Fenomena "Downgrade" Semakin Ramai, Saatnya Bangun Ketahanan Finansial

Ririn Riani,  CNBC Indonesia
30 September 2026 10:45
Ririn Riani
Ririn Riani
Ririn Riani adalah peneliti senior di Sakinah Finance dengan fokus kajian pada isu keuangan Islam, keuangan sosial Islam, efisiensi dan produktivitas lembaga keuangan, sustainability dan green finance, serta keterkaitannya dengan kebijakan publik. Ririn me.. Selengkapnya
5 Jurus Banyak Harta Meskipun Gaji Pas-pasan, Mau Coba?
Foto: Ilustrasi keuangan. (Ilham Restu/CNBC Indonesia)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ada satu perubahan kecil yang menarik perhatian di media sosial belakangan ini. Orang mulai bercerita tentang barang yang mereka jual, gaya hidup yang mereka kurangi, atau pilihan yang sengaja mereka turunkan. Bukan karena tidak bisa membeli, tetapi karena mulai merasa tidak semua yang bisa dibeli memang perlu dipertahankan.

Mobil yang dulu terasa ideal kini ditukar dengan model yang lebih sederhana. Ponsel terbaru tidak lagi menjadi keharusan. Merek premium mulai dibandingkan dengan alternatif yang lebih terjangkau. Bahkan beberapa pengeluaran yang dulu dianggap "biasa" sekarang mulai ditanya ulang: memang masih worth it?

Menariknya, cerita seperti ini tidak lagi selalu disampaikan dengan nada malu. Justru muncul dengan kalimat seperti, "Setelah downgrade, ternyata hidup lebih ringan."
Fenomena ini pernah sangat ramai pada masa pandemi Covid-19.

Kini, percakapannya muncul lagi dalam bentuk yang lebih luas melalui narasi #InThisEconomy: ketika orang mulai terbuka bercerita tentang bagaimana kondisi ekonomi memengaruhi keputusan sehari-hari-dari karier, tabungan, cicilan, sampai gaya hidup. Media Indonesia pun belakangan menggunakan istilah in this economy untuk menggambarkan tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Bukan berarti semua orang tiba-tiba tidak mampu membeli barang mahal. Justru yang berubah adalah cara orang menghitung nilai sebuah pengeluaran. Data NielsenIQ dan World Data Lab pada 2026 menunjukkan perubahan tersebut secara global.

Sebanyak 58% konsumen mengatakan mereka tidak terlalu peduli apakah produk yang dibeli merupakan merek nasional atau private label; mereka lebih fokus membeli apa yang memang dibutuhkan. Bahkan 67% Gen Z menilai produk private label bisa sama baiknya dengan merek nasional. Sekitar sepertiga konsumen yang menghadapi keterbatasan anggaran juga memilih berpindah ke produk yang lebih murah atau membeli ketika ada promosi.

Artinya, konsumen semakin tidak sekadar bertanya, "Merek apa?" Pertanyaannya bergeser menjadi: "Dengan uang sebesar ini, apa yang sebenarnya saya dapat?" Dalam ekonomi, perilaku tersebut dikenal sebagai down-trading: mengganti produk atau layanan yang lebih mahal dengan alternatif yang lebih terjangkau, tetapi fungsi utamanya masih dapat dipenuhi.

Secara teori, ini berkaitan dengan substitution effect. Ketika harga suatu pilihan terasa semakin mahal dibandingkan alternatifnya, konsumen akan mencari substitusi. Tetapi ada satu efek lain yang tidak kalah penting: yakni income effect.

Ketika harga berbagai kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bertambah dalam proporsi yang sama, kemampuan membeli secara riil ikut tertekan. Akhirnya, orang harus memilih kembali: mana yang tetap dipertahankan, mana yang dikurangi, dan mana yang ternyata selama ini hanya menjadi kebiasaan.

Kondisi kelas menengah membuat cerita ini semakin relevan. BPS mencatat pada 2024 kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35% penduduk Indonesia dan menyumbang 81,49% dari total konsumsi masyarakat.

Namun, kelompok ini juga menjadi bagian yang sangat sensitif terhadap perubahan biaya hidup karena banyak pengeluaran mereka berada di antara kebutuhan dasar dan kebutuhan untuk mempertahankan kualitas hidup. Karena itu, downgrade tidak selalu berarti kondisi ekonomi seseorang memburuk.

Kadang justru strategi keuangannya yang sedang membaik. Bayangkan seseorang menurunkan cicilan kendaraan, memilih ponsel yang masih mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan, atau berhenti berlangganan layanan yang jarang digunakan. Jika uang yang tersisa kemudian masuk ke dana darurat atau tabungan, yang sebenarnya terjadi bukan sekadar pengurangan konsumsi.

Ada realokasi uang dari konsumsi saat ini menuju ketahanan finansial masa depan. Dan ini yang membuat downgrade menjadi menarik jika dikaitkan dengan financial health. Kesehatan keuangan bukan tentang seberapa mahal barang yang mampu dibeli seseorang.

OJK sendiri mulai mendorong pendekatan financial health yang lebih luas: bagaimana masyarakat mengelola pendapatan dan pengeluaran, menghadapi guncangan, menyiapkan dana darurat, menggunakan kredit secara tepat, dan merencanakan masa depan.

Dengan perspektif itu, downgrade bisa menjadi keputusan yang sehat-tetapi tidak otomatis. Jika seseorang memilih barang yang lebih murah, tetapi uang yang dihemat kemudian habis untuk belanja lain, tidak banyak yang berubah.

Sebaliknya, jika downgrade membuat utang lebih terkendali, arus kas lebih longgar, dana darurat bertambah, dan ruang untuk menabung atau berinvestasi semakin besar, keputusan tersebut justru memperkuat financial health. Jadi, yang perlu dilihat bukan sekadar "turun atau tidak", tetapi "uangnya pindah ke mana?"

Di sinilah konsep keuangan Islam terasa sangat relevan. Islam tidak mengajarkan bahwa hidup harus selalu memilih barang murah. Islam juga tidak melarang seseorang menikmati sesuatu yang berkualitas.

Yang ditekankan adalah bagaimana harta digunakan secara proporsional dan tidak berubah menjadi pemborosan. QS. Al-A'raf [7]: 31 mengingatkan: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan." Sementara QS. Al-Furqan [25]: 67 menggambarkan orang-orang yang membelanjakan hartanya dengan tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

Pesannya sederhana, tetapi sangat dekat dengan persoalan downgrade hari ini: bukan seberapa murah kita membeli, melainkan seberapa bijak kita menggunakan harta. Bahkan dalam perspektif maqashid al-shariah, menjaga harta (hifzh al-mal) bukan sekadar memiliki uang sebanyak-banyaknya. Harta perlu dijaga, dikelola, dan diarahkan agar memberi kemaslahatan.

Di balik candaan, keluhan, dan cerita downgrade di media sosial, ada persoalan yang jauh lebih serius: bagaimana rumah tangga menjaga kualitas hidup ketika uang harus bekerja untuk semakin banyak kebutuhan? Jawabannya bukan selalu menambah pendapatan. Kadang jawabannya adalah berani mengurangi sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Karena kesehatan finansial bukan ketika kita mampu mempertahankan semua yang pernah kita beli. Kesehatan finansial adalah ketika kita cukup sehat secara keuangan untuk memilih: apa yang harus dipertahankan, apa yang boleh diturunkan, dan untuk apa uang yang tersisa akan digunakan.

Mungkin downgrade memang sedang ramai. Tetapi kalau dilakukan dengan sadar, bukan karena panik, lalu uang yang berhasil dihemat benar-benar dialihkan untuk membangun ketahanan finansial, ini bukan cerita tentang turun kelas. Ini cerita tentang naik level dalam mengelola harta.


(miq/miq)
Next Article Cerita "Dokumen Pencairan" Kementerian Keuangan Menggerakkan Kehidupan