Terjebak Ilusi Kemewahan

Farisah Amanda,  CNBC Indonesia
07 September 2026 09:35
Farisah Amanda
Farisah Amanda
Farisah Amanda adalah penulis dan peneliti di Sakinah Finance sejak tahun 2015 dengan fokus pada topik edukasi dan literasi Islamic Personal Finance untuk berbagai kalangan. Portofolio tulisannya tersebar di berbagai bentuk seperti buku teks dan buku-buku .. Selengkapnya
Tips Membeli barang mewah
Foto: Ilustrasi barang mewah. (CNBC Indonesia/Arie Pratama)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Di era digital kontemporer di mana etalase kehidupan dipajang secara bebas dan masif di media sosial, standar kesuksesan sering kali mengalami distorsi yang mengerikan. Validasi sosial acap kali tidak lagi diukur dari kontribusi intelektual, integritas moral, atau karya nyata, melainkan dari logo desainer yang membentang di dada, sepatu edisi terbatas yang membungkus kaki, atau tas kulit eksotik berharga ratusan juta rupiah yang dijinjing di tangan.

Fenomena keranjingan merek fesyen mewah (luxury fashion brand) kini bukan lagi sekadar monopoli kaum jetset, aristokrat, atau konglomerat. Layaknya sebuah epidemi, obsesi terhadap kemewahan ini telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, dari eksekutif muda di kawasan Sudirman, Jakarta, hingga mahasiswa yang baru mengenal dunia perkuliahan.

Yang lebih memprihatinkan dari fenomena ini adalah pengorbanan irasional yang menyertainya. Tidak sedikit individu yang rela mengorbankan alokasi dana masa depan, mencairkan tabungan darurat, berpuasa dari kebutuhan esensial berbulan-bulan, atau lebih parah lagi, terjerat dalam kubangan utang konsumtif seperti kartu kredit dan fitur PayLater hanya demi sebuah barang bermerek.

Keputusan kognitif yang keliru ini didorong oleh rasa takut tertinggal (Fear Of Missing Out) dan keharusan untuk menyesuaikan diri dengan narasi algoritma media sosial yang terus-menerus mendikte definisi "sukses" dan "bahagia".

Namun, di balik kilau lampu kristal butik di pusat perbelanjaan elite dan kampanye iklan memukau yang dibintangi selebritas dunia, terdapat realitas finansial dan spiritual yang sering kali secara sengaja dikaburkan.

Mari kita bedah secara kritis dan jujur: apakah dengan mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah kita sedang membeli kualitas hidup yang sesungguhnya, atau kita sekadar membayar tarif yang terlampau mahal untuk sebuah kebanggaan semu yang justru sedang menggerogoti fondasi kekayaan sejati kita?

Tujuan Sebenarnya di Balik Penciptaan Merek Mewah
Untuk membongkar ilusi ini, hal pertama yang mutlak dipahami adalah bahwa merek fesyen mewah sejak awal tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia akan sandang. Dalam hierarki kebutuhan Maslow, pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh. Namun dalam model bisnis fesyen mewah, pakaian ditransformasikan menjadi alat komunikasi sosial. Tujuan utama dari industri ini adalah menciptakan kelangkaan buatan (artificial scarcity) dan ilusi eksklusivitas.

Dalam ilmu ekonomi perilaku (behavioral economics), barang mewah sering diklasifikasikan sebagai Barang Veblen (Veblen Goods) yang menjadi sebuah anomali di mana permintaan justru meningkat ketika harga dinaikkan, karena tingginya harga tersebut secara langsung mendongkrak prestise sang pemakai.

Merek-merek ini secara sistematis membangun narasi sejarah, warisan (heritage), dan kasta elite untuk menciptakan batasan demarkasi yang tegas dengan produk massal. Secara strategis, mereka sebenarnya tidak menjual tas, sepatu, atau pakaian; mereka menjual "tiket masuk" ke dalam kelas sosial tertentu.

Dengan mematok harga setinggi mungkin yang sering kali melampaui nalar fungsionalnya, mereka membatasi aksesibilitas. Barang tersebut kemudian berubah fungsi dari sekadar penutup tubuh menjadi simbol kesuksesan yang berteriak dalam diam.

Saat Anda mengenakan produk mereka, pesan yang ingin disampaikan oleh industri kepada orang yang melihat Anda bukanlah "Saya memakai pakaian dengan jahitan yang sangat rapi dan berkualitas", melainkan "Saya memiliki kekayaan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang".

Industri ini secara cerdas, sistematis, dan tanpa ampun mengeksploitasi rasa tidak aman (insecurity) terdalam manusia, yaitu kebutuhan untuk diakui, dihormati, dan divalidasi demi untuk meraup keuntungan gila-gilaan.

Mengungkap Anatomi Harga: Apa yang Sebenarnya Anda Bayar?
Banyak konsumen mengambil keputusan finansial yang bias dengan berasumsi bahwa harga ratusan juta rupiah otomatis berbanding lurus dan setara dengan kualitas material atau daya tahan yang tak tertandingi.

Dalam kerangka literasi keuangan dan manajemen kekayaan (wealth management), asumsi ini adalah bentuk ilusi kognitif. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa margin kotor (gross margin) untuk barang-barang mewah dari konglomerasi fesyen raksasa sering kali berada di angka 70% hingga 85%.

Ketika Anda secara sadar menggesek kartu debit atau kredit untuk membayar Rp 50.000.000 demi sebuah tas desainer, Anda perlu melakukan pembedahan harga. Berikut adalah komponen pembentuk harga akhir yang sesungguhnya sedang Anda biayai:

1. Biaya Produksi Aktual (Bahan Baku & Tenaga Kerja): Komponen fungsional ini sering kali hanya berkisar 10% hingga maksimal 20% dari harga akhir. Sebuah tas yang dijual seharga Rp 50.000.000 bisa jadi hanya memakan ongkos produksi kurang dari Rp 5.000.000 hingga Rp 7.000.000 di pabrik atau bengkel pengrajin, bahkan dengan menggunakan kulit kualitas wahid sekalipun.

2. Biaya Pemasaran dan Retensi Merek: Inilah komponen raksasa pertama. Uang Anda digunakan untuk membiayai kampanye pemasaran global yang agresif, penyewaan papan reklame digital di pusat-pusat kota metropolitan dunia, penyelenggaraan fashion show yang menelan biaya jutaan dolar, serta honor miliaran rupiah untuk selebritas dan influencer yang didapuk menjadi duta merek (brand ambassador). Anda secara sukarela membayar agar mereka bisa terus beriklan.

3. Biaya Operasional Retail Mewah: Barang mewah membutuhkan presentasi spasial yang tak kalah mewah. Melalui harga barang yang Anda beli, Anda ikut menanggung beban biaya sewa butik-butik di lokasi real estate paling mahal dan elite di dunia, seperti Champs-Élysées di Paris, Ginza di Tokyo, 5th Avenue di New York, atau New Bond Street di London, serta membiayai desain interior toko berlapis marmer yang memukau.

4. "Pajak Gengsi" (Laba Bersih Perusahaan): Ini adalah porsi killer dari harga yang Anda bayar. Sisa margin dari uang tersebut langsung masuk sebagai laba bersih konglomerasi fesyen demi menopang valuasi saham perusahaan mereka di bursa efek. Anda, pada dasarnya, sedang menguras aset hasil keringat Anda sendiri untuk mensubsidi dan melipatgandakan kekayaan para triliuner pemilik merek tersebut.

Kebutuhan vs Keinginan: Jebakan Gengsi dalam Perencanaan Keuangan
Dari kacamata perencanaan keuangan yang rasional, seseorang harus memiliki filter kognitif yang tajam untuk membedah anatomi pengeluaran harian dan memisahkan antara kebutuhan (necessity) dan keinginan. Pakaian yang dijahit dengan baik, menggunakan bahan yang menyerap keringat, memiliki keawetan struktural, dan pantas serta sopan dipakai bekerja adalah sebuah kebutuhan mutlak.

Namun, sebuah kemeja katun standar yang ditambahkan monogram desainer kecil di dadanya sehingga harganya melonjak menjadi lima hingga sepuluh kali lipat dari harga wajar, murni merupakan keinginan yang disetir oleh gengsi.

Penerapan sistem pelacakan keuangan (money tracker) pribadi yang disiplin sering kali membongkar kenyataan pahit ini di akhir bulan: kebocoran anggaran terbesar pada masyarakat modern jarang terletak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok, melainkan tersembunyi pada pembengkakan pengeluaran gaya hidup (lifestyle creep).

Saat pendapatan seseorang meningkat, secara psikologis mereka merasa perlu melakukan peningkatan gaya hidup (upgrade) untuk mencerminkan status baru tersebut. Ini diperparah dengan fenomena Diderot Effect, di mana pembelian satu barang mewah (misalnya, tas desainer) akan memicu rentetan pembelian barang mewah lainnya (sepatu yang senada, dompet desainer, pakaian bermerek) agar semuanya terlihat serasi dan berada di "kelas" yang sama.

Konsumen sering kali terjebak dalam delusi bahwa mereka butuh pembuktian diri, ingin memamerkan lintasan kesuksesan karier, atau sekadar ingin diakui eksistensinya oleh lingkaran pergaulan sosialnya. Ironi paling menyedihkan dari situasi ini adalah: mereka rela menukar stabilitas finansial masa depan, mengorbankan dana pendidikan anak, dan menggadaikan ketenangan pikiran demi membuat terkesan orang-orang yang, pada kenyataannya, mungkin sama sekali tidak peduli pada kehidupan mereka.

Uang Rp 50.000.000 yang dihabiskan untuk satu tas yang akan mengalami penyusutan nilai (depresiasi) sesaat setelah keluar dari toko, memiliki opportunity cost (biaya peluang) yang masif. Jika dana tersebut dialokasikan ke dalam instrumen investasi produktif dengan imbal hasil majemuk (compound interest) selama 10 atau 20 tahun, nilainya akan menjadi fondasi kekayaan riil yang kuat.

Apa Perlu Ikut-ikutan? Memahami Konsep Kekayaan Sunyi
Pertanyaan fundamentalnya adalah: Apakah kita perlu ikut-ikutan masuk ke dalam arena sirkus kemewahan ini? Jawabannya sangat tegas dan mutlak: Tidak.

Mengejar tren luxury brand adalah analogi dari berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus ditingkatkan; Anda terus menguras energi untuk berlari, memeras keringat secara finansial, tanpa pernah benar-benar maju ke mana pun.

Industri fesyen dibangun di atas konsep keusangan terencana (planned obsolescence). Setiap musim; musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin; akan selalu ada rilis koleksi baru. Standar kemewahan akan terus digeser lebih tinggi. Apa yang dianggap sebagai barang "it" dan paling bergengsi tahun ini, akan menjadi usang, outdated, dan kehilangan magis sosialnya tahun depan.

Individu yang benar-benar memiliki literasi finansial yang mendalam dan memahami seni manajemen kekayaan sangat menyadari bahwa kekayaan sejati justru sering kali bersifat sunyi (stealth wealth atau quiet luxury). Mereka berfokus secara fundamental pada akumulasi aset produktif (bisnis, portofolio investasi, properti), bukan berlomba mengoleksi liabilitas konsumtif berupa barang-barang yang nilainya terus menyusut.

Orang yang benar-benar kaya secara finansial dan mental tidak merasa perlu memakai "papan reklame berjalan" berbentuk logo desainer di sekujur tubuhnya untuk membuktikan nilai diri mereka kepada dunia luar. Jika harga diri, kebanggaan, dan validasi eksistensial Anda digantungkan pada apa merek yang Anda kenakan, Anda tidak akan pernah merasa cukup. Akan selalu ada seseorang di luar sana yang memakai barang dengan seri yang lebih langka, lebih mahal, dan lebih eksklusif.

Tinjauan Spiritual: Saat Harta Menjadi Timbangan di Akhirat
Bagi seorang Muslim, diskusi mengenai pengelolaan keuangan, manajemen kekayaan, dan gaya hidup tidak boleh hanya berhenti pada layar aplikasi money tracker atau selembar laporan mutasi bank. Rekaman finansial kita berlanjut jauh melampaui dunia, menuju pengadilan Mahkamah Tertinggi milik Sang Pencipta.

Dalam paradigma Islam (sejalan dengan Maqashid Syariah pada pilar Hifz al-Mal atau perlindungan harta), ada parameter yang jauh lebih esensial, filosofis, dan abadi daripada sekadar rasionalisasi "mampu membeli".

1. Argumen "Yang Penting Halal" Saja Tidak Cukup
Sering kali kita mendengar pembelaan defensif dari mereka yang gemar memborong barang mewah: "Uang ini uang saya sendiri, saya cari dengan keringat sendiri siang dan malam, dan sumbernya 100% halal, jadi bebas dong saya mau beli apa saja?"

Betul bahwa sumber perolehan harta mutlak harus halal, tetapi syariat Islam tidak berhenti pada pintu masuk (pendapatan). Syariat secara ketat juga mengatur regulasi dalam pintu keluar (pembelanjaan).

Membeli barang fungsional dengan harga yang terlampau irasional, ratusan juta untuk sepotong tas, padahal ada tas seharga satu juta yang sama kuat dan indahnya, hanya demi memuaskan dahaga status sosial dan memberi makan ego, berpotensi kuat jatuh pada kategori israf (berlebih-lebihan melampaui batas kewajaran) dan tabdzir (menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak membawa maslahat nyata).

Halal adalah batas bawah standar kepatuhan syariat, namun thayyib (baik, bijak, fungsional, dan membawa kebaikan holistik) adalah standar kelayakan yang lebih tinggi. Harta adalah titipan yang harus dikelola dengan prinsip kecerdasan manajerial.

2. Mengapa Islam Tidak Menyarankan Gaya Hidup Ini?
Islam adalah agama komprehensif yang sangat menjaga kesehatan jiwa individu dan keharmonisan struktural sosial umatnya. Gaya hidup yang berporos tajam pada kemewahan material sering kali menjadi inkubator yang subur bagi penyakit-penyakit hati yang destruktif, seperti hasad (dengki saat melihat orang lain memiliki barang yang lebih baru), kompetisi menumpuk dunia yang melelahkan (takatsur), dan pada akhirnya mengikis habis kepekaan sosial terhadap mereka yang lebih membutuhkan di sekeliling kita.

Sikap pamer dan peninggian diri melalui medium material bertentangan secara diametral dengan prinsip zuhud (tidak meletakkan dunia di dalam hati, melainkan hanya di genggaman tangan) dan tawadhu (rendah hati) yang diajarkan dan dicontohkan dengan sangat indah oleh Rasulullah SAW serta para sahabatnya termasuk sahabat yang merupakan triliuner seperti Abdurrahman bin Auf, yang hartanya menggunung namun gaya hidupnya tetap merunduk.

3. Harta Akan Dihisab Dua Kali Lipat
Di padang Mahsyar kelak, pengadilan Allah tidak akan melewatkan satu sen pun dari aset kita. Umur, ilmu, dan tubuh kita masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban dengan satu pertanyaan utama. Namun, harta adalah subjek khusus yang akan diaudit dengan dua pertanyaan berat yang tak bisa dihindari: Dari mana ia didapatkan, dan ke mana ia dihabiskan?

Menghabiskan puluhan juta rupiah, uang yang sejatinya bisa memutar roda ekonomi umat, menjadi bekal pendidikan, atau diwakafkan untuk membangun peradaban, hanya untuk sepotong kain demi gaya hidup dan apresiasi manusia yang sementara, akan membuat proses hisab menjadi sangat berat, rumit, dan panjang di hadapan Allah SWT. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membayar "pajak gengsi" harus bisa dipertanggungjawabkan urgensinya.

4. Niat Pamer dan Tertolaknya Langkah ke Surga
Ini adalah poin yang paling fatal dan membutuhkan perenungan kognitif maupun spiritual terdalam. Jika terbersit sekelumit niat di dalam hati saat menggesek kartu pembayaran bahwa barang mewah ini dibeli agar dipandang lebih tinggi kastanya, lebih sukses dari rekan sejawat, atau sekadar untuk ajang pamer kekayaan di arisan atau media sosial, maka tindakan tersebut telah menyeberang masuk ke ranah kesombongan (kibr).

Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat lugas, tegas, dan menggetarkan hati dalam hadis riwayat Muslim:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan."

Gengsi, pengakuan sosial, dan keinginan memamerkan kekayaan finansial mungkin memberikan suntikan dopamin instan dan kepuasan ego sementara di dunia. Namun, harga riil yang harus dibayar di akhirat teramat mahal dan tidak sepadan.

Kemuliaan sejati seorang manusia tidak pernah dijahit dari benang-benang emas rumah mode ternama Eropa, melainkan ditenun rapat dari ketakwaan, kecerdasan budi, pengelolaan amanah yang bijaksana, dan kemanfaatan sosial bagi sesama manusia.

Pada akhirnya, jangan sampai pakaian mahal dan tas eksklusif yang kita kenakan dengan congkak di dunia fana ini, justru menjadi asbab yang melucuti hak kita untuk mengenakan pakaian kehormatan penduduk surga kelak. Menjaga kewarasan finansial di tengah gempuran ilusi kemewahan bukan hanya soal menyelamatkan masa depan ekonomi kita, tetapi juga soal menjaga timbangan amal kita di kehidupan yang abadi.


(miq/miq)
Next Article Cerdas Mengatur Uang untuk Masa Depan Anak di Era Digital