Kapur Barus Mengharumkan Dunia

Wihermanto,  CNBC Indonesia
02 November 2026 08:38
Wihermanto
Wihermanto
Wihermanto merupakan staf Analisis Data Ilmiah Ahli Madya di Kebun Raya Bogor sejak tahun 1986. Ia bertugas mencari bibit-bibit baru di berbagai daerah untuk koleksi dan juga menjaga serta memastikan koleksi Kebun Raya Bogor tetap terawat dengan baik. Ki.. Selengkapnya
Ilustrasi kapur barus. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi kapur barus. (Dok. Freepik)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Satu desa kecil yang bernama Desa Pasar Baru Gerigis, mungkin tidak banyak yang tahu. Desa ini terletak di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. Apa yang menarik dari desa ini? Pada tanggal 24 Maret 2017, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Bangunan berbentuk globe dengan ditopang tiga pilar adalah penandanya.

Penetapan tersebut tidak sembarang, melainkan didukung oleh data arkeologi yang cukup kuat. Di lokasi ini terdapat banyak situs makam tua seperti Papan Tinggi, Situs Makam Mahligai, Situs Makam Tuan Syech Machdum yang merupakan makam pada era awal-awal agama Islam. Situs tersebut didukung dengan temuan benda arkeologi lainnya, seperti koin emas era Umayyah (694 M) dan Abbasiyah (760 M).

Penetapan tersebut juga menjadi penanda bahwa daerah tersebut adalah titik pertama masuknya ajaran agama Islam di Nusantara dan datang langsung dari negeri Hijaz (sebutan Makkah kala itu).

Penetapan dan bukti-bukti arkeologi yang ada di Barus juga membantah beberapa teori masuknya Islam di Nusantara yang berkembang sebelumnya, seperti pada abad 13, abad, 11, dan bahkan abad 9. Juga, jalur masuknya Islam yang langsung dari sumbernya, bukan melalui Gujarat-India, Persia, atau China.

Namun, dorongan apa yang membuat orang-orang Arab tersebut datang ke Nusantara, terutama ke daerah Barus? Tak lain adalah "emas hijau" asli Nusantara yang sudah diperdagangkan jauh sebelum lahirnya agama Islam. Getah pohon tersebut yang mengeluarkan aroma harum lagi wangi digunakan untuk banyak hal, seperti pewangi ruangan, pengobatan, bahkan pengawetan. Harganya juga sangat mahal kala itu.

Pohon yang secara ilmiah dikenal sebagai Dryobalanops aromatica ini memang asli dan banyak tumbuh di hutan-hutan Sumatra. Pohon tersebut dikenal juga dengan sebutan "kapur". Kata ini disebut oleh banyak naskah-naskah kuno, bahkan kitab suci ummat Islam sendiri, Al-Qur'an menyebut kata "kapur" dalam satu ayatnya. Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan pentingnya kapur barus bagi peradaban manusia.

Dan memang, berbagai temuan lainnya juga menunjukkan bahwa kapur barus dan rempah-rempah Nusantara lainnya sudah beredar ke berbagai penjuru dunia. Komoditas tersebut menjadi urat nadi atau denyut peradaban. Babilonis, Mesir, Arab dan lain, bangsa-bangsa lainnya perkembangannya tidak lepas dari hasrat untuk merasakan produk Nusantara, di antaranya kapur barus tersebut.

Pertautan dalam perdagangan kapur barus dan rempah-rempah lainnya yang berasal tumbuhan tersebut, terjadi silang dan singgung budaya di antara mereka. Maka tidak heran jika budaya yang ada di Nusantara diwarnai dengan budaya-budaya lainnya, seperti budaya Arab, Eropa, India, dan China.

Kapur barus memiliki tidak saja nilai ekonomi, melainkan juga nilai budaya yang tinggi melalui berbagai tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang di berbagai belahan dunia. Yang tidak kalah penting adalah nilai dan ikatan sejarah manusia dengan kapur barus. Relasi yang terjalin cukup lama dengan sendirinya menjadikan kapur barus adalah bagian dari manusia itu sendiri.

Kebun Raya Bogor dan Jejak Konservasi Sejak 1929
Memahami nilai ekonomi dan nilai-nilai lainnya yang melekat dalam kapur barus, pemerintah kolonial tentu tertarik untuk mengembangkannya dan memperbesar skalanya menjadi industri. Pilihannya, membawa pohon barus ke Kebun Raya untuk diteliti dan dipelajari potensi pengembangannya.

Berdasarkan catatan yang ada di Kebun Raya Bogor, tanaman kapur yang berasal dari kawasan Barus tercatat telah dikoleksi di Kebun Raya Bogor pada tahun 1929, ditanam di Lokasi peta kebun Vak VI.C.67, hasil ekspedisi van Slooten di tahun yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kapur barus adalah tumbuhan yang dianggap penting.

Konteks penting di sini tidak saja secara nilai ekonomi dan budaya, melainkan juga konservasi atau penyelamatan biota. Penanaman di luar habitat atau ex-situ adalah upaya manusia untuk membuat cadangan sumberdaya ketika yang di alam sudah habis.

Nilai penting dari konservasi bukan saja terletak pada penyelamatan pohon semata, melainkan juga banyak aspek yang terkandung di dalamnya. Penyelamatan tersebut juga berarti merawat ingatan manusia mengenai sejarahnya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga informasi biologi yang ada di dalamnya.

Dengan perawatan tersebut, bisa jadi suatu saat manusia membutuhkan senyawa yang ada di pohon tersebut, temuan farmasi baru untuk keperluan kesehatan atau sumber pangan dan energi masa depan. Karena di pohon tersebut juga hidup berbagai komponen biota lainnya.

Kapur Barus dan Ironi Sejarah
Nilai penting kapur barus yang menjadikan orang berani mengarungi samudra luas yang ganas, berperang dengan bangsa lain, dan ancaman-ancaman lainnya untuk mendapatkan pasokan kapur barus langsung dari sumbernya menjadikan nilai kapur barus demikian berharga. Bahkan beberapa sumber menyatakan bahwa pohon kapur barus adalah "pohon kehidupan", "pohon takdir" yang di tiap daunnya tertulis nasib tiap orang, ada juga yang mengatakannya sebagai "pohon surga".

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, seperti ditemukannya berbagai jenis yang menghasilkan aroma wangi, senyawa sintetis yang bisa menggantikan, secara perlahan "nilai penting" pohon kapur barus pun menurun. Dengan turunnya nilai ekonomi, maka ketika ada desakan pertanian dan perkebunan yang kian masif, orang pun tanpa ragu menebang pohon kapur barus yang dianggapnya tidak lagi berharga.

Masalah yang menggelayuti di pohon kapur barus tidak berhenti di situ, kebakaran dan deforestasi juga kian membuat pohon kapur barus kian merana. Kajian genetik menunjukkan bahwa Dryobalanops aromatica mengalami tekanan akibat deforestasi, kebakaran, penebangan, dan konversi hutan. Padahal, di sisi lainnya variasi genetika yang penting pada pohon tersebut.

Situasi tersebut mendorong sebagian masyarakat untuk menyelamatkan kehidupan pohon kapur barus, hal ini tentu bertujuan tidak saja sebagai alternatif ekonomi hijau melainkan juga sebagai penyelamatan jejak sejarah yang tersisa.

Berbeda dengan penyelamatan era kolonial, sekarang trennya adalah penyelamatan di habitat alaminya atau in-situ. Untuk mendukung perlu sumberdaya genetika dari pohon-pohon yang tersisa, terutama yang sudah tua.

Namun sayangnya, sumberdaya genetika pun sudah kian susah diperoleh karena yang tersisa adalah pohon-pohon kecil. Kita harus tetap optimis, bahwa kapur barus tidak saja akan terselamatkan di habitatnya melainkan akan kembali mengharumkan peradaban dunia.


(miq/miq)
Next Article Taman Nasional Harus Menjadi Sumber Pekerjaan bagi Masyarakat Desa