Exclusive Interview

Direktur BCA Buka-bukaan Soal Merger & Respons FinCEN Files

Profil - Syarizal Sidik, CNBC Indonesia
24 September 2020 10:50
investor summit Emiten BCa Vera Eve Lim

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) baru-baru ini mendapat restu dari Otoritas Jasa Keuangan mengenai akuisis PT Bank Rabobank International Indonesia (Rabobank). Ini sebagai bagian dari aksi korporasi bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia ini untuk melebarkan bisnis perbankan syariah di Indonesia.

"Saat ini, BCA telah mendapatkan persetujuan untuk akuisi Rabobank dari OJK. Tahap berikutnya kita akan segera melakukan transaksi jual beli antara BCA dan Rabobank Indonesia," kata Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, dalam wawanwaca dengan CNBC Indonesia, Rabu (24/9/2020).

Tak hanya itu, Vera juga membeberkan rencana perseroan melakukan rebranding atas Bank Royal yang sebelumnya sudah diakuisisi dan akan menjadi fokus BCA di bank digital. BCA juga menegaskan, konsumen di bank digital ini akan berbeda dengan entitas induk yang jauh lebih komplkes, namun bank digital BCA akan memiliki akses terhadap ekosistem yang sama.


Vera juga merepons soal isu yang marak belakangan ini perihal transaksi illegal yang secara tidak langsung difasilitasi oleh sejumlah perbankan global seperti yang dilaporkan dalam FinCEN Files, di mana BCA termasuk salah satu di dalamnya.

Sentimen Fincen Files, BCA Pastikan Kepatuhan Aturan APU-PPT   (CNBC Indonesia TV)Foto: Sentimen Fincen Files, BCA Pastikan Kepatuhan Aturan APU-PPT (CNBC Indonesia TV)
Sentimen Fincen Files, BCA Pastikan Kepatuhan Aturan APU-PPT (CNBC Indonesia TV)

Berikut ini petikan wawancara selengkapnya CNBC Indonesia dengan Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim:

Seperti apa latar belakang penggabungan Rabobank dan BCA Syariah?

Saat ini, BCA telah mendapatkan persetujuan untuk akuisi Rabobank dari OJK. Tahap berikutnya kita akan segera melakukan transaksi jual beli antara BCA dan Rabobank Indonesia.

Setelah itu, kami akan menjadi pemegang saham utama atau pengendali sebesar 99,99%. Setelah itu proses merger kita lakukan. Diperkirakan, kalau tidak ada halangan, merger ini akan bisa rampung. Secara keseluruhan, kami tetap sangat optimistik dengan pertumbuhan perbankan ke depan, tentunya salah satunya melalui anak usaha BCA Syariah, kami melihat potensi pertumbuhannya sangat bagus.

Kalau kita lihat dalam kinerja dalam lima tahun terakhir kinerja industri bank syariah Indonesia pertumbuhannya lebih cepat dibanding konvensional.

Penggabungan bank konvensional ke syariah saya pikir ini wajar dilakukan tujuan utamanya untuk memperkokoh BCA Syariah ke depan. Vera Eve Lim, Direktur BCA

Akuisisi Rabobank jadi akuisisi tahap kedua ?

Betul sekali, akuisisinya ada dua bank yang sudah kita lakukan dalam dua tahun terakhir. Merger itu adalah tahap berikutnya setelah akuisisi.

Mekanisme seperti apa?

Seperti biasa, merger ini antara Rabobank dengan BCA Syariah. Prosesnya tidak jauh beda dengan merger biasa, proses melalui tahapan yang sudah diatur ketentuan. Pada saat operasional merger, sistem yang konvensional akan berpindah ke sistem berbasis syariah.

Alasan sampai gabungkan dua bank, UIB dan BCA Syariah?

Saya pikir setiap rancangan bisnis dengan outlook prospek bisnis itu sendiri, dalam hal ini kami melihat BCA Syariah dalam lima tahun terakhir pertumbuhan kami untuk pembiayaan sampai Juni tumbuh 16%, industri rata-rata di 10,1%, tahun lalu kami tumbuh di kisaran 15%. Jadi saya memperhatikan dalam lima tahun terakhir, BCA Syariah tumbuh di atas rata-rata industri, ini tentu memberi kita confident untuk pertumbuhan ke depan.

Penggabungan bank konvensional ke syariah saya pikir ini wajar dilakukan tujuan utamanya untuk memperkokoh BCA Syariah ke depan.

Dengan penggabungan ini BCA Syariah bisa berpotensi menjadi bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia?

Dengan penggabungan ini, kunci utama bank bisa tumbuh terus adalah modal. Komitmen kami terus memperkuat permodalan BCA Syariah, kita lakukan, tidak hanya BCA Syariah dan evaluasi terus. Tujuan merger ini juga membawa bank ini jadi BUKU II, hari ini total ekuitasnya mendekati Rp 2,4 triliun, dengan adanya penggabungan ini, ada peningkatan ekuitas, hitungan kami paling tidak 15%. Ini tentu memperluas kesempatan bertumbuh ke depan. CAR hari ini di kisaran 38,5%. NPF Juni 0,68%.

Dengan permodalan yang ada, kami percaya dengan outlook Indonesia ke depan punya kapasitas yang lebih besar ke depan.

Bagaimana wajah bisnis BCA Syariah ke depan, fokus di sektor apa?

Sektor pertanian atau sektor yang lain, biasanya itu adalah segmen nasabah komersial, UKM, atau korporasi. Saat ini fokus di segmen komersial dan UKM, korporasi tidak terlalu banyak. Ke depan bisa saja dieksplor, customer based bisa dipelajari, bisa dianalisa dan ke depan opportunity selalu ada.

Ada suntikan modal tambahan ke BCA Syariah?

Sebelum merger kita sudah lakukan, itu tahun lalu Rp 1 triliun. Sekaligus menjadi bawa BUKU II. Tahun ini kami fokus akuisisi, CAR di kisaran 38,5% jadi belum. Dengan merger ini aja akan bertambah nilai ekuitas di BCA Syariah.

Bagaimana persiapan rebranding Bank Royal?

Memang Bank Royal dengan bisnis model secara keseluruhan konvensional, kami mengambil keputusan untuk ditransformasi menjadi bank digital, menurut saya ini keputusan yang berani juga. Bisnis modelnya berubah, produk berubah, termasuk define target nasabah kami.

Persiapan karena everything start form scratch, sistemnya, karyawan kiat harus siapkan, jadi saat ini kita dalam proses menyiapkan produk dan fitur melalui platform mobile banking, kita juga harus berinteraksi dengan regulator untuk mendapatkan persetujuan. Rencananya, pilot ini akan dimulai sebelum akhir tahun ini.

Sejauh mana BCA mau mengembangkan bisnis bank digital?

Segmen nasabah kalau kita bandingkan BCA berbeda, BCA melayani segmen yang luas dan kompleks, dari wholesale, corporate, UKM dan konsumer. Untuk Bank Digital kami harus memilih segmen mana yang menjadi target nasabah, kami memilih segmen nasabah dynamic, smart young, mau transaksi di mana saja, borderless.

Filosofi berbisnisnya tetap sama, fokus pada kebutuhan nasabah dengan memberikan solusi yang praktis, cepat, efisien, aman dan murah, di sinilah teknologi sebagai alat bantu untuk men-deliver produknya. Dari awal bank digital ini akan terkoneksi dengan ekosistem kita.

Target BCA ke depan dengan Bank Digital?

Hari ini kalau bicara teknologi perubahannya cepat sekali, apalagi saat pandemi, kita gak pernah kepikiran, banking at home, stay at home, dan sebagainya. Literasi keuangan digital berkembang lebih cepat. Kami melihat di saat seperti ini transaksi digital malah meningkat tajam dan ini kami sikapi dengan sangat positif, karena ini sangat membantu edukasi nasabah.

Kami tidak muluk-muluk, tujuan dari awal bagaimana menyediakan kebutuhan nasabah dengan solusi yang praktis, dalam 1-3 tahun fokus kami bagaimana kita bisa melakukannya dengan baik, aman, stabil dengan platform mobile banking.

Target bisnis BCA sampai akhir tahun nanti?

Sampai akhir tahun, saya melihat DPK bertumbuh sangat bagus, termasuk industri perbankan. Untuk kredit saat ini bank, kami juga fokus restrukturisasi.

Kami harapkan, kredit di akhir tahun mudah-mudahan kami bisa jaga flat atau sedikit bertumbuh. Tadinya waktu awal kita perkirakan kredit akan turun di kisaran 3% sampai 5%. Tapi setelah memasuki Juni, kami melihat begitu kita bisa kembali lagi beraktivitas walaupun tidak seperti sebelumnya, respons transaksi mulai bagus.

Mungkin bisa di kisaran 1-2%, mudah-mudahan.

Pertumbuhan laba, saya kira tidak hanya BCA, tapi industri akan melihat beban CKPN akan jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini sebagai dampak dari restrukturisasi pasti ada dampak kepada profitabilitas, namun secara keseluruhan, modal itu bagus, likuiditas bagus, saya tidak melihat itu berdampak pada kinerja. Laba turun mungkin, di mana-mana banking sector pasti terlibas juga.

Belakangan ini ramai mengenai FinCEN Files, BCA termasuk ada di dalamnya, benarkah transaksi mencurigakan itu ada?

Tanpa adanya berita ini kami di bank, rambu-rambu atau peraturannya itu sangat banyak, dalam menjalankan kegiatan operasional, seluruh bank kami harus melakukan pelaporan, bagaimana mendeteksi transaksi dengan mengikuti undang-undang yang ada.

Dalam hal ini bank terus mengevaluasi, memitigasi kebijakan, pelaporan, cara operasional itu sebenarnya bisnis as usual, tanpa laporan seperti ini, kami harus lakukan secara periodik dan itu ada dalam pengawasan regulator juga. Saya lihat semua peraturan yang ada itu membuat bank selalu hati-hati.

Soal 4 transaksi mencurigakan lebih dari 750 ribu US$, apa tanggapan Anda?

Tentunya kita akan selalu mengikuti apa yang perlu kami sampaikan, apa yang perlu kami laporkan termasuk hal itu juga. Kalau regulator mengadakan pelaporan, kita akan mengikuti aturan tersebut, kita selalu comply dengan aturan yang ada.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading