Special Interview

Bos BRI Bicara Soal Aksi Korporasi & Rencana Bisnis ke Depan

Profil - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
26 March 2019 08:46
Bos BRI Bicara Soal Aksi Korporasi & Rencana Bisnis ke Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan lalu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan sebuah capaian baru. Pertama kalinya kapitalisasi saham Bank BRI tembus Rp 500 triliun dan menjadinya sebagai bank dengan kapitalisasi terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah DBS Singapura dan Bank BCA.

Meski sudah punya kapitalisasi pasar tinggi, saham BBRI termasuk lebih murah ketimbang dua bank lainnya. Price to book value (PBV) masih di kisaran 2,9 kali.

Direktur utama Bank BRI Suprajarto buka-bukaan soal capaian terbaru tersebut dan bicara tentang rencana bisnis ke depan BRI. Mulai dari strategi mempertahankan bisnis, membesarkan anak usaha, satelit baru hingga rencana akuisisi. Berikut nukilan wawancaranya:


Saham BRI sudah menembus rekor di pasar, apa yang market perlu pahami dari fundametntal BBRI?

Kekuatan utama adalah perfoma kinerja BBRI yang terus meningkat sejalan dengan strategi sejak 2 tahun yang lalu, sudah mulai keliatan sekarang. Hingga kini performa pun luar biasa.

 
Market cap tembus Rp 500 triliun dan jadibank ketiga terbesar di Asia Tenggara tapi masih kalah dari BCA. PBV BCA 4,6 kali sementara BRI 2,9 kali, yang perlu pasar pahami?

Tentuk ita agak sedikit berbeda dr BBCA, perfoma kinerja terus terbina dengan baik. BBRI 1 tahun terakhir laba terbesar tapi kita terus melakukan transformasi. Sebagai BUMN punya kewajiban agent of development tanggung jawab ke masyarakat, kita banyak di segmen mirko kecil dan menengah.

Dengan upaya yang dilakukan kami akan jadi yang terbaik, dan mendekati bank-bank di atas kita. Transformasi bisnis, yang kami lakukan dari SDM, teknologi kami lakukan. Ini akan create pertumbuhan profit bisnis, cepat tumbuh. Kami dorong teknologi yang terkait digitalisasi. Dukungan anak usaha, 10 anak usaha, akan jadi engine sendiri, akan didorong jadi tanggguh dan memberikan income BBRI.

Foto: BRI Cabang Pacitan | wikimapia.org
 
Pada 2018 suku bunga acuan naik, NIM bank pada turun, apakah akan terulang untuk NIM BBRI tahun ini?
 
Ada hal-hal yang berpengaruh di kita, secara bisnis, yang digeluti UKM harus diturunkan lagi supaya pertumbuhan ekonomi masyarakat lebih cepet. NIM kami dari fee based income  kami dorong lebih cepat dari NIM. Dari ekosistem dan literasi. Sudah on track dan di pipeline kita. Transformasi teknologi, SDM, dan bisnis proses, ini akan membantu pertumbuhan NIM.
 
Bicara porsi pendapatan dari fee based income, pendorong utamanya BRI masih segmen mikro 30% dan korpotare 26% apa akan dijaga? Atau ada diversifikasi misalnya konsumer?

Pasar utama kami tetap mikro, tapi kami akan kembangkan. Mikro ini berikan kontribusi tinggi, bagaimana mereka efisisen dalam cost. Apikasi digital loan.  Untuk memperkecil cost jadi margin tinggi. Jadi kami akan menggarap konsumer, agar pegawai ASN dan swasta, sudah ada digital loan, buat konsumer loan, pegawai tinggal masuk aplikasi dengan pola scoring, selain kontribusi untuk income akan diberikan efisisensi buat kita, sehingga akan menaikkan margin ke konsumer.

Kami juga akan masuk ke komunitas, beberapa komunitas pertanian, kami akan garap secara kusus, dari kecil ke menengah. Karena kami ada di mana-mana, potensi ini belum maksimal digarap, ini kami yakin akan memberikan kontribusi income.
 

Saat ini hampir seluruh unit kerja dilakukan dengan digital loan efisiensi luar biasa, orang yang menangaini berkurang. Rasionya dari 1:400 yang bisa dipegang, jadi perbandingannya 1:1.500, jadi makin luas pasar yang digarap. Punya lebih dari 400 ribu agen BRI Link, digital loan akan jadi digital agent yang tersebsar di Indonesia, jadi tanpa orang kami serahkan ke agen BRI link.
 
Lalu cara menurunkan NPL?

Ada beberapa pipeline yang kami lakukan untuk NPL, terutama recovery atau NPL recovery sudah sukses dan kami akan lanjutkan ini akan meng-create pendapatan. NPL yang besar kami akan terus upayakan mulai kita rintis tahun kemarin, kami lebih selektif, memberikan kredit pipeline yang sudah kita maping dengn matang. Semua dari awal seleksi satu-satu, atasan minta RM satu per satu dan kami buat pipeline, ada upaya lain perbaikan bisnis proses dan sebagainaya.

Foto: Infografis/Satelit BRISat/Arie Pratama
 
Satelit BRI memberikan efisiensi Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Katanya akan ada sateliy kedua, sudah sejauh mana?

Satelit ini sangat efektif menurunkan cost, gak hanya itu yang pasti dengan satelit kepercayaan konsumen makin bertambah. Kalau bicara satelit hampir semua unit kerja di pointing ke satelit, cost yang jadi bebean rutin berkurang, vendor yang jadi backup kita cadangan ini bisa dengan berbagai cara kalau kita sewa mungkin dalam kapasitas besar, cadangan kecil bahkan kita beli bulk, ini akan diefektifkan ke agen BRI Link, dari cost kita gak nambah, tapi dari operasi akan bertambah besar.

Kami ingin satelit kedua tapi prosesnya gak gampang. Mungkin kami share swap dengan Telkom, bisa juga dengan telkom, transponder untuk share swap, sinergi bumn adalah keharusan makanya itu yg dilakukan. Syukur-syukur ada slot orbit yang bisa kita manfaatkan.


Soal Brisat II, nilai investasi yang sudah disiapkan, target realisasi?

Brisat II tentu ketersediaan slot orbit, dan satelitnya sendiri., pesen satelit ga cepat. yang pertama juga belum, dan masih sulit yang kita pilih kedua mungkin share swap dengan Telkom atau yang lain. Jadi belum bisa menyampaika. Begitu dapat slot orbit baru kita jajaki ke industri satelitnya. Baru bisa ancer-ancer kapan.
 
BBRI baru akusisi Anak Bahana di bidang modal ventura dan Danareksa Sekuritas, alasan dilakukan aksi korporasi ini?

Kalau yang pertama BRI Venture, lebih kami akan kembangkan untu kplatform fintech dan startup, BRI yang sudah besar bisa fokus buat menangani yang kecil makanya kami ambil.

Danareksa sekuritas harapan kami selain bisa membantu BRI, terkait pasar modal tapi juga membantu nasabah yang selama ini harus ke tempat lain. Nasabah kami yg mau IPO dan bonds bisa lebih gampang. Kami mimpi kami punya tugas buat menabung saham, kendala kami karena gak punya sekuritas, mudah-mudahan nabung saham sehingga saham ritel bisa berkembang, BRI bsia berkontribusi.
 
Apakah sekuritas ini akan berganti nama, seperti BRI sekuritas?

Pengennya ada BRI-nya ini lagi didiskusikan dengan Danareksa. Apapun branding BRI luar biasa, kalau Danareksa Sekuritas ada BRI ada menambah branding lebih dikenal dan masyarakat bisa percaya karena induknya besar sekali. Ini yang baru kami lihat nama yang paling pas, nama gak bisa sembarangan.

Soal konsolidasi perbankan, apa BRI akan akuisisi bank kecil lagi?

Tentu kami kalau ada bank yang cukup cocok untuk kita dari bisnis dan infrastruktur dan cocok harganya, tentu akan kami coba lihat. Kami sudah cadangkan untuk satu bank kecil di RKAP, kami lagi lihat-lihat.
 
Foto: Bank BRI (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Bagaimana dengan BRI Agroniaga dan BRI Syariah?

Ini dua hal yang harus didorong untuk jadi BUKU III, supaya bisa flesibilitas operasional dengan potensi induk luar biasa. BRI Agro kami akan bidik untuk nasabah kebun dan pertanian, luar biasa potensinya. BRI Syariah sendiri didorong buat BUKU III, buat pasar muslim yang sangat luar biasa, dengan induk gede ini pasar muslim besar, mereka gak akan kesulitan sehingga mereka akan memetik laba yang luar biasa.
 
Berapa usulan deviden pay out ratio?

2017 kami berikan 40% deviden, kami ingin kalau disetujui oleh pemegang saham 45-50% syukur bisa 50%, saya berharap.
 

2019, apa yang perlu dipahami tentang target bisnis?

Memang pertumbuhan kredit konsevatiif, 14-15%. Untuk DPK  sekitar 12-14%, laba di atas tahun kemarin, di atas 12%, ini adalah pipeline yang mudah-mudahan bisa terwujud. Untuk Capex dan Opex kami kendalikan, efisiensi terus kami lakukan, karena unit kerja yang sekian banyak kami harus pelototin satu-satu teknologi maupun cara-cara yang lain, dengan efisiensi itu unit kerja yang mobilnya banyak, sudahlah kasih ke BRI Finance buat unit kerja yang lain, pake Grab saja. Mungkin juga hal-hal yang terkait dengan bangunan kalau kegedean kami kecilkan, pola-pola yang kami tempuh buat efisiensi.
 
Target kredit yg disalurkan 2019, karena ada variabel baru suku bunganya tetap dan resesi negara maju, target DPK?

Kalau untuk kredit saya percaya akan tinggi, market kita komitmen tetap fokus di mikro kecil dan menengah potensinya masih besar, segmen itu masih kuat di Indonesia dan gak berpengaruh dengan kondisi global, justru karena kita fokus di mikro kecil dan menengah makanya BRI sustain pertumbuhannya.

Tahun kemarin anomali pada turun kami malah naik. Target kredit malah saya revisi naik bukan turun, fokus kita tetap di mikro kecil dan menengah. Apalagi konsumen yang terus naik, walaupun bank kompetitor sudah masuk ke segmen itu. Ini optimisme kita, The Fed kan juga gak naik tahun ini, masih ter-maintain dengan baik, kalau suku bunga  ter-maintain dengan baik, demand kredit pun akan tinggi dan saya yakin Pilpres aman sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbu lagi jadi dampak posotif buat BRI.
 
BRI Syariah jadi bank BUKU III, target suntikan modal, dan dari cadangan akusisi bank kecil, BRI butuh bank seperti apa consumer atau corporate loan?

Syariah tahun ini dengan pertumbuhan laba yang cukup gak perlu suntikan modal. Kami dorong mereka create laba yang cukup dikonversi jadi equity jadi cukup buat BUKU III.

Akusisi ada beberapa pilihan, yang pertama yang betul-betul kami ambil beberapa yang punya background bisnis dan infrastruktur yang sama jadi kami gak terlalu banyak. BUKU I atau BUKU II, maksud kami, kami juga ada misi supaya sesuai dengan OJK, makanya kami akan lihat  BPD, kalau kita bisa kolaborasi ini jadi salah satu pertimbangan. Kendala di Mendagri, mereka harus minimal 51%.

Simak video BRI berencana miliki satelit kedua di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading