Special Interview

Bangun Tol Sumatera, Begini Target Hutama Karya

Profil - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
09 August 2019 13:59
Bangun Tol Sumatera, Begini Target Hutama Karya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Hutama Karya (Persero) berhasil membukukan kenaikan laba bersih perusahaan 79,81% pada H1-2019 dibandingkan periode yang sama di tahun 2018, sehingga laba meningkat dari Rp 614 miliar menjadi Rp 1,10 triliun.

Direktur Utama Hutama Karya, Bintang Perbowo memaparkan kinerja perusahaan konstruksi plat merah ini didorong inovasi dari metode kerja yang membuat proses penyelesaian proyek menjadi lebih cepat. Hal ini pun membuat laba perseroan mampu melampaui target yang ditetapkan.

Selain itu, bisnis konstruksi pada tahun ini juga akan terus mendapatkan katalis positif dengan upaya pemerintah menggenjot proyek infrastruktur. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pemerintah dalam APBN 2019 mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar Rp 415 triliun.


Lantas bagaimana proyeksi kinerja HK pascaterbentuknya holding BUMN Karya dan bagaimana pula potensi proyek infrastruktur di era Jokowi periode kedua? Dan seperti apa review kinerja Hutama Karya di paruh pertama 2019?

Berikut pemaparan lengkap Bintang Perbowo dalam Squawk Box, CNBC Indonesia, Kamis (8/8/19).

Raihan Laba Hutama Karya Rp 1 triliun di semester 1-2019, bisa cerita apa katalisnya?
Kami melakukan inovasi-inovasi dan metode kerja dan juga procurement. Sehingga hasil inovasi itu ada tambahan-tambahan perolehan laba dari kerja keras dan kerja smart dari semua teman-teman di lapangan.

Jadi metode kerja kalau kita sekarang sudah ada lahan yang bebas, cepat dimasuki alat, dan langsung land clearing dan kita buat untuk penerusan tol itu. Kita buat secara bertahap. Kita nggak bisa tunggu sampai selesai dulu dapat lahannya. Tapi begitu ada, langsung kita kerjakan.

Proses pembebasan lahan apa masih jadi problematika?
Iya tetap ada. Jadi ada masyarakat yang bisa langsung menerima harga yang ditentukan oleh KJPP, ada yang masih berusaha untuk menerima lebih tinggi dari KJPP. Kalau ada yang seperti itu, ya konsinyasi.

Laba Rp 1 triliun ini sesuai target atau melampaui?
Melebihi. Terus terang melebihi. Kami juga sangat senang karena dengan usaha teman-teman ini justru melebihi. Kalau dari target semester 1 tahun 2019, hampir dua kalinya. Tapi kalau YoY dengan periode yang sama di tahun lalu, itu 78% lebih besar dari tahun lalu.

Apa ini hasil proyek baru?
Masih proyek lama. Karena proyek baru kalau dari departemen, belum ada yang diumumkan tender dan kalaupun ada yang dapat, seperti tadi nilai kontrak terbarunya ada tapi itu umumnya belum bisa kita kerjakan.

Laba melesat tetapi pendapatan turun sekitar 16% hanya mengantongi Rp 8,1 triliun saja. Apa penyebabnya?
Karena lahannya kita belum bisa masuk, belum bisa kita produksi. Harusnya bisa, tetapi masih tertahan. Ada yang masih dalam konsinyasi. Kita sudah titipkan uang pembebasan di lapangan, tetapi kita tetap masih menunggu hasil mereka yang sudah menerima konsinyasi mengambil uangnya di pengadilan baru kita bisa masuk.

Apa yang sedang dikerjakan Hutama Karya saat ini?
Majority adalah jalan tol Trans Sumatera. Majority-nya itu. Ada 60%. Kemudian ada proyek-proyek PLTU, PLN, ada proyek-proyek jalan yang lain dan gedung.

Proyek gedung tidak terlalu banyak. Ada di daerah Surabaya, kemudian ada di Jakarta, Jawa Barat dan lain sebagainya.

Proyek baru related ke jalan tol?
Tidak. Berbeda. Ada yang EPC, mungkin nanti ada dari PLN, juga mudah-mudahan bisa kita dapat dari Pertamina. (Di Pertamina) sudah di-announce, tapi kita belum signing.

Seperti apa Hutama Karya melihat pesatnya perkembangan infrastruktur saat ini?
Sebetulnya itu kita mengejar ketertinggalan dibanding negara-negara tetangga.
Karena bagaimanapun kalau infrastrukturnya sudah jauh lebih baik, biaya logistik untuk dari satu tempat ke tempat lain, perpindahan barang dari produsen ke konsumen, akan jauh lebih murah.


Kalau seperti sekarang contohnya, dulu kita tidak pernah dengar bahwa petani atau penghasil sayur-sayuran di daerah Lampung menjualnya malah ke Kramat Jati. Sekarang mereka dengan senang menjualnya ke Kramat Jati, dapat uangnya lebih banyak, waktunya sudah jauh lebih pendek. Sehari dia bisa dua kali. Karena ada infrastruktur yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Sudah berapa persen pengerjaan dari sisi tol Trans sumatera?
Kita ada beberapa yang sekarang lagi kita speed up untuk bisa operasional sampai dengan Desember. Yaitu Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 KM itu hampir 80% lebih fisiknya sudah kita kerjakan. Ada sedikit-sedikit spot-spot yang sudah lakukan. Desember ini 131 KM.

Ada Medan-Binjai, panjang 22 kilo itu sudah 17 kilo jadi. Ada inter change-inter change yang kita harus bebaskan dari penduduk. Itu saja yang masih kita lakukan sekarang ini.

Akan perlu waktu berapa lama sampai semua ini selesai?
Sekarang kan kita mulai Trans Sumatera dari tanah yang bebas jadi tidak dari bawah semua juga dari Aceh. Jadi dari Banda Aceh kita sudah buka Aceh Sigli. Sudah dibuka lahannya 71 KM. Sedang proses construction.

Itu di luar dugaan kami cepat sekali pembebasan lahan 71 kilo. Mungkin di dalam September ini selesai semua pembebasan lahan. Jadi konsep bisa dikebut lah. Tapi ada juga yang masih menunggu konsesi. Aceh itu sangat positif dari pemerintah daerah maupun masyarakatnya, sangat mendukung untuk pengerjaan ini.

Daerah lain ada konsesi atau masih menunggu?
Yang masih kita tunggu adalah dari Padang-Sicincin. Itu masyarakatnya masih negosiasi dan kita titipkan uangnya ke pengadilan.

Utamanya dari Padang ke arah Sicincin itu yang masih, kita baru empat setengah kilo kurang lebih yang baru bisa bebas. 4,5 kilo dari total 80 kilometer.


Sudah tahap apa?
Negosiasi, tapi kita sudah KJPP kita sudah masuk kita sudah dengan pemerintah daerah dan lain sebagainya.

Kelangsungan proyek lainnya seperti apa?
Kalau itu kan kita hanya kita berhubungan dengan owners, itu berjalan seperti tahapan biasa. Ada awarding pemenang, kemudian negosiasi mengenai kontrak, langsung kita kerjakan.

Selain proyek tol Sumatera, ada yang lain?
Kalau tol, fokus pada penugasan dari negara untuk jalan tol Sumatera. Karena tol Sumatera itu dari 2700 KM yang harus diselesaikan, harus selesai tahun 2024.

Insyaallah terkejar karena melihat perkembangan pembebasan lahan sekarang kan penggantiannya bukan pengganti orang ganti rugi terus seperti zaman dulu gitu. Karena ini harga tanah yang diganti itu sudah harga pasar. Jadi bagi yang terkena penetapan lokasi seharusnya bisa menerima dengan baik karena harganya sudah harga pasar.

Ada 'tugas negara' lain yang sudah mengantri untuk dikerjakan?
Ya nanti sambil jalan. Mungkin apa yang kita lakukan di Sumatera nanti bisa dibikin prototipe ke tempat yang lain.

Terkait mengenai holding BUMN konstruksi, menteri BUMN Rini Soemarno ingin ada holding di masing-masing sektor. Berikutnya adalah mengenai konstruksi infrastruktur di mana Hutama Karya di situ akan menjadi holding. Sejauh mana sudah dikomunikasikan?

Kita bedakan ada dua sisi yang kita kerjakan, yang pertama sisi regulasinya. Regulasinya itu ada di pemerintah. Artinya sekarang untuk peraturan atau apapun itu semua disiapkan di Setneg. Nantinya peraturan itu akan ditandatangani oleh Bapak Presiden setelah dari Setneg itu clear semua.

Kemudian yang kedua segi dari pada kita sendiri Hutama Karya yang akan dijadikan holding. Kami sudah mempersiapkan, sudah beberapa kali rapat dengan yang akan jadi member holding. Apa sih yang harus kita lakukan? Jadi karena kita ada banyak, masing-masing anggota holding kami kan banyak yang seperti ada Adhi Karya, ada Waskita, kemudian ada HK-nya sendiri, ada Jasa Marga, itu semuanya yang tiga itu, Jasa Marga, Waskita, Adhi Karya, itu sudah go public.

Jadi selain memenuhi undang-undang itu juga harus memenuhi ketentuan OJK dan lainnya. UU pasar modal mereka harus penuhi.

Untuk itu kami bahas bagaimana nanti tampilan laporan keuangannya secara konsolidasi. Jadi kami bahas dengan member para direktur keuangannya untuk nanti bagaimana auditornya. Karena auditor Hutama Karya ya pakai PWC. Terus siapa lagi nanti pakai PWC itu harus di sinkronkan supaya tidak terjadi nanti adanya perbedaan, pencatatan, persepsi dan lain sebagainya. Dan itu sedang kita bahas secara aktif dalam beberapa bulan terakhir ini.

Ditargetkan dipercepat holding BUMN infrastruktur ini?
Untuk itu kami sudah mempersiapkan apa yang harus kita lakukan nanti, struktur organisasi, bagaimana nanti holding nya. Kalau arahannya kan akan menjadi strategic holding nantinya Hutama Karya. Hutama Karya ada yang aktif konstruksi, menjadi sejajar dengan member yang lain. Itu sudah kita bahas. Mengenai percepatan itu semua kembali kepada pemegang regulasi tadi.

Jadi untuk mempersiapkan saham nanti di pindahkan, semua sudah kami siapkan. Tinggal nanti Perpres-nya nanti bagaimana. Itu saja.

Pandangan Hutama Karya terhadap holding BUMN infrastruktur ini bagaimana?
Jadi kita bisa melihat ke yang lebih besar. Kita sudah melihat contoh di holding di pertambangan. Kita nggak pernah bayangkan Inalum itu bisa mengambil Freeport. Karena itu holding itu disatukan sehingga leverage-nya mampu, digabung itu mampu untuk mendapatkan uang untuk itu. Begitu juga dengan kami.

Selama ini kan proyek-proyek yang besar untuk pembangunan contohnya kilang minyak-nya Pertamina dan sebagainya. Memang kita ikut kerja tapi kita kerja hanya dapat yang kecil. Bagian sipilnya, tetapi yang besarnya kita nggak bisa. Karena neraca kita nggak mampu kalau sendiri-sendiri, tetapi kalau digabung itu merupakan suatu kekuatan yang dahsyat.

Kita bisa me-leverage, kita bisa berpartner dengan asing sehingga seimbang. Kalau kita berpartner dengan asing, ya kita punya keseimbangan lah dengan mereka. Itu akan lebih besar.

Isu tentang pembangunan infrastruktur yang merata. Terkait pemindahan ibukota. Seperti apa?
Itu suatu opportunity bagi kami di perusahaan jasa konstruksi karena banyak nanti umpamanya akan dilakukan di daerah yang baru tersebut. Tinggal bagaimana kita masuk sana pemerintah nanti mempercayakan seperti apa. Kan kita tidak tahu kalau kita bangun di sana dari mana pembiayaannya. Apakah ada di sini? Mungkin gedung-gedung pemerintah yang bisa kita manfaatkan dan lain sebagainya.

Itu kan masih dirundingkan barangkali di bappenas atau dengan departemen keuangan. Kami mengikuti terus. Itu akan merupakan satu potensi. Tentunya kita pasti bukan hanya BUMN holding, pasti itu peran swasta akan jauh lebih besar, akan bisa ikut serta di sana. Karena nggak mungkin BUMN, nggak hanya BUMN. Kayaknya nggak sanggup gitu. Jadi nanti peran swasta akan lebih besar di dalam pembangunan-pembangunan ke depan.

Menjawab paradigma bahwa peran BUMN lebih besar dibandingkan swasta. Sebenarnya bagaimana?
Sebenarnya sampai sekarang juga tidak begitu. Kita bekerja, kita dapat sub-kontraktor kita itu swasta. Jadi memang kalau secara kecukupan dana, kemampuan, barangkali kalau swasta sendiri untuk yang sebesar itu belum bisa. Tapi kalau dia berpartner dengan kami sebagai sub kontraktor, iya memang kita selama ini sama swasta tapi mungkin nanti akan ditingkatkan perannya. Saya nggak ngerti, mungkin di sana akan dibangun properti juga. Kan banyak swasta-swasta besar properti. Pasti akan mempunyai kesempatan yang lebih besar di waktu yang akan datang.

Target-target raihannya seperti apa untuk di sepanjang tahun 2019 ini?
Sesuai dengan RKAP kita, target tahunan kita memang kita akan mendapatkan Insya Allah nanti bottom linenya nanti akan di 2,2 triliun. Karena nanti kita investasi ini kan beban bunganya lumayan banyak, lumayan besar sehingga itu nanti akan memakan sebagian daripada, tapi EBITDA kita tetap naik sehingga bottom line kita kira-kira di 2,2 sampai 2,3 triliun. Sales-nya mungkin di semester 2 ini akan jauh lebih besar dibandingkan kita yang sekarang pencapaian 8 ya, kurang lebih nanti akan kira-kira di 25 triliun.

Divestasi tol Sumatera, visibilitasnya bagaimana untuk investor?
Kalau tol Sumatera ini kan kita penugasan. Kita cuma pegang konversinya untuk sampai sekian puluh tahun nanti diserahkan kembali kepada pemerintah. Jadi disitu mungkin investasi swastanya atau ini tidak di situ. Karena Sumatra itu punyanya pemerintah.

Karena pembebasan lahan itu, itu semua yang bayar pemerintah. Hanya di dalam masyarakat sudah siap untuk dibayar anggarannya belum turun atau sedang disiapkan oleh pemerintah kan ada tahapan-tahapannya untuk menggelontorkan dari APBN. Diminta untuk dana talangan lah istilahnya. Sekarang kita pakai itu dana talangan kita bayar ke masyarakat, kita masuk, kemudian kita kerjakan. Setelah itu dana talangan yang kita lakukan itu di-reimburse setelah kita diaudit oleh BPKP.

Jokowi periode 2 masih fokus di infrastruktur. Seperti apa itu Hutama Karya melihat ini?
Menurut kami yang digariskan oleh pemerintah itu sangat tepat untuk mengatasi keterlambatan, keterbelakangan kita di dalam infrastruktur. Kemudian juga di dalam periode berikutnya Bapak Presiden mengatakan akan membangun dari segi SDM-nya. Itu dengan perkembangan sekarang ya memang kita semua juga di Hutama Karya menyiapkan pembangunan SDM itu sejak tahun lalu.

Jadi kita memberi prioritas kepada generasi muda karena di Hutama Karya ini sudah 60% lebih itu generasi yang kita sebut generasi milenial itu yang sudah bekerja. Dari mereka yang sudah bekerja kurang lebih 5 tahun di Hutama Karya, kami dorong, kami berikan kesempatan setiap tahun untuk memperdalam ilmunya, kami sekolahkan di luar negeri paling tidak 20 orang setiap tahun.

Karena di dalam persaingan ke depan, yang akan bertahan mereka yang mempunyai SDM yang kuat dan juga perusahaan yang adaptable. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading