Special Interview

Benny Tjokrosaputro: "Saya Bukan Player"

Profil - Muhammad Sabki & Fitriyah Said & Houtmand P Saragih & Shuliya Ratanavara, CNBC Indonesia
01 February 2018 09:45
Benny Tjokrosaputro:
Jakarta, CNBC Indonesia - Siang itu, jam menunjukkan pukul 12.30 WIB, sekitar satu setengah jam TIM CNBC lebih menunggu di lantai 21 Mayapada Tower yang berlokasi di bilangan Sudirman. Tim CNBC Indonesia berencana melakukan wawancara dengan Benny Tjokrosaputro, Direktur Utama yang sekaligus pemilik PT Hanson Interntional Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO).

Jadwal wawancara tersebut mundur dari jadwal yang disepakati semula 11.00 WIB. Kesibukan Benny menerima sejumah tamu dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, membuat kami memaklumi jadwal wawancara jadi molor. Saat Bentjok, begitu dia akrab disapa oleh pelaku pasar, mulai senggang, kami pun dipersilakan masuk ke ruangnya.

Tim CNBC dipersilakan masuk ke ruang kerja Benny yang jauh dari kesan mewah. Ruang kerja yang lumayan luas itu justru banyak dokumen-dokumen bertumpuk di meja dan peta site map yang merupakan proyek perumahan milik Hanson Internasional berjejer di dinding.


Agar tak buang-buang waktu, setelah memperkenalkan diri, kami langsung mengajak Bentjok berbincang-bincang. Banyak hal yang ingin kami tanyakan ke orang yang reputasinya begitu mentereng di kalangan pasar modal ini.

Dia disebut-sebut sebagai salah satu market maker alias “bandar” bandar besar di pasar saham. Di mana kiprah atau sepak terjangnya sudah mulai terdengar sejak era 1990-an. Sempat pula berperkara, dan mendapat sanksi dari Badan Pengawawa Pasar Modal (Bapepam) , otoritas pasar modal saat itu sebelum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbentuk.

Bentjok juga disebut-sebut salah satu yang bisa mengeruk keuntungan besar dari transaksi di pasar saham. Bentjok sendiri mengakui secara jujur, kalau dia memanfaatkan pasar modal mencari sumber pendanaan membiayai ekspansi perusahaannya.

Terkenal dan kondang di kalangan pasar modal, ternyata banyak juga yang belum mengenal Bentjok. Untuk itulah kami ingin mengenal dan menggali lebih dalam informasi tentang dia dan ingin menyampaikan kiat-kiat investasi dari orang kondang ini. Berikut petikannya:

Bagaimana penilaian Anda terhadap perkembangan pasar modal Indonesia sekarang?
Perkembangannya pesat sekali berapa tahun terakhir ini luar biasa. Jumlah investor meningkat drastis, jumlah emiten meningkat drastis. Kapitalisasi pasar kalau enggak salah saya denger dari Pak Tito (Tito Sulistio, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia) lebih besar dari perbankan. Luar biasa, artinya orang sudah menganggap pasar modal ini sarana investasi yang berbobot. Baguslah.

Sejak kapan Anda mulai main dan berkecimpung di pasar saham?
Saya sudah lama, masih kuliah saja sudah main saham. Umur 18 tahun – 19 tahun. Ya ikut temen saja ngantre-ngantre beli saham IPO (Initial Public Offering/IPO) tahun 1989 waktu itu baru mulai-mulai hot kalau ditanya di Indonesia saat itu mungkin belum banyak yang berpengalaman karena baru mulai pasar modalnya. Masih fisik itu serah terima sahamnya, pakai papan tulis.

Anda dari keluarga pengusaha tekstil, kenapa tidak meneruskan itu?
Di keluarga saya itu enggak cuma batik dan tekstil. Ada properti kan, nah saya lebih baik berkecimpung di properti dari dulu sekolah.

 “Saya Ini Bukan Player”Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Apa proyek petama di properti?
Kalau keluarga saya itu ada real estate di Solo namanya Solo Baru. Itu yang pertama kali, kalau sekarang ya banyak sekali saya enggak bisa ngitung.

Terkonsentrasi di mana proyek-proyek properti Anda?
Mayoritas 60%-70% di Jabodetabek. Market paling besar kan di sini, kebanyakan residensial.

Bagaimana Anda mengelola bisnis properti (sektor riil) dan berinvestasi di pasar saham secara bersamaan?
Sebetulnya portofolio saham saya juga enggak terlalu banyak, fokus bisnis saya tetap properti. Bahwa saya rajin go public iya, rajin mencari dana di pasar modal betul karena prinsipnya bisnis properti itu kan satu harus long term, kedua di Indonesia itu beli tanah enggak boleh pakai uang pinjaman. Jadi saya harus kreatif mencari pendanaan yang non bank yaitu pasar modal surat utang atau surat saham.

Sehari bisa nilai transaksi di pasar saham berapa?
Enggak tentu, tergantunglah. (Benny enggan menyebutkan angka)

Anda dikenal sebagai market maker di bursa?
Itu terlalu dibesar-besarkan, yang lebih sering main lebih banyak.
Tapi enggak semua investor kuat tahan begitu lama, ada yang cara berpikirnya lebih pendek. Untuk yang seperti ini, carilah perusahaan dengan growth yang cepet.Benny Tjokrosaputro, Direktur Utama Hanson International

Kemarin Anda sering keluar-masuk di saham RIMO (Rimo Internasional Lestari) dan MYRX (Hanson Internasional) dalam jumlah besar?
Saya kan kadang-kadang melakukan transaksi repo. Repo kan bukan jual beli, tapi pinjam uang jaminan saham. Jadi kadang-kadang kalau saya melakukan repo, normal lah saya meminjam duit mereka minta dibalik nama. Jadi itu bukan transaksi beneran, tapi repo.

Repo saya kebetulan lagi aktif, ada yang cair jatuh tempo saya kasih. Ada yang ngasih fresh money minta dibalik nama ke dia. Lawan reponya kan enggak cuma satu, banyak. Enggak semua yang melibatkan nama saya itu jual beli. Kalau jual beneran saya melakukan private placement itu jual beneran. Kalau repo kan cuma saya gadaikan saham saya jadi ya mereka minta dibalik nama.

Bisa cerita pengalaman mengesankan bertransaksi di pasar saham?
Saya enggak merasa ada hal yang luar biasa, itu biasa-biasa aja. Kayak dagang batik, tekstil, dagang properti kadang laku jual untung, kadang enggak mesti jual obral. Ya anggap saja sama.

Bisa berbagi tips investasi saham?
Menurut saya standar (berinvestasi) mirip saja. Harus disesuaikan dengan kapasitas investor. Kalau bisa long term, seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun yang berinvestasi pada saham yang perusahaannya yang stabil, mungkin cocok. Lo Keng Hong mungkin cara pikirnya sama seperti itu.

Tapi enggak semua investor kuat tahan begitu lama, ada yang cara berpikirnya lebih pendek. Untuk yang seperti ini, carilah perusahaan dengan growth yang cepat. Tapi risiko juga pasti ada. Risiko lebih gede, chance untungnya lebih gede.

Di Indonesia itu banyak yang short term yang mainnya daily trade lah. Nahan seminggu saja sudah keringat dingin, dua minggu sudah dianggap long term. Untuk yang seperti itu ya jangan beli saham perusahaan long term. Saham long term diajak main seminggu dua minggu kan belum tentu bisa untung. Kalau circle-nya pas lagi turun kan konyol.

Kalau anda pemain yang short term itu pinter-pinter baca tren saham. Kedua nguping gosip-gosip di pasaran itu. Kita kan tahu di bursa itu gosip sudah jadi makanan investor tiap hari. Medsos saja, tanya broker saham saja sudah tahu.

Tips saya untuk investor yang seperti itu dengerin saja itu gosipnya, terus lihat sahamnya. Kalau fundamentalnya bagus dan harganya masih di bawah, beli saja merem. Kenapa? Karena kalau infonya ngaco pun harganya enggak akan ke mana-mana Pak.

Apes-apesnya harga masih sama. Jangan sudah naik 10 kali lipat masih dikejar juga risikonya jadi enggak karuan. Nah kalau infonya pas bener kan kayak dapet lotre Pak pas harganya loncar 50%-100% kan enak.

Kalau Anda tipe yang mana ?
Saya jujur ya saya ini bukan player. Saya ini rajin go public perusahaan. Kalau dihitung untung rugi saya juga bingung untung ruginya. Menurut saya untung rugi itu urusan orang di market lah. Kalau buat saya yang penting itu rising fund bikin perusahaan lebih besar lebih bagus ujungnya saham saya yang tersisa yang enggak go public ini kan naik juga.

Yang mau IPO itu Harvest ya? Mau lepas berapa?
Ya ini kita baru tanda tangan akta mau go public sama notaris. Kita lepas sekitar 15%. Rising fund sekitar Rp 300 miliar – Rp 500 miliar.

Siapa role model dalam berinvestasi saham?
Saya pikir enggak ada ya. Saya belajar dari semua orang, siapa saja yang saya anggap pintar ilmunya tinggi biar pun dia lebih muda juga pasti saya belajar. Saya comot sana-sini.

Tidak ada tokoh-tokoh tertentu yang Anda kagumi, Warren Buffet misalnya?
Ya kita bisa lihat Warren Buffet kalau punya kesempatan seperti dia, memulai bisnis semuda dia, hidup sepanjang dia, sekonsisten dia, tapi kan jarang. Dia selalu mikir long term dan dia selalu berusaha untuk masuk investasi di perusahaan yang bisnisnya dia paham. Nah itu cocok, kalau kita paham industri yang akan kita masuki kesempatan kita untung akan lebih besar.

Prediksi Anda terhadap kinerja pasar saham Indonesia tahun ini seperti apa?
Oh sampai awal tahun depan, minimal setahun, itu masih akan bagus karena situasi global juga mendukung. Amerika nurunin pajak, penduduk Amerika jadi konsumtif, industri jadi tumbuh, komoditas ikut tumbuh karena industri-industri tumbuh akhirnya semua kebagian. Begitu pabrik hidup, komoditas hidup ya ekonomi lancar. Begitu ekonomi lancar semua orang konsumtif kita berharap belanja rumah tangga ya.

Sektor mana yang akan atraktif?
Seperti normalnya yang duluan itu komoditas tapi abis itu yang lain juga ikut. Consumer goods kan emang selalu bagus. Habis komoditas hot, bank juga ikut bagus, yang lain juga pasti ikut bagus. Ini udah mulai kok. Pasar modal bergerak lebih cepat dari sektor riil karena orang beli ekspektasi. Jadi menurut saya pasar modal akan lari dulu sebelum ekonominya.

Rencana ekspansi Hanson?
Ekspansi yang seperti tadi dibilang di Maja dan Serpong itu sudah cukup besar pak. Sudah terealisir separo atau sepertiganya aja udah lega.

Akan gandeng partner?
Ada, sudah ada nama-namanya tapi belum pasti. Enggak boleh sebut namanya entar misleading information lagi konyol saya dipanggil OJK lagi. Yang jelas kan yang saya sudah ada partner itu kan Pak Tak Kian dan Ciputra ya sudah itu saja.

Capex 500 miliar untuk semua proyek, terutama saya paling suka beli tanah karena itu bahan baku utama kalau properti.

 “Saya Ini Bukan Player”Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Bagaimana prospek properti?
Indonesia ini salah satu negara yang growthnya bagus. Kedua pertumbuhan ekonomi juga salah satu yang bakal melaju. Ketiga generasi muda kita itu masih banyak, keempat angka kelahiran tinggi, kelima nah ini kenama jabodetabek masih bagus karena urbanisasi ke jabodetabek luar biasa tinggi. Itu yang membuat market di sini sangat menarik

Saya kasih simulasi aja ya. Bandung itu kota yang umurnya sudah ratusan tahun, Serpong itu baru 20 tahun udah lebih gede dari Bandung. Satu satelit Jakarta saja sudah lebih gede dari Bandung dan enggak butuh waktu ratusan tahun cukup 20 tahun udah penuh. Jadi Anda bisa bayangin, bikin satelit aja segede Bandung. Padahal satelit kan enggak Cuma Serpong, ada Bogor ada Bekasi, Depok. Satu satelit saja sudah lebih gede dari Bandung. Jadi kalau Anda tanya, harga market properti di Jakarta salah satu yang terbaik di Jakarta.

Jadi mau membuat tandingan Serpong?
Amin.

Itu yang di Maja katanya mau disatukan semua 15.000 hektar?
Ya itu mimpinya, mimpi boleh dong. Kata Ciputra jangan takut bermimpi.

Relasi Anda dengan pemain-pemain besar properti seperti apa?
Ya nyaris semua kenal.

Untuk residensial, setelah Jabodetabek mau ke mana?
Sebetulnya kita banyak seperti Balik Papan dan Banjarmasin.

Wawancara Tim CNBC Indonesia dengan Benny Tjokro juga akan ditampilkan dalam format video streaming. Bisa anda saksikan melalui kanal kami ini. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading