Kapal Virgo & Mereka yang Bertaruh Nyawa demi Sebuah Kepulangan

Nicholas Martua Siagian,  CNBC Indonesia
30 September 2026 08:03
Nicholas Martua Siagian
Nicholas Martua Siagian
Nicholas Martua Siagian mendalami keilmuan di bidang Hukum Administrasi Negara, Keuangan Negara, Pencegahan Korupsi, Inovasi, dan Perbaikan Sistem. Nicholas merupakan salah seorang sivitas akademik Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang menerima penghar.. Selengkapnya
Perjuangan Tim SAR Gabungan dalam operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 kembali membuahkan hasil pada Kamis (24/9/2026). (Dok. Basarnas)
Foto: Salah satu bagian dari Tim SAR Gabungan yang terlibat dalam operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8. (Dokumentasi Basarnas)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Hingga hari ini, duka itu belum juga selesai. Negeri kita masih menundukkan kepala, menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan di tengah Laut Jawa. KM Virgo Transport 8, yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, mengalami kecelakaan pada 13 September 2026. Kapal yang berdasarkan manifes mengangkut 243 orang itu kemudian tenggelam setelah mengalami kondisi darurat di tengah cuaca buruk.

Sejak kabar kapal hilang kontak, perhatian kita tertuju pada pencarian para penumpang. Media sosial dipenuhi kabar, doa, rekaman evakuasi, dan harapan dari keluarga yang masih menunggu. Di balik setiap angka dalam laporan pencarian oleh Basarnas, ada manusia, ada nama, ada keluarga, hingga ada rumah yang menunggu seseorang pulang.

Namun, di tengah pertanyaan tentang penyebab kecelakaan dan siapa yang harus bertanggung jawab, ada satu hal yang layak kita renungkan lebih dalam: kerja keras Tim SAR Gabungan khususnya penyelam yang memilih turun ke laut ketika sebagian besar dari kita justru gentar membayangkan kedalamannya.

Penyelam itu Pahlawan
Kalau kita lihat berbagai video di Tiktok, Instagram, dan media sosial lainnya, penyelam itu turun ke dasar laut, menghadapi dinginnya laut, kuatnya arus, dan berbagai risiko. Mereka memasuki badan kapal yang tenggelam untuk mencari mereka yang mungkin masih berada di dalamnya.

Bukan untuk mengenal siapa korbannya. Bukan untuk mengetahui apa pekerjaannya, dari mana asalnya, atau apa kedudukannya. Mereka datang karena satu hal sederhana: seseorang harus ditemukan dan dibawa pulang.

Hingga hari ke-13 operasi SAR, Jumat, 25 September 2026, tim gabungan telah menemukan 160 korban dari total 243 orang. Sebanyak 108 orang ditemukan selamat dan 52 orang meninggal dunia, sementara 83 orang masih dalam pencarian. Pada operasi berikutnya, Basarnas mengerahkan 65 penyelam gabungan dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI), dan potensi SAR lainnya.

Angka-angka tersebut penting untuk dicatat. Namun, angka tidak pernah cukup untuk menggambarkan pengorbanan manusia di baliknya. Bayangkan saja, seseorang harus turun ke dasar laut, menyusuri bagian-bagian kapal yang terbalik, memasuki lorong dan ruang sempit, sementara arus laut terus bergerak dan badan kapal dalam kondisi miring serta tidak stabil.

Bagi kita yang menyaksikan rekaman operasi itu dari media sosial, mungkin kedalaman laut hanya tampak sebagai gambar yang gelap. Tetapi bagi para penyelam, kegelapan itu adalah arena pertaruhan nyawa. Arus yang bagi kita terlihat mengerikan adalah kondisi yang harus mereka hadapi. Setiap kali mereka turun, ada risiko yang juga harus mereka pertaruhkan.

Bagi saya sebagai warga negara, penyelam itu bukanlah sebatas melakukan pekerjaan. Mereka menjalankan sebuah panggilan pengabdian. Mereka mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk mengupayakan kepulangan. Barangkali kita sendiri mungkin tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana rasanya berada di dasar laut dalam kondisi seperti itu.

Kita hanya melihat rekamannya. Kita hanya dapat membayangkan gelapnya laut, kuatnya arus, sempitnya ruang kapal, dan beratnya tugas yang harus dilakukan. Tetapi mereka mengalaminya secara langsung. Mereka turun ketika kita hanya mampu menyaksikan dari kejauhan. Mereka mencari ketika keluarga korban hanya mampu menunggu. Mereka berusaha menemukan ketika sebagian dari kita bahkan mungkin tidak sanggup membayangkan apa yang ada di dalam bangkai kapal.

Setiap korban memiliki keluarga yang menunggu kepulangan. Ada seorang ibu/bapak yang menunggu anaknya. Ada seorang anak yang menunggu orangtuanya. Ada seorang suami atau istri yang berharap pintu rumah kembali terbuka. Ada keluarga yang mungkin belum siap menerima kabar kehilangan sebelum mereka benar-benar mengetahui di mana orang yang mereka cintai berada.

Maka, pencarian bukan sekadar menemukan tubuh. Pencarian adalah ikhtiar mengembalikan kepastian kepada keluarga.Itulah mengapa pekerjaan para penyelam memiliki dimensi kemanusiaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar keberhasilan operasi.

Mereka tidak mengenal seluruh korban yang dicari. Namun, mereka memperlakukan setiap korban sebagai manusia yang layak ditemukan dan dipulangkan dengan martabat. Di tengah laut yang gelap, mereka membawa satu hal yang mungkin tidak terlihat dalam rekaman: harapan. Harapan bahwa masih ada yang dapat dibawa pulang. Harapan bahwa mereka yang telah meninggal dapat ditemukan dan dipulangkan dengan layak.

Pengabdian untuk Kemanusiaan
Di titik inilah saya teringat pada pesan Buya Hamka: "Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." Kalimat itu terasa menemukan maknanya dalam kerja-kerja dan misi para penyelam. Pengabdian bukan semata-mata tentang pekerjaan yang dilakukan. Pengabdian adalah ketika pekerjaan itu memiliki makna bagi kehidupan orang lain.

Mereka mungkin tidak mengenal nama-nama korban. Mereka mungkin tidak pernah bertemu keluarga korban. Namun, mereka tetap turun. Tetap mencari. Tetap berusaha. Bagi mereka, seseorang yang hilang bukan sebatas angka, atau bukan hanya sebatas "instruksi dan perintah" dari atasan karena hierarki birokrasi, tetapi inilah pengabdian mereka: menemukan manusia yang harus dicari dan dibawa pulang pada keluarganya.

Di tengah berbagai perdebatan mengenai penyebab kecelakaan KM Virgo Transport 8, investigasi tentu harus berjalan. Kementerian Perhubungan dan aparat penegak hukum memiliki kewenangan mengusut penyebab kecelakaan, memastikan aspek keselamatan pelayaran diperiksa, serta menentukan ada atau tidaknya pelanggaran dan pertanggungjawaban hukum. Namun, sebelum seluruh pertanyaan itu memperoleh jawabannya, ada manusia-manusia yang masih bekerja di tengah laut.

Mereka tidak menunggu semua persoalan selesai untuk bergerak. Mereka bergerak karena masih ada keluarga yang menunggu. Mereka menyelam karena masih ada korban yang harus ditemukan. Mereka bertaruh nyawa demi sebuah kepulangan.

Di situlah kita perlu kembali memahami arti "negara yang hadir" dalam situasi darurat: bukan sebatas regulasi, lembaga, dan kewenangan, tetapi melalui manusia-manusia yang mengabdikan diri paling depan ketika kehidupan orang lain membutuhkan pertolongan.

Negara hadir melalui tangan yang menolong. Negara hadir melalui kapal yang mencari. Negara hadir melalui helikopter yang mengevakuasi. Negara juga hadir melalui para penyelam yang berulang kali turun ke dasar laut, menembus gelap, demi membawa seseorang kembali kepada keluarganya.Laut boleh gelap. Kapal boleh karam. Namun, kemanusiaan tidak boleh ikut tenggelam.

Selama masih ada keluarga yang menunggu, pencarian menjadi ikhtiar untuk mengembalikan seseorang kepada keluarganya. Sebagai warga negara, maka cara kita membalas jawa para penyelam yang mempertaruhkan keselamatan demi kepulangan itu, mungkin penghargaan pujian, melainkan doa agar setiap kali mereka turun ke dalam laut, mereka kembali ke permukaan dengan selamat.

Musibah mungkin berada dalam takdir Sang Pencipta, tetapi janganlah risiko alasan untuk menyerah pada takdir. Dengan ilmu, riset, regulasi, dan standar keselamatan, manusia memiliki ikhtiar untuk mencegah tragedi yang sama berulang.

Di balik gelapnya dasar laut tempat KM Virgo Transport 8 tenggelam, ada mereka yang menyelam bukan sekadar menembus kedalaman, melainkan menjemput jejak kemanusiaan. Mereka mempertaruhkan nyawa ketika sebagian besar manusia hanya mampu menunggu dari kejauhan.

Laut menyimpan tragedi, tetapi para penyelam menunjukkan bahwa di tengah gelap pun kemanusiaan masih menemukan cahaya. Pengabdian mereka mungkin tidak selalu terdengar, tetapi setiap keberanian yang dipertaruhkan adalah penghormatan kepada mereka yang menanti kepulangan.

Karena itu, duka semestinya tidak berhenti menjadi air mata. Haruslah menjadi pelajaran, dan pelajaran harus menjelma ikhtiar negara: memperkuat keselamatan, memperketat standar, dan memastikan tragedi serupa tidak kembali menjadi cerita yang kita tangisi.


(miq/miq)
Next Article Honorer, PPPK, Akankah Menjadi PNS Tanpa Tes?