Blak-blakan Bos INKA Soal Ekspansi di Afrika Hingga Filipina

Profil - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
29 October 2020 06:00
Dirut PT INKA (Persero) Budi Noviantoro/ Foto: dikhy sasra

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah kepemimpinan Erick Thohir memiliki keinginan agar perusahaan pelat merah tidak hanya jago kandang. Oleh karena itu, BUMN didorong untuk menjadi pemain di level global.

Salah satu BUMN yang telah dan terus berekspansi di pasar dunia adalah PT INKA (Persero). Tidak tanggung-tanggung, proyek yang digarap INKA tak hanya berkutat di negara-negara ASEAN, melainkan juga menyasar negara-negara di Afrika.

Semua itu tidak lepas dari kondisi perusahaan yang kian besar. Saat ini, ada dua pabrik yang dimiliki INKA, yakni yang berada di Madiun dan Banyuwangi.

"Jadi kita harus cari project, karena (kapasitas) produksi sudah besar. Di sisi lain kebutuhan dalam negeri pertumbuhannya masih merata. Jadi kita masih berharap dari teman-teman PT KAI," ujar Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro dalam wawancara yang ditayangkan dalam program Closing Bell, Rabu (28/10/2020).

"Jadi mau nggak mau suka nggak suka harus going global. Kedua ini juga arahan dari pak menteri BUMN (Erick Thohir). Sekitar bulan Juli yang lalu kita sudah menandatangani MoU dengan menteri luar negeri (Retno Marsudi) bahwa BUMN didorong untuk jadi pemain global. Itu alasan kita," lanjutnya.



Berikut adalah petikan lengkap wawancara CNBC Indonesia dengan Budi Noviantoro:

Bisa diceritakan awal mula INKA mendapatkan proyek transportasi di Afrika?
Pertama dari internal INKA sendiri. INKA kondisi sekarang sudah besar. Kita punya pabrik dua sekarang, (pabrik) di Banyuwangi sudah selesai, jadi kita harus cari project, karena (kapasitas) produksi sudah besar.

Di sisi lain kebutuhan dalam negeri pertumbuhannya masih merata. Jadi kita masih berharap dari teman-teman PT KAI. Jadi mau nggak mau, suka nggak suka, harus going global. Kedua ini juga arahan dari pak menteri BUMN (Erick Thoir). Sekitar bulan Juli yang lalu kita sudah menandatangani MoU dengan menteri luar negeri (Retno Marsudi) bahwa BUMN didorong untuk jadi pemain global. Itu alasan kita.

Kemudian juga, kita lihat pada tahun yang lalu itu di bulan April, kalau nggak salah itu ada ada forum Asia Afrika. Indonesia-Africa Forum. Di situ dan bapak Presiden yang membuka di Bali kemudian dilanjutkan Indonesia-Africa Infrastructure dialogue kira-kira bulan Agustus. Jadi sama-sama pemerintah dalam hal ini Indonesia mencoba membantu teman kita yang di Afrika. Karena masa depan ekonomi dunia itu di sana.

Kemudian kami juga diajak teman kita yang di Amerika Serikat namanya TSG Global Holdings untuk masuk ke sana. Dengan 5 BUMN kita sekitar bulan Januari sudah tanda tangan MOU untuk kita masuk menjadi TKI di DRC Kongo.

Dari situ kemudian kita lanjut terus akhirnya kemarin kita di bulan Januari diundang sama presiden DRC Kongo. Kita diminta membantu mereka membangun solar panel 2.000 MW. Sudah jalan, sudah ground breaking. Di samping itu dilanjutkan dengan kontrak-kontrak infrastruktur.

Nah di sana kami berkontrak dengan partner kita. Kenapa? Dari aspek kehati-hatian ini kan Afrika kita juga nggak tahu siapa bayar apa nggak. Maka kami waktu itu masih ragu-ragu ternyata memang tidak seperti itu. Jadi skemanya adalah kami DOT, kami sebagai IPC kontraktor dari TSG Global Holdings yang di AS. Kita sudah sign kontrak sekitar US$ 11,7 miliar. Itu hanya INKA saja belum nanti ada Barata, ada LEN yang akan bangun fiber optic juga, ada Merpati yang aviation, kemudian juga PTDI. Jadi cukup banyak nanti bisa ditanya langsung mereka.

Nah itu yang kontrak duluan adalah INKA di sana. Jadi secara overall itu seluruh DRC untuk jalur kereta akan kita rehab. Jadi US$ 11,7 miliar itu sekitar 2 koma sekian kita untuk pengadaan sarana kereta apinya. Rolling stock kemudian juga macam-macam. Kemudian sisanya sekitar 9 koma sekian itu untuk membangun atau merehabilitasi rel yang mereka sudah cukup parah kondisinya. Mereka ingin nanti di-upgrade direhab untuk bisa mengangkut barang penumpang dan macam-macam seperti itu.

Dan kebetulan mereka juga ini, sebetulnya INKA sudah lama keliling Afrika, tapi baru sekarang karena memang pas kondisinya mereka butuh, kami juga butuh, kami juga ada partner yang membiayai ini sebagai investor. Nah bayarnya dengan apa? Bayarnya dari tambang. Mereka akan ngasih konsesi tambang untuk mem-backup ini semua kepada TSG Global Holdings. Itu saja ceritanya seperti itu.

Terkait pengadaan kereta dan infrastruktur, peran INKA apa saja?
Kami tidak sendirian karena mereka mintanya satu paket. Nggak boleh kereta atau roda saja, harus sama rel. Kami sebagai semacam project development. Maka kita mengajak BUMN karya.

Sumber pendanaannya dari mana?
Kami mensyaratkan kontrak dengan TSG Global Holdings itu yang memudahkan INKA. Kami pengalaman kalau di Indonesia ini misalkan kita punya kontrak dengan KAI, itu yang dikenai dua, ini urusannya perbankan ya. KAI untuk beli kereta itu pinjam ke bank. INKA karena DP itu 10%-15% ya, jadi kita pinjam juga. Saya nggak mau seperti itu nanti. Nanti DP 30% kemudian 10% jalan bayar.

Apakah nanti akan memakai komponen dan pekerja Indonesia?
Ya otomatis nanti 80% dari mereka, 20% dari kita. Kita berangkat duluan untuk survei tetapi untuk eksekusinya mereka akan datang ke Indonesia untuk training ke INKA, mungkin juga di LEN. Pada saat pelaksanaannya mereka yang akan mengerjakan, kita sebagai tenaga ahli. Itu dari sisi sumber daya manusia.

Kemudian dari komponen otomatis yang bisa kerjakan di sana kita gunakan yang bisa misalkan untuk pabrik beton misalkan kita sudah sepakat dengan WIKA (Wijaya Karya) untuk buat pabrik di sana karena cukup jauh dan mahal kalau dari sini. Kemudian yang sebisa mungkin bisa dari mereka ya kita akan buat di sana tapi kalau nggak bisa ya kita ekspor dari Indonesia.

Target pengerjaannya seperti apa?
Sebenarnya mereka itu maunya besok. Mereka itu juga luar biasa, saya apresiasi gitu ya. Mereka belum pernah lihat Indonesia sudah berani kontrak. Belum lihat nih itu apakah LEN bisa produksi solar panel, PTDI bisa produksi pesawat, mereka tidak lihat itu tapi mereka percaya karena ada partner AS.

Nah kemarin itu mereka datang dengan kondisi yang seperti ini masih Covid-19. Kita masih di-banned oleh beberapa negara. Dengan tekad mereka datang, tim dari Amerika Serikat juga datang. Walaupun agak susah masuk Indonesia, kemudian tim dari Kongo juga datang dengan segala macam risiko dalam kali kita juga berkali-kali swab test dan macam-macam.

Alhamdulillah mereka yakin dan lebih yakin lagi setelah mereka datang. Jadi Rabu yang lalu mereka sudah mendatangani semacam kontrak dengan pemerintah dengan gubernur Kinshasa dalam hal ini fase pertama oleh gubernur Kinshasa dengan TSG Global Holdings.

Maunya mereka besok kita berangkat maunya gitu. Tapi kita masih persiapan dulu. Nanti mungkin pertama kali kalau nggak salah sekitar bulan Desember kita kirim tenaga survei dulu yang ke sana untuk mensurvei situasi segala macam. Nanti mungkin awal Desember atau awal Januari kita ke sana untuk meneruskan karena solar panel sudah ground breaking.


Peluncuran kereta api Bonolata Express buatan PT. INKA di Bangladesh. (dok. KBRI Dhaka, Bangladesh)Foto: Peluncuran kereta api Bonolata Express buatan PT. INKA di Bangladesh. (dok. KBRI Dhaka, Bangladesh)



Skema penyelesaian proyeknya bagaimana?
Ini cukup luas. Kongo ini luasnya sampai 8 kali cukup lebar kita sebutkan sekitar 9,7 kita mengcover sekitar 4.000 kilo. Jadi kira-kira kita hitung paling cepat 5 tahun baru selesai kecuali kalau mereka nambah itu bisa 10 tahun di sana.

Jadi kita punya target waktu 5 tahun dengan syarat teman-teman BUMN karya bisa bantu. Kalau nggak itu repot tetapi di sana juga masih ada kontraktor lokal di sana kita akan gandeng. Jadi tidak hanya cukup BUMN karya juga, kita gandeng konsultan dan kontraktor lokal yang kita gunakan untuk bersama-sama bekerja di sana.

Tahapan-tahapan penyelesaiannya seperti apa?
Fase 1 adalah Kinshasa itu kita bangun 70 km itu kira-kira 30 km elevated karena ini untuk komuter sebetulnya. Kemudian fase 1 juga mereka butuh dari Kinshasa ke pelabuhan karena mereka ini setengah mati pakai jalur sungai begitu ya Jadi mereka minta nanti ada jalur kereta kan karena sungainya dangkal dari Kinshasa sampai ke Banana Port Ini harus selesai dua tahun ini karena 70 km ini ditambah 400 km ke Banana Port.

Kemudian kita bergeser ke yang lain cukup jauh perbatasan Zambia jadi kira-kira 4.000 kilo cukup jauh. Ini saya prediksi kalau lancar mungkin 5 tahun tapi saya juga nggak yakin karena sangat luas ini juga situasi di sana masih rumit. Kita nanti akan coba percepat ya paling cepat 5 tahun.

Bagaimana dengan kendala berupa pandemi Covid-19?
Sebetulnya Covid-19 di sana tidak parah. Cuma nanti mungkin ada masalah bahasa karena mereka bahasanya Prancis, kemudian karena cukup luas dan jauh dan hutan lokasinya ini repot juga. Jadi komunikasi susah bergeser ke kota saja kira-kira Kinshasa keluar 30 km, 20 km sudah enggak bisa lagi, nggak ada internet. Jadi kendalanya komunikasi sebetulnya.

Bagi INKA sendiri, apa tantangannya?
Sebetulnya buat kita sudah pengalaman bangun supply begitu. Cuma karena ini baru pertama kali, kita gandeng perusahaan lokomotif yang high quality untuk masuk ke sana bareng-bareng. Karena kita supply perusahaan AS ini nggak main-main. Nanti akan mengoperasikan selama 30 tahun. Nah dia untuk itu di backup sama tambang.

Kemudian kita tahu bahwa komunikasi susah di sana, kemudian SDM-nya masih seperti itu. Itu kira-kira dan beberapa daerah masih ada konflik di daerah ujung-ujunglah ya tapi kita nggak masuk ke sana dan kami masuk juga karena dijamin oleh pemerintah dan partner kita dari Amerika. Kalau enggak terjamin keamanannya enggak berani kita masuk

Selain Kongo, negara mana lagi yang jadi sasaran INKA?
Yang sekarang sedang proses kita lelang adalah di Zambia. Itu kita lelang bersama-sama, kita masuk melalui skema biasa internasional bidding. Alhamdulillah kita sudah ditunjuk tinggal menunggu sign kontrak. Mudah-mudahan sih akhir tahun atau awal tahun depan. Ini adalah proyek 30 lokomotif dari bantuan pemerintah Swedia.

Nah yang lain sedang proses saat ini. Jadi kemarin pada saat kita juga diminta untuk komunikasi dan sudah komunikasi dengan pemerintah Liberia sudah komunikasi dan mungkin minggu depan mereka akan diskusi dengan partner kita di Amerika dan di Turki. Untuk Liberia mereka minta bangun kereta api sekitar 800 km dari tambang sampai ke pelabuhan.

Sama dengan yang lain, kita juga masuk ke Mali dan Senegal. Cuma Mali dan Senegal agak berbeda. Partner kita untuk Mali dan Senegal pendanaannya masih belum siap jadi kita masih pending dulu.

Seperti apa keunggulan kereta buatan INKA?
Jadi Inka harus masuk pasar global karena domestik nggak cukup untuk bisa mengikuti INKA. Ini karena pabrik sudah besar mau nggak mau kita harus. Nah direksi yang lalu sudah merintis ikut lelang dan kita sudah cukup banyak armada yang diselesaikan. Kemarin kita menyelesaikan 250 gerbong penumpang yang untuk Bangladesh. Ini skemanya semua lelang anggaran dari IDB kan kenapa kita laris manis ya karena menang lelang.

Harganya murah dibandingkan sama Cina cuma ya agak berdarah-darah begitu ya wong Cina sudah murah kita lebih murah. Kemarin-kemarin itu cost sensitif pokoknya mereka murah aja gitu. Jadi kenapa banyak karena kita harganya lebih murah dan di mana pun kita ketemunya sama Cina karena mereka murah.

Bagaimana dengan pasar INKA di Bangladesh?
Bangladesh memang pasar terbesar INKA mulai dari tahun 2015 ini jalan terus dan nanti kita ikut lelang lagi untuk kebutuhan mereka kan cukup banyak jadi lelang dan dia tertarik sekali. Kan kita sebenarnya juga sudah menang mungkin 5 paket yang sudah kita menangkan. Kemarin kita kirim 250 dan selesai. Memang agak sedikit karena mereka lockdown tapi Alhamdulillah selesai terakhir Agustus kita kirim karena pesawat baru ada.

Kemudian untuk ASEAN kita juga sedang merintis dengan Laos dan Filipina. Filipina sudah kontrak kemarin kita sudah kirim kereta KRD 3 lokomotif dan 15 kereta penumpang yang lagi dites sama mereka karena mereka juga lockdown sampai sekarang.

Laos sedang proses. Malaysia mudah-mudahan ini lagi penjajakan. Harusnya sudah dari tahun lalu kita masuk ke sana tetapi pendanaanya belum ada. Kita akan coba lagi dengan TSG global, kemarin bisa minta dengan potasium. Jadi diteruskan sampai ke Thailand sehingga akan jadi segitiga Thailand, Laos, dan Vietnam.

Itu akan kita coba untuk angkutan barang karena kalau penumpang enggak bagus. Ini barang kita utamakan petikemas yang dari Thailand Utara itu nggak akan masuk ke selatan langsung bisa masuk ke Laos dan berlanjut ke Vietnam.

Bagaimana dengan Malaysia?
Sama. Jadi di Malaysia itu sedang merintis mereka punya angkutan barang ke pelabuhan dari Thailand. Cuma sekarang keretanya kan masuk ke Central itu mengganggu kereta-kereta commuter, mengganggu kereta-kereta bandara mereka. Dia mau membuat semacam ring luar sekitar 70 km itu mereka butuh infrastruktur dan kereta khususnya kereta barang dan lokomotifnya itu kita proses mudah-mudahan ya. Harusnya sih waktu perdana menteri yang masih Mahathir Mohamad kita diundang ke sana. Last minute ada politik di sana sekarang berantakan, tapi ini mudah-mudahan proses lanjutan segera begitu kondusif politik di Malaysia.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading