CEO Bibit: Kami Ingin Mendemokratiskan Pasar Modal

Profil - dob, CNBC Indonesia
01 July 2021 09:21
Bibit.id

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan ventura global, Sequoia Capital, Tencent baru-baru ini menyuntik modal ke perusahaan rintisan aplikasi investasi reksa dana Bibit.id dengan nilai investasi sebesar US$ 65 juta atau setara Rp 943 miliar.

Rencananya, pendanaan yang diraih akan digunakan untuk peluncuran produk dan fitur baru, pengembangan teknologi, perekrutan karyawan, dan meningkatkan edukasi serta kesadaran akan berinvestasi.

Bibit menjadi salah satu agen penjual reksa dana yang bisa diakses secara online. Meski baru tiga tahun berkecimpung di bisnis ini, nyatanya Bibit sudah bisa bersaing di pasaran. Terbukti dengan minat investor ritel yang tertarik menggunakan Bibit untuk investasi reksa dana.


Berikut ini adalah wawancara lengkap CNBC Indonesia bersama CEO Bibit, Sigit Kouwagam. Wawancara ini akan membahas banyak hal, mulai dari kisah berdirinya Bibit, hingga seputar bagaimana Bibit menghadapi segala tantangannya.

Apa yang melandasi Anda mendirikan dan membangun platform investasi Bibit? Apa faktor pendorong utamanya?

Kami melihat bisnis ini memiliki potensi yang besar. Data menunjukkan masih sangat sedikit penduduk dewasa di Indonesia yang telah berinvestasi di pasar modal. Baik berinvestasi di instrumen pasar saham, obligasi, pasar uang maupun di reksa dana. Padahal, sebagai negara berkembang (emerging market), ekonomi Indonesia relatif sangat baik.

Ekonomi kita rata-rata tumbuh di atas 4%-5%, kecuali saat pandemi. Penduduk usia produktif juga sangat besar yang membawa negeri ini menikmati bonus demografi. Jumlah simpanan masyarakat di perbankan selalu tumbuh, bahkan lebih tinggi dari laju pertumbuhan kredit. Jadi, dilihat dari berbagai sisi, ekonomi Indonesia relatif sangat baik.

Namun, kami melihat kesadaran berinvestasi, khususnya investasi di capital market masih belum optimal. Hal ini terlihat setelah kami mempelajari perkembangan investasi di negara lain, baik di negara maju, negara serumpun, maupun negara berkembang lain. Misalnya, di Malaysia, Thailand, Singapura, Amerika, China dan Korea. Data statistik menunjukkan (Credit Suisse Research Institute - "Global Wealth Report 2019") rasio wealth growth per penduduk dewasanya jauh lebih cepat dari pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) per kapita. Hanya di Indonesia, wealth growth lebih lambat dari GDP growth.

Jika kita pertajam datanya, lebih menarik lagi fenomenanya. Median wealth di Indonesia, di sekitar US$ 2.000, padahal mean wealth di US$ 11.000. Terlihat ketimpangannya sangat besar. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak berbanding lurus dengan jumlah kekayaan para penduduknya. Pertumbuhan jumlah kekayaan orang dewasa lebih lambat dari kenaikan GDP.

Lalu apa hubungannya dengan investasi dan pasar modal?

Berdasarkan analisa kami, ada kaitan yang sangat erat antara budaya berinvestasi dengan wealth growth yang lebih tinggi dari GDP growth. Kami mempelajari, di negara lain distribusi kekayaan lebih optimal karena penduduknya memiliki akses yang baik terhadap produk investasi. Masyarakatnya tidak sekadar menyimpan uang di bank, namun juga menanamkan investasi di capital market. Pilihan investasinya pun beragam sehingga dapat disesuaikan dengan profil risiko individu. Maka itu, kesejahteraan warganya dapat meningkat pesat melebihi kenaikan GDP.

Kami juga mempelajari bahwa rendahnya partisipasi masyarakat berinvestasi di pasar modal, merupakan salah satu faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak berdampak signifikan ke tingkat kesejahteraan penduduk.

Jadi, salah satu faktor untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dapat dilakukan dengan cara membiasakan diri berinvestasi. Saat ini, dari total penduduk dewasa, baru 2% yang mengakses produk investasi di pasar modal. Masih sangat sedikit jumlahnya. Kami melihat ini sebagai tantangan.

Dari konteks besar ini kami melihat peluang untuk berbuat sesuatu. Kami merasa tertantang melakukan sesuatu yang berdampak positif ke masyarakat, sekaligus menjadi peluang bisnis bagi kami.

Dari pemaparan konteks besar, tantangan dan peluang yang ada, selanjutnya apa yang Bibit lakukan? Bagaimana Bibit mengeksekusinya dan bagaimana progresnya?

Kami berangkat dari pertanyaan: bagaimana cara mendorong masyarakat ikut berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia dan sekaligus menikmati hasilnya secara optimal. Atau dengan kata lain, bagaimana pertumbuhan ekonomi berdampak ke tingkat kesejahteraan masyarakat kita.

Selanjutnya kami mencari tahu lebih dalam: mengapa partisipasi masyarakat kita dalam berinvestasi sangat rendah? Di mana letak masalahnya? Apa opsi yang tersedia dan produk apa yang bisa kita tawarkan?

Hasilnya, kami memetik sejumlah pelajaran yang menjadi inspirasi kami melahirkan Bibit. Ada empat poin penting yang kami garis bawahi, terkait paradigma sebagian masyarakat kita dalam berinvestasi di pasar modal:

  1. Investasi di pasar modal menakutkan. Takut terperosok dalam kerugian, takut tertipu dan bahkan takut memulai karena ketidaktahuan.
  2. Investasi di pasar modal hanya untuk golongan tertentu, yaitu golongan mapan, punya kekayaan dan eksklusif untuk mereka yang mengerti tentang investasi.
  3. Investasi di pasar modal prosesnya ribet. Tidak semudah membuka deposito atau membeli emas.
  4. Untuk membeli produk reksa dana, harus menjadi nasabah prioritas di bank besar yang menetapkan minimum simpanan di atas ratusan juta. Selain itu, hanya kantor bank di kota besar yang memiliki layanan ini. Konsumen butuh upaya besar yang tidak mudah untuk menjangkau layanan dan harus punya dana yang tidak sedikit.

Jadi, jika disimpulkan, investasi di pasar modal itu menakutkan, prosesnya ribet, eksklusif hanya untuk mereka yang mapan dan paham investasi, serta tidak mudah dijangkau.

Dari gambaran ini, kami mencari cara bagaimana mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Maka itu, kami fokus membangun bisnis model yang memungkinkan investasi dilakukan secara mudah, cepat, aman, terjangkau dan bisa diakses oleh semua kalangan. Kami ingin mendemokratiskan pasar modal. Kami ingin investasi itu bersifat inklusif sehingga semua kalangan bisa ikut menikmati pertumbuhan ekonomi dalam bentuk peningkatan kesejahteraan.

Dan inilah hasilnya: platform reksa dana digital yang membantu investor pemula untuk memulai investasi. Sebuah platform investasi yang dibentuk di atas keyakinan bahwa semua orang berhak punya masa depan lebih baik.

Misi Bibit: kami ingin semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berinvestasi secara benar. Berinvestasi secara benar yang dimaksud adalah pengguna/nasabah Bibit mampu menyeimbangkan target investasi dengan profil risiko masing-masing dan mampu diversifikasi aset untuk hasil yang lebih optimal.

Mendemokratiskan pasar modal, bagaimana realisasinya?

Aspirasi kami, semua orang, mulai dari yang hanya memiliki Rp10.000 maupun Rp100.000.000, memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berinvestasi di instrumen yang sama, menghasilkan return yang sama, dan mendapatkan kualitas pelayanan yang sama.

Itulah hakikatnya. Kami ingin semua orang, apapun latar belakang ekonomi dan sosialnya, bisa memiliki kesempatan yang sama untuk ikut meningkatkan kesejahteraan melalui investasi di pasar modal. Dan aspirasi besar ini bisa terwujud dengan memanfaatkan teknologi.

Dalam membangun bisnis model Bibit, apakah ada role model/best practices yang diadopsi?

Kami tentu mempelajari banyak platform investasi digital di berbagai negara. Kami mencari bentuk terbaik dalam memberikan pengalaman yang berbeda ke pengguna. Tentunya dalam membangun model bisnis dan platform investasi tersebut kami juga melakukan improvisasi, agar produk dan layanan kami relevan dengan kebutuhan masyarakat kita. Kami percaya local wisdom sangat penting dan setiap investor memiliki karakteristiknya sendiri.

Dengan demikian, kami dapat menghadirkan platform investasi yang mudah, cepat, aman, terjangkau dan inklusif. Kami ingin pengguna terbiasa berinvestasi secara benar, lebih disiplin dalam mengatur keuangan dan merancang masa depan dengan tujuan/target yang terukur.

Selain menyediakan platform investasi yang tepat, dengan memanfaatkan teknologi sebagai enabler, bagi kami faktor penting lain adalah membangun culture dan mengubah mindset masyarakat tentang perlunya menyiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan dengan cara berinvestasi sejak dini. Hal-hal inilah yang menjadi landasan kami dalam membangun bisnis model Bibit.

Anda menyebutkan masyarakat memiliki paradigma bahwa berinvestasi di pasar modal itu menakutkan, mahal, sulit terjangkau dan ribet. Bagaimana strategi Bibit masuk ke pasar retail dan mengatasi kekhawatiran masyarakat atas hal ini?

Kami melakukan riset dan FGD (focus Group Discussion) untuk mendapatkan gambaran pain point, juga menggali aspirasi dan harapan masyarakat dalam berinvestasi di capital market. Ada tiga hal yang juga menjadi pertimbangan kami dalam membangun Bibit:

  1. Setiap orang punya kebutuhan dan target berbeda dalam berinvestasi. Ada yang investasi untuk pensiun, membangun rumah, menikah, tabungan anak, memiliki mobil, ibadah haji dan lain sebagainya. Jadi tujuannya tidak tunggal. Spektrum investasinya pun tidak sama.
  2. Setiap orang memiliki risk tolerance dan risk profile yang berbeda. Mereka paham bahwa investasi itu selain menguntungkan juga bisa mendatangkan kerugian. Yang mereka inginkan bagaimana bisa berinvestasi yang sesuai dengan batas toleransi/risiko mereka.
  3. Tiap orang memiliki kondisi keuangan dan kemampuan berinvestasi yang berbeda. Tapi, meski kemampuannya berbeda, harapan mereka sama: bagaimana bisa berinvestasi secara rutin sesuai kemampuan, termasuk dalam nominal terkecil.

Dari tiga kondisi itu kami merancang teknologi, platform investasi, dan bisnis model yang memampukan investor pemula dapat berinvestasi secara benar dengan tetap memperhatikan tiga hal utama : risk tolerance, kondisi keuangan dan tujuan investasi.

Seperti apa UVP Bibit ? Apa yang menarik? Apa yang menjadi pembeda?

Kami berangkat dari pemahaman bahwa setiap investor memiliki risk appetite, tujuan investasi dan kemampuan finansial yang berbeda. Karena itu, fitur yang kami tawarkan sangat personal, dapat di-customized sesuai karakter setiap investor.

Untuk pengukuran risiko, kami memperkenalkan fitur Robo Advisor. Fungsi utamanya membantu pengguna memahami batas toleransi atau risk profile. Pengguna akan menjumpai sejumlah pertanyaan saat melakukan proses registrasi menjadi nasabah Bibit.

Salah satu contoh pertanyaannya; jika aset Anda turun, apa yang akan Anda lakukan: cut loss, top up atau hold. Pilihan jawaban akan menentukan pengguna termasuk tipe agresif, moderat atau konservatif. Untuk masing-masing tipe agresif, moderat atau konservatif, produk reksa dana yang ditawarkan akan berbeda.

Untuk tipe agresif, komposisi portfolio asetnya bisa jadi lebih banyak reksa dana saham yang high risk tapi high return. Sementara yang moderat atau konservatif, pilihan produknya lebih banyak rekasadana pasar uang yang lebih rendah risikonya, tapi imbal hasilnya tidak se-agresif reksa dana saham.

Selain menentukan komposisi portofolio, Robo Advisor juga membantu pengguna untuk menyeimbangkan target investasi yang ingin dicapai dengan risiko. Misalkan, pengguna berusia 40 tahun dengan target investasi menyiapkan dana pensiun di usia 50 tahun, maka pilihan reksa dananya tentu yang lebih moderat risikonya. Jika pengguna berusia 25 tahun, dengan target investasi yang sama, maka pilihan reksa dananya bisa lebih agresif.

Perlu digarisbawahi, pada akhirnya keputusan investasi tetap ada di pengguna. Fungsi Robo Advisor hanya membantu nasabah memahami risiko dan target yang ingin dicapai.

Keunikan lainnya, kami menggunakan Markowitz Model untuk membantu nasabah lebih disiplin dalam diversifikasi aset untuk mencapai return investasi yang optimal. Markowitz model ini dikembangkan oleh Harry Markowitz, peraih nobel ekonomi tahun 1990. Kita mengenalnya dengan istilah Modern Portfolio Theory.

Intinya, Markowitz menyarankan agar investor dapat membuat portofolio investasi yang dapat dioptimalkan dengan memperhatikan aset dan diversifikasi. Idenya adalah melakukan investasi yang terdiversifikasi untuk mengurangi risiko keseluruhan portofolio.

Kombinasi antara Robo Advisor dan Markowitz model memampukan tiap pengguna Bibit untuk melakukan dua hal: pertama, menyeimbangkan antara tingkat risiko dengan target investasi; kedua mengoptimalkan return dengan melakukan diversifikasi aset secara disiplin dan terukur.

Kami menilai Robo advisor dan Markowitz model ini menjadi pembeda, di luar keunikan Bibit sebagai platform investasi yang memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi investor.

Bibit mulai beroperasi pada 2019 dan tumbuh luar biasa dalam dua tahun terakhir, bahkan saat ini menjadi market leader. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Tentu salah satu faktor nya adalah bisnis model kami yang unik. Selain itu, faktor lain yang berpengaruh adalah kami muncul di saat yang tepat. Ada tiga alasan soal right timing ini:

Pertama, kami muncul di saat disrupsi digital berlangsung masif di semua sektor, termasuk industri jasa keuangan. Disrupsi memaksa pelaku bisnis untuk cepat beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen. Di sisi lain, konsumen kita semakin terbiasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari menggunakan teknologi. Termasuk kebutuhan berinvestasi.

Puncaknya adalah saat pandemi COVID-19 sejak akhir 2019. Kebijakan social distancing, pemberlakuan protokoler kesehatan secara ketat, untuk memutus mata rantai penyebaran virus, telah mengakselerasi penggunaan teknologi digital secara lebih masif lagi.

Selain itu, pandemi juga mengubah perilaku para milenial. Generasi suka plesiran ini memiliki kelebihan (ekses) likuiditas karena mereka mengurangi kebiasaan traveling dan hang out. Nah, dana berlebih ini mereka gunakan sebagian untuk berinvestasi. Bibit menjadi pilihan utama karena kami membantu mereka untuk berinvestasi secara benar dan terjangkau. Hanya dengan Rp10.000, pengguna bisa beli reksa dana. Saat ini, 91% pengguna Bibit adalah generasi milenial.

Kedua, saat ini suku bunga bank relatif rendah, membuat deposito menjadi kurang menarik. Karena bunga deposito nyaris sama dengan inflasi, maka nasabah mencari instrumen lain yang menjanjikan tingkat pengembalian lebih tinggi. Reksa dana menjadi pilihan yang relatif aman.

Ketiga, faktor regulator yang mengizinkan e-kyc. Ini adalah faktor yang sangat signifikan dan menentukan eksistensi Bibit. Sebelumnya KYC dilakukan secara tatap muka, datang ke konter bank. Minimal bank yang memiliki kantor cabang untuk nasabah prioritas. Untuk menjadi nasabah prioritas, ada minimum simpanan yang mesti dimiliki, misalnya berapa ratus juta. Selain itu, priority banking hanya ada kota kota besar. Jadi kalau mau invest, harus punya duit banyak dan mesti datang ke kota besar.

Begitu regulator mengizinkan e-kyc, dalam enam bulan beroperasi, Bibit sudah meng-cover 450 kota dari total 520 kota di Indonesia.

Apa tantangan terbesar Bibit?

Tantangan terbesar kami adalah edukasi konsumen bahwa investasi itu aman, risikonya bisa terukur dan bisa mendatangkan imbal hasil yang optimal jika dilakukan secara benar. Bagi kami, salah satu kompetitor utama Bibit adalah investasi bodong. Praktik penipuan investasi ini bisa menimbulkan trauma di konsumen dan pada akhirnya merusak industri.

Kami melakukan banyak hal untuk edukasi, dan tentu saja format edukasinya tidak boleh membosankan. Edukasi kami lakukan dengan mengoptimalkan channel digital dimana sebagian besar nasabah kami menghabiskan waktu untuk mengkonsumsi informasi.

Cara lainnya mengoptimalkan komunitas telegram. Satu hal yang menggembirakan, para pengguna kami juga saling mengedukasi sesamanya. Dari pendekatan komunitas ini kami bisa menghadirkan konten edukasi yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Apa mitigasi yang dilakukan Bibit ketika nilai aset portofolio turun?

Komplain seperti itu pasti ada dan sudah kami antisipasi. Caranya, kami harus selalu menjelaskan secara memadai bahwa yang namanya investasi itu pasti ada risikonya, termasuk risiko penurunan nilai aset.

Setiap kali menghadapi situasi ini kami menyarankan nasabah untuk fokus pada target investasi yang ingin dicapai. Menurut kami, strategi investasi yang tepat adalah investasi untuk jangka panjang dan dilakukan secara konsisten. Bukan investasi yang sifatnya hit and run. Caranya dengan menabung investasi secara rutin, ataulebih dikenal dengan istilah 'Dollar Cost Averaging'.

Dollar cost averaging adalah sebuah metode sederhana dimana investor berinvestasi secara rutin dan konsisten setiap periode (menginvestasikan jumlah uang yang sama setiap bulan ataupun setiap minggu). Investor tetap melakukan investasi dengan nilai tersebut terlepas berapapun harganya dan kondisi apapun ekonominya.

Kami selalu mengedukasi bahwa keputusan investasi yang dilakukan hari ini akan memiliki dampak besar jika dilakukan secara rutin dan konsisten.


[Gambas:Video CNBC]

(yun/yun)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading