MARKET DATA
NEWSLETTER

Santa Claus Rally Menggoda, Long Weekend Was-Was: Buy atau Kabur Dulu?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
22 December 2025 06:20
CHRISTMAS-SEASON/PARIS SANTA
Foto: REUTERS/BENOIT TESSIER

Libur panjang menjelang natal dan tahun baru sudah tinggal menghitung hari, biasanya pelaku pasar juga menantikan momentum santa claus rally di IHSG. Akankah ini jadi peluang untuk beli saham atau pilih ambil untung dulu?

Sebenarnya optimisme pasar masih datang dari data inflasi negeri Paman Sam yang mendingin ke level 2,7%, jauh lebih baik dari ekspektasi pasar yang mengharapkan inflasi pada November melaju 3,1% yoy dan lebih rendah dari inflasi 3% yoy pada September lalu.

Inflasi yang semakin mendingin diharapkan menjadi angin positif yang ikut berhembus ke IHSG, sekaligus memperkuat momentum Santa Claus Rally bisa terjadi lagi.

Secara historis, pasar saham Indonesia dalam satu dekade terakhir hampir selalu ditutup menguat pada Desember. Pengecualian hanya terjadi pada 2022 dan 2024, sehingga secara probabilitas peluang penutupan positif mencapai sekitar 80%.

Catat dulu! Jadwal Libur Bursa Natal dan Tahun Baru 2026

Mengingat libur panjang sebentar lagi, sebagai investor dan trader kita wajib memantau tanggal efektif akan berakhir di tanggal berapa pada Desember ini, guna memaksimal strategi trading atau investasi kita.

Berikut adalah rincian hari libur bursa di mana tidak ada aktivitas perdagangan:

Kamis, 25 Desember 2025: Libur Hari Raya Natal.

Jumat, 26 Desember 2025: Cuti Bersama Hari Raya Natal.

Rabu, 31 Desember 2025: Libur Bursa (Tutup Tahun).

Kamis, 1 Januari 2026: Libur Tahun Baru 2026.

Dengan jadwal tersebut, kesempatan terakhir untuk bertransaksi di tahun 2025 hanya tersisa 5 hari lagi pada tanggal 22, 23, 24, 29, dan 30 Desember 2025.

Jam perdagangan pada kedua hari tersebut berlaku normal (Sesi 1: 09.00-12.00 WIB & Sesi 2: 13.30-15.49 WIB).

Perdagangan perdana tahun 2026 akan dibuka kembali pada Jumat, 2 Januari 2026. Mengingat hari tersebut jatuh pada hari Jumat, maka berlaku penyesuaian waktu perdagangan khusus:

Sesi 1: 09.00 - 11.30 WIB.

Sesi 2: 14.00 - 15.49 WIB.

Investor juga diimbau untuk memperhatikan penyesuaian penyelesaian transaksi (settlement T+2) di masing-masing sekuritas, agar strategi investasi akhir tahun dapat berjalan lancar tanpa kendala administratif.

Selain tanggal, berbagai sentimen dan sejumlah data yang akan rilis dari global dan nasional patut kita cermati, berikut rinciannya :

GDP AS Kuartal III: Konfirmasi Skenario 'Soft Landing'

Sorotan utama investor global akan tertuju pada rilis final Pertumbuhan Ekonomi (GDP) AS untuk kuartal III-2025. Konsensus pasar memproyeksikan ekonomi Negeri Paman Sam tumbuh melambat ke level 3,2%, turun dari estimasi sebelumnya yang berada di angka 3,8%.

Dalam konteks normal, perlambatan ekonomi adalah kabar buruk. Namun saat ini, angka 3,2% justru menjadi sinyal yang dinanti pasar.

Perlambatan yang terukur ini dikombinasikan dengan inflasi yang sudah jinak di 2,7%-mengonfirmasi bahwa skenario Soft Landing sedang berjalan mulus.

Ekonomi AS mendingin cukup untuk menekan inflasi, namun tetap tumbuh cukup kuat untuk menghindari resesi.

Ini memberikan karpet merah bagi The Federal Reserve untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga secara agresif tanpa keraguan.

Bunga Pinjaman China (LPR): Stimulus Masih 'Ditahan'

Dari kawasan Asia, perhatian tertuju pada keputusan Bank Sentral China (PBoC) terkait suku bunga pinjaman acuannya atau Loan Prime Rate (LPR). Data ini akan rilis pada Senin hari ini (22/12/2025) sekitar pukul 08.15 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan PBoC masih akan mengambil langkah konservatif dengan menahan LPR tenor 1 tahun di 3,0% dan tenor 5 tahun di 3,5%.

Keputusan status quo ini berpotensi direspons dingin oleh pelaku pasar, khususnya di sektor komoditas. Mengingat data penjualan ritel China yang baru saja dilaporkan anjlok (hanya tumbuh 1,3%), investor sebenarnya berharap ada stimulus moneter instan untuk memacu permintaan domestik.

Sikap hati-hati Beijing ini menandakan bahwa harga komoditas energi dan logam industri mungkin akan bergerak terbatas (sideways) pekan depan karena belum adanya dorongan likuiditas baru.

Klaim Pengangguran AS: Pasar Tenaga Kerja Mendingin Terukur

Melengkapi data GDP, pasar juga akan memantau rilis data Initial Jobless Claims (klaim pengangguran awal). Konsensus memproyeksikan angka klaim akan sedikit meningkat menjadi 225.000 - 226.000, dari posisi sebelumnya 224.000.

Kenaikan tipis ini sejalan dengan tren tingkat pengangguran AS yang merangkak ke 4,6%. Bagi The Fed, data ini adalah validasi bahwa pasar tenaga kerja sedang mendingin secara alami.

Belum ada gelombang PHK massal yang memicu kepanikan, namun tekanan upah mulai mereda. Kondisi ini memperkuat alasan bagi bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter demi menjaga stabilitas pasar kerja agar tidak retak lebih dalam.

Uang Beredar (M2) RI: Menanti 'Bensin' Window Dressing

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data Uang Beredar dalam arti luas (M2) periode terbaru pada hari ini, Senin (22/12/2025). Pada periode sebelumnya, M2 tercatat tumbuh 7,7% secara tahunan (yoy).

Data ini menjadi indikator krusial di penghujung tahun. Pelaku pasar berharap melihat adanya akselerasi pertumbuhan M2 sebagai sinyal bahwa belanja pemerintah dan masyarakat mulai mengalir deras jelang libur Natal dan Tahun Baru.

Jika M2 tumbuh stagnan, hal ini akan memvalidasi kekhawatiran terkait tingginya "kredit nganggur" (undisbursed loan) perbankan yang tembus Rp 2.509 triliun.

Sebaliknya, lonjakan likuiditas M2 akan menjadi katalis positif bagi saham sektor ritel dan perbankan, sekaligus bahan bakar bagi aksi Santa Claus Rally dan Window Dressing.

Pengangguran Jepang: Lampu Hijau Normalisasi BoJ

Terakhir, data tingkat pengangguran Jepang diproyeksikan bertahan stabil di level rendah 2,6%. Angka ini mencerminkan kondisi full employment di Jepang, di mana pasar tenaga kerja sangat ketat.

Stabilitas ini menjadi modal politik yang kuat bagi Bank of Japan (BoJ). Dengan rakyat yang bekerja penuh dan neraca dagang yang surplus, BoJ memiliki kepercayaan diri lebih untuk menormalisasi kebijakan (menaikkan suku bunga) guna melawan inflasi yang diprediksi menembus 3,0%.

Bagi pasar valuta asing, data tenaga kerja yang solid ini berpotensi menjaga tren penguatan mata uang Yen, yang perlu diantisipasi oleh emiten domestik dengan eksposur utang dalam mata uang tersebut.

(saw/saw)


Most Popular
Features