Wawancara Eksklusif

Sederet Siasat Bos BRI Insurance Lalui Badai Pandemi Covid-19

Profil - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
21 October 2020 16:55
Direktur Utama BRI Insurance, Fankar Umran

Jakarta, CNBC Indonesia - PandemiĀ Covid-19 telah berdampak kepada seluruh sektor perekonomian. Tidak terkecuali industri asuransi.

Kendati demikian, siasat demi siasat terus diupayakan pelaku industri, tidak terkecuali BRI Insurance (BRINS). Dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia Direktur Utama BRINS Fankar Umran buka-bukaan perihal langkah perseroan.

Selain langkah-langkah perusahaan, Fankar Umran menekankan pentingnya pengendalian pandemi Covid-19.

"Semakin panjang pandemi, semakin terpuruk industri asuransi itu, karena industri asuransi itu follow the bisnis yang seperti itu," ujarnya.

Simak petikan wawancara lengkap CNBC Indonesia dengan Fankar Umran berikut:

Direktur Utama BRI Insurance, Fankar UmranFoto: Direktur Utama BRI Insurance, Fankar Umran



Di tengah pandemi Covid-19, seperti apa strategi peningkatan risk based capital (RBC) dan likuiditas BRI Insurance?

Semakin panjang pandemi, semakin terpuruk industri asuransi itu, karena industri asuransi itu follow the bisnis yang seperti itu. Bagaimana RBC? ada dua unit usaha, konvensional dan syariah. Konvensional RBC 396% dan Syariah 630%, sangat tinggi.

Kita bedah, kalau bicara RBC dua hal. Pertama solvabilitas kemudian model minimum berbasis risiko. Tingkat solvabilitas aset dikurangi kewajiban. Maka yang perlu digarisbawahi adalah aset itu ada yang diperkenankan dan tidak diperkenankan. Misal aset seperti gedung hanya 25% itu kan rugi. Atau kita perbesar investasi di grup BRI, lebih dari 25% sisanya nggak diakui aset dalam RBC. Maka untuk menjaga RBC bagus, benahi unsur-unsur penghitung aset, sehingga aset ini yang diperkenankan.

Kedua, liability, karena semakin besar kewajiban, semakin kecil RBC. Strategi memperkecil liability selesaikan utang lebih dari 60 hari. Termasuk utang premi, klaim. Jangan ada yang pending. MMBR, artinya kita memperkecil risiko setiap unsur. Ketika dibagi solvabilitas dibagi MMBR makin tinggi. Dua pola, perbaiki aset perkecil kewajiban yang harus diselesaikan.

Tentang likuiditas, bagi industri asuransi maknanya trust seberapa likuid perusahaan asuransi itu kepercayaan masyarakat. Kedua manajemen cash flow, harus dijaga setiap saat. Karena ada kewajiban yang harus dipenuhi. Kita harus mampu menjaga, bagaimana manage cashflow sehingga sumber dana match dengan kewajiban. Karena kalau tidak akan ada trust akibat tertunda kewajiban. Tapi tak boleh terlalu tinggi likuiditas itu. Artinya idle, trade of antara berapa besar likuiditas tergantung berapa banyak kewajiban.

Bagaimana dengan belanja modal (capital expenditure) BRI Insurance?

Tentu saja semua paham, semua terdampak pandemi. Manajemen harus pandai membaca mana yang harus didorong. Kita bedah lagi, identifikasi mana capex, modal investasi tak bisa ditunda. Untuk BRI insurance pembelian aset kita tunda. Perbaikan, renovasi, kami tunda, kecuali tidak bisa terkait sistem dan digital. Anggaran kami fokuskan ke IT, dan juga go digital semua karena akan create bisnis terutama saat pandemi. Kami prioritas ke sana, tunda semua.

Berapa besar?

Dari anggaran capex, separuh untuk investasi aset. Memperbaiki gedung, membeli tanah, kendaraan. Kami tunda. Kami perbesar ke sektor IT dan digital. Tentu tidak semua bisa masuk.




Berdasarkan data OJK, per Juni 2020, premi melambat. Di saat situasi industri seperti ini, BRI Insurance cetak laba. Apa kunci dari mempertahankan laba?

Sumber laba dari growth bisnis. Kita lihat, masa pandemi growth bisnis tak bisa diharapkan. Lihat ke dalam, apa yang bisa dioptimalisasi dan dihemat cost. Dalam industri asuransi, BRINS ada dua poin, pertumbuhan bisnis. Seperti biasa, sekarang tak seperti tahun lalu, melambat. Saya bedah banyak tagihan premi yang numpuk juga banyak. Yang pertama kami lakukan bentuk task force, kenapa menumpuk, miss komunikasi, tak sinkron data, itu kami benahi. Outstanding premi kami bisa turun 5% dari angka hampir Rp 800 miliar.

Kedua efisiensi banyak mendapatkan penghasilan. Ketika digitalisasi, selama ini jual asuransi dengan banyak kertas, kita polis pakai kertas, dikirim pakai angkutan. Setelah digitalisasi e-polis ini hemat banyak, nggak pakai uang lagi. Carilah sumber income dari dalam. Yang bisa hemat cost. Contoh menghemat cost penerbitan polis, kemudian alur perusahaan dan juga pandemi berdampak pada pertumbuhan bisnis, dampak pada efisiensi. Di BRINS sampai 70% pernah 90% WFO. Menghemat tidak ada perjalanan dinas, kemudian efektivitas hanya anggaran IT. Bekali laptop dan jaringan sistem. Create income, pengeluaran berkurang. Walau pandemi, growth laba jauh di atas kemarin.

Direktur Utama BRI Insurance, Fankar UmranFoto: Direktur Utama BRI Insurance, Fankar Umran



Produk apa yang menggenjot premi BRI Insurance? Kemudian strategi mendapatkan premi?

Jadi, kalau di industri asuransi umum, ada 14 kelas bisnis yang dikelola sekarang. Di masa pandemi, asuransi harus pandai melihat, mana turun, berisiko, harus pandai melihat. BRINS, dari 14 ada risiko tinggi, harus slow down. Di lain pihak, yield tinggi kita genjot. Tahun lalu mikro 5% dari portofolio. Mikro itu kecil, spreading. Katakanlah satu kampung terdampak belum apa-apa dibanding, besar satu goyang itu berat. Ketika masuk pandemi, ini kita genjot. Sekarang sudah 15%, kita ingin mikro sumbang 70%. Setelah mikro apa, ritel. Macem-macem. Ada properti. Misal vehicle berat, karena industri otomotif turun. Startegi jangan ke sana. Kecuali kerja sama dengan instansi yang memang menyediakan fasilitas seperti itu, multifinance, harus pandai melihat mana yang growth, ketika tinggi yield masuk, risiko rendah, masuk.

Bagaimana dengan target pendapatan dan laba pada tahun ini?

Target laba BRINS, dibanding tahun lalu tidak banyak turun. Ada provisi, karena rasional, ekonomi saja turun 5,3%, tapi turun tipis. Cuma berhubung awal Maret stres test, pernah diuji bagaimana kalau turun 20% dampaknya, laba. Kami terima turun sedikit. Sampai bulan 9 sudah melewati target juga, sudah achieve target, tak ada persoalan juga. Angka pencapaian sampai September sudah di atas 100% sudah melewati. Tinggal benah-benah, artinya pencadangan diperkuat. Dalam situasi begini cadangan diperkuat. Kalau ada risiko tinggi, yang harus kita bayar.

Seperti apa target BRINS di tahun depan?

Follow the bisnis, gelombang di laut ada di ujung sana. Di sini kena gelombang, di sana belum. Karena industri asuransi itu cover bisnis. Kalau ini panjang, maka asuransi terpapar di 2021. Kalau selesai sekarang, dampak 2021 masih ada gaungnya. Tahun 2021 harus optimis, waspada, melihat risiko, mana berisiko tinggi, tetap sama seperti apa sekarang.

Di tengah pandemi dan efeknya kita rasakan 2021, apakah ada ekspektasi stimulus industri asuransi?

Jadi kalau saya amati, sejak pertama pandemi, saya lihat OJK, BI, gencar pemantauan risiko, kerja sama dengan asosiasi industri asuransi dan stimulus keluar Maret. Ada counter cyclical, kemudahan pelaporan, denda dihilangkan, menurut saya cukup ketat atau memenuhi industri oleh OJK. Tinggal bermain di situasi itu. Kalau terlalu banyak kemudahan berbahaya juga. Menurut saya cukup, tinggal kita mainkan saja irama itu.


[Gambas:Video CNBC]




(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading