Di Balik Tugu Reinwardt, Ada Sejarah Panjang Kebun Raya Bogor
Pernahkah kita berjalan di Kebun Raya Bogor dan melihat sebuah tugu yang mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita besar tentang awal perkembangan ilmu botani di Indonesia?
Di kawasan Kolam Gunting, tepat di belakang pelataran Istana Bogor, berdiri Tugu Reinwardt. Monumen ini bukan sekadar penanda sebuah nama. Ia menjadi pengingat terhadap sosok yang memiliki peran penting dalam lahirnya Kebun Raya Bogor sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan tumbuhan di Nusantara.
Sosok itu adalah Prof. Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang ilmuwan botani dan kimia berkebangsaan Jerman yang kemudian berkarier di Belanda. Namanya begitu erat dengan sejarah Kebun Raya Bogor. Bahkan, jurnal ilmiah botani Reinwardtia, yang diterbitkan oleh Herbarium Bogoriense, mengambil nama untuk mengenang tokoh tersebut.
Dari Buitenzorg, sebuah gagasan besar dimulai
Pada awal abad ke-19, wilayah Bogor yang saat itu dikenal sebagai Buitenzorg menjadi tempat berkembangnya berbagai kegiatan ilmiah dan pertanian. Gagasan membangun sebuah kebun botani kemudian memperoleh bentuk yang lebih nyata.
Pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan kebun botani dengan nama 's Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pelaksanaan pembangunan kebun tersebut dipimpin oleh Reinwardt.
Kawasan awal kebun mencakup lahan di sekitar Istana Bogor. Dari sinilah perjalanan panjang sebuah kebun botani yang kemudian dikenal sebagai Kebun Raya Bogor dimulai.
Reinwardt menjadi pemimpin awal kebun tersebut hingga tahun 1822. Dalam periode itu, ia berperan dalam mengumpulkan berbagai jenis tumbuhan dan benih dari wilayah Nusantara. Perlahan, Buitenzorg berkembang menjadi salah satu pusat penting penelitian tumbuhan, pertanian, dan hortikultura.
Lebih dari sekadar kebun
Yang menarik, sejarah Kebun Raya Bogor tidak berhenti pada keberadaan koleksi tumbuhan hidup. Perkembangannya kemudian menjadi bagian penting dari lahirnya berbagai institusi ilmiah. Kebun Raya Bogor menjadi tempat berkembangnya tradisi penelitian botani yang kemudian melahirkan berbagai fasilitas dan lembaga pendukung, termasuk Herbarium Bogoriense yang didirikan pada 1844.
Herbarium memiliki peran yang sangat penting dalam ilmu botani. Spesimen tumbuhan yang dikoleksi, diawetkan, didokumentasikan, dan dipelajari menjadi sumber informasi ilmiah mengenai keanekaragaman tumbuhan Indonesia.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang sejarah Kebun Raya Bogor, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang sejarah panjang dokumentasi dan penelitian keanekaragaman hayati Indonesia.
Mengapa ada Tugu Reinwardt?
Untuk mengenang jasa Reinwardt sebagai perintis Kebun Raya Bogor, sebuah tugu kemudian didirikan di kawasan kebun raya. Tugu Reinwardt di Kebun Raya Bogor diresmikan pada 19 Mei 2025, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kebun Raya Bogor ke-208.
Peresmian tersebut dilakukan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada waktu itu, Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc., dan turut dihadiri oleh Kedutaan Besar Jerman. Peresmian Tugu Reinwardt menjadi bagian dari upaya mengenang jasa Caspar Georg Carl Reinwardt, pendiri sekaligus direktur pertama Kebun Raya Bogor.
Tugu tersebut seolah menjadi titik kecil yang menghubungkan kita dengan sejarah yang sangat panjang. Di satu sisi terdapat lanskap Kebun Raya Bogor dengan pepohonan dan koleksi tumbuhannya. Di sisi lain, terdapat Istana Bogor. Di antara keduanya berdiri sebuah monumen yang mengingatkan bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat dimulainya sebuah perjalanan besar dalam ilmu pengetahuan tumbuhan di Indonesia.
Sebuah nama yang tetap hidup dalam dunia botani
Menariknya, nama Reinwardt tidak hanya diabadikan melalui sebuah tugu. Nama tersebut juga terus hidup dalam dunia ilmiah melalui Reinwardtia, jurnal yang berkaitan erat dengan Herbarium Bogoriense dan penelitian botani. Jurnal tersebut pertama kali terbit pada 1950 dan merupakan kelanjutan dari Bulletin du Jardin botanique de Buitenzorg. Dengan demikian, warisan Reinwardt bukan hanya sebuah monumen.
Warisan itu berkembang menjadi kebun raya, koleksi tumbuhan, herbarium, publikasi ilmiah, penelitian, pendidikan, hingga berbagai upaya konservasi keanekaragaman hayati. Dari sebuah tugu, kita belajar tentang perjalanan ilmu pengetahuan.
Mungkin bagi sebagian pengunjung, Tugu Reinwardt hanyalah salah satu objek sejarah yang dilewati ketika berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Namun jika kita berhenti sejenak dan melihatnya dari perspektif sejarah, tugu itu memiliki makna yang jauh lebih besar.
Ia mengingatkan kita bahwa koleksi tumbuhan yang hari ini dapat kita lihat di kebun raya tidak hadir begitu saja. Di baliknya terdapat perjalanan panjang eksplorasi, pengumpulan, identifikasi, penelitian, dokumentasi, dan konservasi. Dan perjalanan tersebut memiliki salah satu titik penting pada tahun 1817, ketika Kebun Raya Bogor mulai dibangun dan Reinwardt memimpin pelaksanaannya.
Jadi, ketika suatu hari kita melewati Tugu Reinwardt di Kebun Raya Bogor, mungkin kita tidak lagi hanya melihat sebuah tugu. Kita sedang melihat sebuah pintu kecil menuju sejarah panjang ilmu botani dan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
(miq/miq)