Special Interview

Industri Asuransi, Milenial, dan Hantu

Profil - gita rossiana & Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
15 January 2018 15:17
Industri Asuransi, Milenial, dan Hantu
Jakarta, CNBC Indonesia - Masa depan pemasaran industri asuransi bukan lagi terletak pada kanal keagenan ataupun pemasaran melalui bank. Teknologi digital diprediksi akan menjadi sarana pemasaran wajib bagi perusahaan asuransi di masa depan.
 
Lantas, segmen masyarakat seperti apa yang menjadi sasaran pemasaran berbasis digital ini. Kaum milenial akan menjadi sasaran semua perusahaan asuransi, tidak hanya perusahaan asuransi berbasis digital, namun perusahaan asuransi lain yang baru tersadar akan derasnya disrupsi teknologi.

Jangan sampai nanti ada perusahaan non asuransi masuk ke industri asuransi dengan model berbeda seperti hantu.
 
Bagaimanakah pelaku industri asuransi memandang hal tersebut, berikut petikan wawancara oleh Senior Reporter Gita Rossiana dan Head of Brand Newsroom Donald Banjarnahor mewakili CNBC Indonesia dengan Direktur Utama PT. Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) Julian Noor di Graha Adira, Jumat (12/1/2018).
 
Bagaimana bapak memandang perkembangan teknologi saat ini dan dampaknya terhadap industri asuransi?
 
Pada era digitalisasi seperti saat ini, pemasaran asuransi akan mengarah kepada penggunaan aplikasi. Proses pemasaran asuransi menggunakan aplikasi ini berbeda dari cara konvensional yang selama ini dilakukan oleh perusahaan asuransi. Di sini, produk yang dijual tetap sama, namun kemasan pemasarannya muncul dengan tampilan yang berbeda.
 
Lalu, sudahkah Adira Insurance menyadari pentingnya teknologi ini dan mengaplikasikan kepada produk perusahaan?
 
Sebagai perusahaan yang memiliki konsentrasi di asuransi kendaraan bermotor, pada 2018, kami akan tetap konsentrasi di segmen tersebut. Selain itu, kami juga mulai ekspansi ke asuransi properti, namun dikembangkan dengan mencoba diversifikasi channel. Distribusi yang kami akan pergunakan untuk asuransi properti adalah melalui digital. Pada kuartal pertama tahun 2018 ini, kami akan meluncurkan layanan pemasaran asuransi properti melalui digital tersebut.
 
Adapun alasan kami memasarkan asuransi properti secara digital adalah untuk memudahkan masyarakat membeli properti, karena umumnya orang yang membeli menganggap hal itu rumit.
 
Selain asuransi properti, apakah pemasaran asuransi secara digital juga dilakukan untuk produk lain?
 
Selain asuransi properti, kami juga memasarkan asuransi secara digital untuk produk asuransi kesehatan dan kecelakaan diri. Dua produk ini menjadi produk unggulan kami dan sekarang sedang diubah jaringan distribusinya.
 
Lalu, segmen masyarakat seperti apa yang menjadi sasaran dalam pemasaran asuransi berbasis digital?
 
Segmen masyarakat milenial menjadi sasaran dalam pemasaran asuransi berbasis digital. Namun saat ini, kaum milenial masih dalam masa transisi untuk menjadi pembeli asuransi sehingga periode ini bisa digunakan sebagai periode investasi bagi perusahaan asuransi. Pada 2018-2019, produk asuransi konvensional masih akan tetap dominan, tetapi pada tahun 2020 ke atas, ketika generasi milenial menjadi pembeli utama asuransi, maka saat itu perusahaan asuransi harus segera menyesuaikan produk dengan karakter pembelinya.

Industri Asuransi, Milenial dan HantuFoto Julian Noor
CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

 
Akan tetapi, generasi milenial kurang mengenal mengenai asuransi, bagaimana bapak memandang mengenai hal ini?
 
Hal penting terkait pemasaran asuransi adalah perusahaan asuransi harus menyadari kesadaran masyarakat secara umum mengenai asuransi rendah dan hal itu juga melanda generasi milenial. Dalam hal ini, perusahaan asuransi menghadapi tantangan untuk mengedukasi generasi milenial menjadi pembeli asuransi. Metode yang dipergunakan bisa melalui media sosial ataupun edukasi kreatif lainnya. Hal ini dikarenakan kita harus bisa masuk dengan cara mereka, tidak bisa menggunakan cara lama.
 
Di Adira Insurance, sudah berapa besar segmen generasi milenial yang menjadi pemegang polis asuransi?
 
Belum signifikan pertumbuhannya. Namun kami optimis bisa bertumbuh signifikan karena kami mengemas produk asuransi perjalanan yang erat kaitannya dengan generasi milenial. Misalnya ketika pergi ke Rajat Ampat, milenial pergi ke tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Saat ini, semua itu serba mudah karena sudah bisa beli tiket pesawat sendiri, pesan hotel pun mudah. Lalu, kami melihat seorang milenial yang berpergian tersebut tentu memiliki risiko seperti kehilangan barang, keterlambatan jadwal pesawat, dan lainnya. Nah, hal itu yang kami jelaskan ke mereka, kaerna di setiap leisure yang mereka lakukan, ada risiko yang bisa di-cover asuransi.
 
Lalu, menurut bapak apa saja keuntungan yang bisa diperoleh dengan pemasaran asuransi melalui digital?
 
Efisiensi tentu menjadi sebuah keuntungan. Saya melihat ada dua dampak efisiensi yang bisa timbul dari pemasaran asuransi secara digital. Pertama, hal tersebut bisa berpengaruh kepada pengurangan jumlah karyawan yang bisa berdampak pada penurunan biaya perusahaan. Selanjutnya adalah kecepatan proses persetujuan asuransi, yang jauh lebih pendek, yang selama ini prosesnya bisa satu hari dengan teknologi bisa satu jam.
 
Peningkatan efisiensi saya kira bisa mencapai 20% pada 2020. Kita lihat beberapa bulan saja sudah terjadi peningkatan efisiensi yang luar biasa.
 
Lalu, hal apa yang harus diwaspadai perusahaan asuransi dalam era digital seperti saat ini?
 
Adanya disrupsi teknologi yang beredar saat ini perlu diwaspadai, karena akan datang perusahaan asuransi yang hadir dengan model yang berbeda. Jangan sampai nanti ada perusahaan non asuransi masuk ke industri asuransi dengan model berbeda, hal ini harus kita deteksi. Seperti hantu menurut saya. Sejauh ini sudah ada yang mengembangkan hal itu, namun kalau melihat perkembangan teknologi, bentuk seperti ini ada ternyata. Di Adira Insurance kami sudah mengantisipasi hal tersebut supaya tidak menjadi perusahaan yang kaget dengan disrupsi yang ada.


Industri Asuransi, Milenial dan HantuFoto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

 
Apa yang harus dilakukan regulator untuk menghadapi perkembangan teknologi seperti saat ini?
 
Bagi regulator, mereka harus melihat apakah akan membiarkan hal ini terus berjalan, supaya tidak menganggu perkembangannya. Di sisi lain, apakah harus membuat regulasi dan mengaturnya. Semua ada keuntungan dan kerugian masing-masing.
 
Menurut bapak, pilihan kebijakan apa yang harus diambil regulator?
 
Di era disrupsi seperti saat ini, regulator tidak bisa membatasi teknologi sama halnya ketika terjadi konflik antara taxi konvensional dengan Grab ataupun Gojek. Jadi kami meminta OJK tidak terlalu kaku, karena industri sebenarnya butuh ruang untuk berkembang.

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading