Membaca Peta Ekonomi Hidrogen

Yulian Dekri,  CNBC Indonesia
09 November 2026 05:23
Yulian Dekri
Yulian Dekri
Yulian Dekri adalah profesional dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri energi, migas, dan petrokimia. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Operasi PT Kilang Pertamina International (2021–2022) dan President Director & CEO PT TPPI (2019–2021)... Selengkapnya
Para insinyur bekerja pada kereta perkotaan energi hidrogen pertama di dunia di cabang CRRC Changchun Railway Vehicles Co., Ltd pada 28 Desember 2022 di Chengdu, Provinsi Sichuan, China. (China News Service via Getty Images)
Foto: Para insinyur bekerja pada kereta perkotaan energi hidrogen pertama di dunia tepatnya di Chengdu, Provinsi Sichuan, China. (China News Service via Getty Images)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Banyak yang mengatakan bahwa hidrogen adalah bahan bakar masa depan dan selalu diidentikkan dengan energi bersih. Namun, tidak semua orang paham bahwa hidrogen terdiri dari berbagai jenis, tergantung dari mana asalnya. Ada hidrogen yang murah tetapi beremisi tinggi, ada pula yang bersih tetapi mahal. Dari situlah muncul peta ekonomi yang bisa memudahkan kita memahami lanskapnya.

Secara umum, hidrogen dibagi berdasarkan metode produksinya, dan masing-masing memiliki profil biaya serta emisi yang berbeda. Memahami spektrum ini menjadi penting, karena kebijakan dan investasi yang salah bisa membuat kita terjebak pada solusi yang tidak berkelanjutan.

Spektrum Biaya Produksi Hidrogen
Hidrogen paling ekonomis adalah grey dan brown hydrogen. Keduanya diproduksi dari bahan bakar fosil melalui steam methane reforming atau gasifikasi, dengan biaya sekitar USD 1,00 hingga USD 2,50 per kilogram. Masalahnya, proses ini menghasilkan emisi karbon yang tinggi dan tantangan ke depan walaupun teknologi ini mungkin masih stabil, namun akan menghadapi risiko pajak karbon yang semakin meningkat.

Satu tingkat di atasnya, ada blue hydrogen. Ini adalah hidrogen dari bahan bakar fosil, tetapi dengan tambahan teknologi carbon capture and storage. Biayanya moderat, sekitar USD 2,00 hingga USD 3,50 per kilogram, dengan emisi yang lebih rendah karena karbonnya ditangkap. Kombinasi antara biaya yang lebih terjangkau dan emisi yang lebih rendah inilah yang membuat trennya meningkat, didorong oleh dukungan kebijakan dan skala teknologi yang semakin matang.

Kemudian ada pink hydrogen, yang diproduksi melalui elektrolisis menggunakan tenaga nuklir. Biayanya medium-high, sekitar USD 3,00 hingga USD 6,00 per kilogram, dengan emisi nol. Segmen ini sangat bergantung pada kebijakan nuklir dan desain reaktor baru di masing-masing negara.

Hidrogen Hijau dan Alternatif Lainnya
Jika pink hydrogen bergantung pada tenaga nuklir, green hydrogen justru menjadi yang paling sering disebut sebagai solusi bersih. Hidrogen ini diproduksi melalui elektrolisis menggunakan energi terbarukan.

Biayanya saat ini berada di rentang paling tinggi, yaitu USD 3,00 hingga USD 6,00 per kilogram. Meski begitu, trennya sangat menjanjikan karena biaya terus menurun dengan cepat seiring penurunan biaya energi terbarukan dan peningkatan skala produksi.

Selain itu, ada turquoise hydrogen yang diproduksi melalui pirolisis metana. Biayanya berpotensi kompetitif, sekitar USD 2,00 hingga USD 4,00 per kilogram, dengan emisi rendah dan produk sampingan berupa karbon padat. Karena karbon padat itu bisa dimanfaatkan lebih lanjut, teknologi yang masih berkembang ini punya nilai tambah yang menarik.

Sementara itu, white hydrogen atau hidrogen geologis alami masih dalam tahap eksplorasi. Biayanya belum diketahui pasti, tetapi berpotensi sangat murah karena emisinya nol dan berasal dari sumber alami.

Namun, teknologi ini belum terbukti pada skala besar. Di sisi lain, ada pula metode yang masih dalam tahap riset dan pengembangan, seperti solar thermochemical dan photoelectrochemical. Biayanya masih tinggi dan belum pasti, tetapi berpotensi besar dalam jangka panjang jika ada terobosan signifikan.

Apa Artinya bagi Indonesia?
Dari spektrum ini, terlihat bahwa green hydrogen adalah masa depan walaupun biayanya saat ini memang masih tinggi, tetapi tren penurunannya paling cepat. Negara-negara yang mampu membangun ekosistem energi terbarukan dengan cepat akan punya keunggulan kompetitif dalam produksi hidrogen hijau.

Indonesia punya peluang besar di sini, kita memiliki sumber energi terbarukan melimpah: surya, angin, geothermal, dan hidro. Jika dikelola dengan baik, Indonesia tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan hidrogen domestik, tetapi juga menjadi pemain besar di pasar ekspor.

Tentu, itu semua bergantung pada kebijakan yang konsisten dan investasi yang tepat. Selain sumber energinya, kita juga perlu memberi perhatian serius pada infrastruktur penyimpanan dan distribusi. Tanpa hal-hal tersebut, hidrogen akan sulit diakses dan harganya tetap mahal.

Penutup
Peta ekonomi hidrogen menunjukkan bahwa sampai saat ini green hydrogen yang masih menjadi solusi mendatang namun dibutuhkan strategi bertahap, dengan memanfaatkan blue hydrogen sebagai jembatan sambil terus membangun kapasitas energi terbarukan dan menurunkan biaya produksi green hydrogen.

Negara yang mampu membaca peta ini dan menindaklanjutinya dengan baik akan punya posisi kuat di masa depan. Sebaliknya, yang salah membaca justru berisiko terjebak pada dua pilihan yang sama-sama tidak ideal, solusi murah tetapi tidak berkelanjutan, atau solusi bersih tetapi tidak terjangkau. Indonesia semestinya bisa membaca peta ini dengan lebih mudah karena kita memiliki semua modal yang dibutuhkan untuk berada di jalur yang tepat.


(miq/miq)
Next Article Hidrogen Mulai Menyentuh Keseharian Kita