rata-rata 5,0%, serta kenaikan tarif penerbangan sebesar 17,2% (mom) di tengah tingginya permintaan perjalanan akhir tahun." jelasnya.
Seperti diketahui, Badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU, baik PT Pertamina maupun swasta kompak menaikkan harga produks BBM-nya di SPBU per 1 Desember 2025 ini. Khusus untuk Pertamina, kenaikan harga untuk BBM jenis non subsidi.
Contohnya, untuk Harga BBM Pertamax di wilayah DKI Jakarta, yang naik menjadi Rp 12.750 per liter dari harga sebelumnya Rp 12.200 per liter. Menyusul harga BBM Pertamax Turbo juga naik menjadi Rp 13.750 per liter dari harga sebelumnya Rp 13.100 per liter.
Kemudian, harga Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp 13.500 per liter dibandingkan harga sebelumnya Rp 13.000 per liter. Harga BBM Dexlite juga naik menjadi Rp 14.700 per liter dari harga sebelumnya Rp 13.900 per liter.
Harga BBM Pertamina Dex juga naik menjadi Rp 15.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 14.200 per liter. Adapun untuk harga BBM bersubsidi seperti Solar Subsidi dan Pertalite (RON 90) tidak mengalami perubahan, tetap dibanderol masing-masing Rp 6.800 dan Rp 10.000 per liter.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)