Special Interview

Eksklusif: Bos BEI Bicara Saham di Bawah Gocap & Jurus 2019

Profil - Houtmand P Saragih & Monica Wareza, CNBC Indonesia
01 January 2019 13:11
Eksklusif: Bos BEI Bicara Saham di Bawah Gocap & Jurus 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Satu hari jelang penutupan perdagangan saham 2018, CNBC Indonesia mendapat kesempatan melakukan wawancara dengan orang nomor satu Bursa Efek Indonesia, yaitu Direktur Utama Inarno Djajadi.

Pria kelahiran Yogyakarta pada tanggal 31 Desember 1962 menyempatkan diri berbincang banyak seputar arah industri pasar modal Indonesia, serta potensi besar yang menjadi daya tarik pemodal global untuk berinvestasi di portfolio di dalam negeri.

Selain, itu pria lulusan Fakultas Ekonomi Universita Gadjah Mada juga bercerita banyak langkah-langkah yang akan dilakukan untuk pendalamam pasar dan meningkatkan likuiditas. Pasalnya, sejak swastanisasi bursa pada 1992, produk investasi di pasar saham Indonesia tertinggal dibandingkan pasar modal negara-negara tetangga.


Selain itu, Inarno yang mulai efektif menjadi Dirut bursa pada 29 Juni 2018 juga mencanangkan 12 inisiatif untuk mengembangkan pasar saham domestik. Seperti apa rencana tersebut, mari simak wawancara Inarno dengan Houtmand P Saragih dan Monica Wareza dari CNBC Indonesia.
Bos BEI Bicara Harga Minimal Saham dan 12 Inisiatif 2019Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Bagaimana pasar saham pada 2019 menurut proyeksi Anda?
Tahun depan kalau saya lihat kita cukup oke, meskpun ada Pemilihan Umum (Pemilu). Karena memang dalam beberapa pemilu terakhri juga tidak teralu signifikan. Kinerja IHSG saat pemilu 2014, 2009 dan 2004 semua trennya positif. Jadi kalau menurut saya trennya tetap oke.

Terhap IPO pengaruhnya juga tidak terlalu banyak, bahkan tidak berkurang (dari target) jadi kalau dilihat kita cukup optimistis untuk 2019 nanti (pemilu) tidak akan ada pengaruh terlalu banyak. Kalau ada riak-riak kecil itu biasa, tetapi overall di tiga Pemilu kemarin oke-oke aja jadi saya cukup optimis.

Faktor-faktor apa yang jadi perhatian?
Kalau tantangan terbesar menurut saya bukan dari internal, justru dari eksternal, bagaimana dengan kondisi global. Seperti tahun ini kita lihat kan kondisi global yang sangat berpengaruh ke internal.

Tetap kalau kita lihat dari sisi kita sendiri termasuk yang bagus ketahanannya dengan negara lain. Sebagai contoh Indeks Dow Jones itu turunnya sampai 7% year to date, kita sampai sekarang terkoreksi less than 3% per hari ini (ditutup koreksi 2,45%).

Sementara di regional, dibandingkan dengan Malaysia, Singapura juga, Filipina kita lebih baik. Ketahanan kita cukup bagus.

Jadi memang faktor eksternal itu tantangan yang given, diman punya kuasa untuk mengendalikannya, yang kita bisa laksanakan adalah perkuat kita sendiri, deepening the market, supply dan demand harus diperkuat.

Dari sisi suppl IPO harus diperbanyak. Produknya juga harus diperluas, tidak hanya saham tapi derivatifnya juga harus ada. Lalu dari sisi demand investornya harus kuat, SID lokal harus diperkuat. Itu salah satu yang kita upaya yang bisa dilakukan.

Banyak yang khawatir dengan resesi AS, bagaimana dampaknya ke pasar saham bagaimana?
Dampaknya pasti lumayan, terhadap perekonomian kita juga pasti ada. Tapi kembali lagi bahwa itu sesuatu yang given, di luar kuasa kita, apa yang bisa dilakukan adalah perkuat kita sendiri, perkuat infrastruktur kita, that is why kita memiliki new JATS (Jakarta Automated Trading System), data center baru, kapasitas dinaikkan, kapasitas untuk new order juga dilakukan. Itu semua yang bsia kita lakukan, kalau eksternal ya itu given.

Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sudah mulai dovish, bagaimana menurut anda?
Menurut saya tidak ya, karena kondisinya berbeda. Tapi kembali lagi, kalau saya percaya kalau itu adalah masalah eksternal. Kita tidak bisa apa-apa, yang bisa dilakukan pasar modal ya kita melakukan yang bisa dilakukan, perkuat kita sendiri. Semua itu ada positifnya.

Ini penting (penambahan produk), karena naik turun pasar saham itu opportunity. Kita harus punya berbagai alternatif investasi, alternatif produk saat harga saham naik atau turun, jadi orang bisa melakukan hedging (lindung nilai). Bisa ambil untung saat terjadi penurunan. Kita harus persiapkan itu semua. Itu adalah PR kita.
Kalau sekarang orang jual saja jadi searah pasarnya makanya kita harap dengan adanya produk baru ada keseimbangan antara pasar turun ada orang yang ambil untung, naik juga ada yang ambil untung.Inarno Djajadi, Direktur Utama BEI

Tapi kalau kita tambah produk, investor sudah siap terima?
Kita melakukan privatisasi bursa sejak 1992, apa yang sudah dilakukan (penambahan produk)? Tidak ada. Kalau kita selalu bicara apa investor siap atau belum, kapan siapnya. Sedangkan yang lain-lain itu sudah mengeluarkan produk bar, kita mesti realistis, ini yang mau dijalankan.

Apa investor accept ya kita upayakan untuk accpet produknya. Bisa berhasil apa tidak ya kita harus coba, kapan lagi kalau tidak sekarang. Kita juga sudah siap bahwa kalau ini gagal tapi kta coba inisiatif kita berhasil tapi ga bisa 100%.

Kalau tidak bisa ya kita coba yang lain, kenapa tidak. Ini saatnya mencoba dari 1992 sampai sekarang kita tidak punya produk selain ordinary equity, jadi ini saatnya.

Selama in kendalanya adalah keberadaan market maker yang bisa bikin produk jadi atraktif, caranya gimana?
Memang ada beberapa persyaratan dasar yang kita perlu diubah, misal securities lending and borrowing itu perlu ada, sekarang sudah jalan tapi belum aktif. Kita juga mesti sadar awareness dari masyarakat kurang, option dan derivatif juga pandangannya beda-beda.

Nah itu yang kita butuh untuk sosialisasi untuk memperkenalkan produk. Jangankan masyarakat awam karyawan bursa saja belum tentu semuanya ngerti. Itu makanya edukasi penting, sosialisasi penting.

Namun kita tidak takut gagal, kita buat dalam RKAT inisiatif strategis utama ada 12, kita tidak takut gagal, kalau gagal ya yang enting kita sudah usaha.

Produk derivatif ini bentuknya seperti apa?
Macam-macam. Single stock future, index future, structure warrant, Indonesia government bond future (IGBF), bond trading, indeks baru. Jadi kita coba semuanya untuk perdalam market, perkuat likuiditas.

Bukan kurang, tapi apa sekarang ada, kan semuanya hanya satu. Bisa dibayangkan kalau sekarang semuanya turun karena banyak yang jual, tidak ada yang melihat aksi jual itu sebagai suatu opportunity untuk ambil untung. Kalau misalnya dia hedging kan ada saatnya dia ambil untung, kan ada posisi dia beli. Kalau sekarang orang jual saja jadi searah pasarnya makanya kita harap dengan adanya produk baru ada keseimbangan antara pasar turun ada orang yang ambil untung, naik juga ada yang ambil untung.

Ada berapa derivatif tahun depan?
Ada 4 sama IGBF. Single stock future, index future, structure warrant, Indonesia government bond future. Tapi kan single stock future bisa macam-macam sahamnya, tidak cuma satu, stocknya apa saja macam-macam.

Apakan dari sisi regulasi investor institusi bisa serap banyak produk derivatif?
Boleh untuk hedging, jadi ada POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) yang mengatakan untuk lindung nilai (hedging), tetapi tidak untuk spekulasi. POJK sih bilang kalau dilarang untuk spekulasi dan wajib untuk lindung nilai. POJK Nomor 5/2015 tentang Investasi di Pasar Saham.

Tahun depan apakah ada IPO yang sizenya besar?
Rasanya ada, cuma saya belum bisa bilang. Kalau target masih 35.

Kalau di tahun politik pada nahan untuk IPO tunggu kepastian presiden, berpengaruh ga ke target?
Kalau dari 2004, 2009, 2014 dari total IPO memang tidak menujukkan adanya pola perbedaan antara pemilu dan tidak ada pemilu. Waktu 2004 itu 12 perusahaan, 2009 ada 13 perusahaan, di 2014 ada 24 perusahaan sebelumnya juga dekat-dekat dari situ juga.

Jadi kalau kita lihat dari itu saja IPO dan indeks tidak turun ya mestinya tidak ya, mungkin orang nahan di smeester 1 tapi kalau sudah fix ya orang tidak nahan. Tapi tetap di 2019, jadi kita tidak turunkan target.

Di pipeline berapa?
Pada 2018 kan ada 57 perusahaan yang IPO dan total emiten 619. Saat ini di pipeline ada sekitar 12, awal tahun bisa masuk.

Jumlah emiten tahun ini lebih banyak tapi dari nilai fundrising-nya lebih besar tahun lalu, kenapa?
Itu bisa dilihat dari sisi berbeda, tapi kita ingin meperlihatkan tidak berpihak pada segmen tertentu saja. Tetapi juga ke berbagai segmen, bukan cuma hanya yang besar-besar saja. Kalau yang saya tahu memang yang besar-besar wait and see atau preparation.

Namun sekarang memang BEI dan OJK membuka peluang untuk mencatatkan di papan pengembangan. Kan yang kecil juga belum tentu jelek.
Bos BEI Bicara Harga Minimal Saham dan 12 Inisiatif 2019Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Mengatasi perdagangan saham di tahun ini IPO banyak yang kena UMA?
Itu karena distribusinya tidak merata. Makanya tahun depan ada electronic book building, nanti kita persyaratkan persentasi tertentu saham harus dipegang public berapa persen. Kepemilikan publiknya harus besar dan distribusinya harus lebih kepada yang pooling dikasih presentasi lebih besar, semakin kecil fundrise nya harus semakin besar yang porsi pooling. Jadi kita harapkan lebih imbang. Harganya juga diharapkan lebih wajar.

Sekarang nilai transaksi naik karena pengaruh T+2 atau gimana?
Saya tidak mau jawab itu ya karena horizonnya mesti panjang tetapi dari perubahan T+4 ke T+3 itu luar biasa juga, itu 2002 dimana IHSG hanya 430 dan sekarang naik luar biasa, transaksinya luar biasa. Cuma kalau simpulkan naik karena T+2, jadi lihat dari peralihan dari T+4 ke T+3 itu luar biasa.

Kabarnya satuan lot juga kan diubah?

Itu kita kaji dulu, tapi setuju kalau akan lebih kecil dari yang sekarang. Selain itu, nilai terkecil harga saham Rp 50/saham juga kita kaji apa perlu untuk dibuka biar lebih fair.

Daripada ditahan di harag Rp 50 tapi di pasar negosiasi di bawah itu. Kalau dibuka kita jadi ga pusing, jadi masalah reverse stock ga akan bisa lagi. Mereka udah ga bisa main di itu lagi. Tapi masih kita kaji. Ya bisa, kajiannya memang ke arah sana di bawah Rp 50 dan sangat memungkinkan biar ga ada reverse stock split biar tidak ada kontroversi.

Satuan lot itu idealnya berapa?
Sekarang kan yang gocapan aja masih banyak, kalau missal dibikin satu lot satu lembar jadi berapa duit itu. Itu kan semuanya harus dikaji, kapasitas mesinnya. Ya banyak yang dikaji apalagi dengan adanya penny stock yang sekarang aja gocap jadi berapa.

Limit harga terendah juga dikaji?
Lihat dulu sekarang limit harga rendahnya gimana, kalau gitu kan harus dilihat juga UMA (unusual market activity)-nya akan gimana. Kalau harga seperak naik ke dua perak udah 100%, susah juga. Kan itu perlu dikaji juga. Tapi ada rencana merubah tapi belum tau ke berapa, memang lebih enak kalau sudah berubah lebih enak. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading