Bunga Teratai, Simbol Kesucian, dan Cerita Tumbuhan
Berada di atas air, dengan bentuk bundar dan kecoklatan, bunga ini biasa mekar pada malam hari dan menyebar aroma wangi. Bagi penganut agama Hindu dan Budha, bunga ini adalah representasi dari keindahan, kesucian, dan penyucian jiwa.
Dalam ajaran Budha, tokoh-tokoh penting seperti Sidarta Goutama dan Dewi Kwan Im seringkali terkait dengan bunga ini. Keindahan bunga teratai seolah tidak bisa disentuh oleh sembarangan orang atau makhluk hidup lainnya. Hal ini dikarenakan seluruh bagian dari tumbuhan ini dipenuhi duri tajam, yang menjaga bunga tetap terjaga.
Tumbuhan air yang akarnya ada di bawah air sedangkan daun dan bunga berada di permukaan air adalah salah satu alternatif tumbuhan hias yang dapat memperindah kolam yang ada di halaman. Jika sedang mekar, aroma wangi akan menyeruak dan memenuhi area kolam, selain tentu saja keindahan warna bunga yang dapat menenangkan ketika memandangnya. Tak heran, jika tumbuhan ini identik dengan keindahan dan kesucian.
Di beberapa tempat, tumbuhan ini biasa digunakan untuk penambah rasa masakan, kue-kue tradisional, maupun minuman berkhasiat. Memang, tumbuhan ini selain menawarkan keindahan dan wangi, juga memiliki beragam manfaat lainnya.
Bagian-bagian dari tumbuhan ini ada yang bisa digunakan sebagai obat untuk mengatasi pendarahan, demam, masalah kesehatan hati dan jantung, juga untuk mengatasi batuk yang membandel. Secara kimia pun, tumbuhan ini mengandung senyawa-senyawa yang potensial untuk mengatasi pembengkakan, mengatasi gula darah, membunuh bakteri dan sel kanker, juga melindungi jantung.
Di Indonesia, tumbuhan ini walaupun bukan asli Indonesia, tetapi dapat tumbuh dengan baik. Di kolam-kolam taman, terhias tumbuhan ini yang makin mempercantik lanskap kebun, apalagi ketika sedang berbunga. Di Kebun Raya Bogor sendiri, sebagai epicentrum persebaran tumbuhan budidaya, tumbuhan teratai atau teratai raksasa berada di danau. Keindahan bunganya berhasil memikat dan menarik banyak pengunjung.
Lebih Dekat dengan Teratai Raksasa
Daun tanaman ini kukuh dan kuat, berbentuk bulat menyerupai tampah, nyiru dengan garis tengah ± 1,50 m, warnanya hijau kekuning kuningan, agak licin dan pada bagian pinggirnya berbelok tegak lurus kira kira 5-10 cm.
Pada pinggiran daun ini terdapat dua lekukan yang berseberangan letaknya seolah olah membagi daun menjadi dua bagian yang sama besar. Permukaan bagian bawah daun dikelilingi oleh duri duri tajam yang panjang, apabila menusuk tangan akan terasa gatal dan panas.
Bijinya berwarna hijau kecoklat-coklatan, kulit biji keras dan berukuran kira kira sebesar biji kacang tanah. Satu buah berisi 24-30 biji, yang masing-masing dibungkus oleh suatu pembungkus yang tipis agak kuat dan berwarna putih.
Daging biji berwarna putih agak lembek dan bertepung, mengandung kanji, minyak dan protein dan dipergunakan sebagai bahan makanan oleh orang-orang Afrika yang masih primitif. Orang India menganggap biji ini suatu benda·terlarang (tabu) dan menamakannya "jagung air".
Akar batangnya menyerupai umbi dan berdiri tegak lurus pada lumpur (tanah) di dalam air. Akar akar ini diperkuat oleh akar akar penunjang yang bentuknya menyerupai bunga karang (sponge) yang jumlahnya banyak sekali dan akar akar tersebut keluar dari pangkal pangkal daun dalam berkas yang masing-masing berjumlah 10 sampai 30 buah, bahkan sampai 40 buah. Akar akar penunjang ini lama kelamaan akan menjadi busuk akan tetapi akan diganti oleh akar akar yang baru bersamaan dengan jalannya pertumbuhan daun.
Bunga Victoria regia yang berbentuk seperti piring ini, mempunyai suatu keistimewaan tersendiri yaitu bunga tersebut mekar (membuka) pada malam hari. Pada waktu bunga membuka, maka akan tercium bau yang sangat harum yang akan menarik kumbang untuk hinggap di atasnya.
Kumbang akan hinggap pada bunga tersebut kemudian masuk ke dalam, setelah berada di dalam ia akan memakan bagian dinding sebelah dalam yang mengandung lendir. Karena asyiknya kumbang tadi makan, waktu bunga berangsur angsur menutup, mereka tidak mengetahuinya dan mereka telah dikurung, di dalam bunga tadi seolah olah sebagai tahanan.
Pada malam berikutnya bunga membuka untuk yang kedua kalinya, pada waktu itu warnanya tidak seperti warna semula, akan tetapi berwarna agak suram (keungu unguan) dan sebagian perhiasan bunganya ada yang layu dan sudah tidak begitu harum lagi. Segera setelah bunga membuka kembali, kumbang yang berada di dalamnya akan berterbangan keluar. Dengan kejadian tersebut, maka secara tidak disadari kumbang yang baru keluar itu tubuhnya telah dipenuhi oleh tepungsari.
Seperti telah kita ketahui bahwa seekor kumbang tidak akan hinggap hanya pada satu bunga saja, tetapi akan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Begitu pula halnya dengan kumbang tadi. Ia akan hinggap pada bunga Victoria regia yang lain yang masih segar, sehingga pada waktu kumbang tersebut hinggap pada bunga ini, dimana tubuh kumbang tadi penuh dengan tepungsari, dengan tidak disadari akan memindahkan tepungsari yang menempel tadi pada bunga tersebut.
Dengan Gerakan gerakan sayapnya tepungsari itu akan berjatuhan dan diantaranya ada yang jatuh di atas kepala putik. Dengan demikian terjadilah penyerbukan pada bunga Victoria regia, yang dilakukan oleh kumbang.
Cara menanam tumbuhan ini cukup mudah. Bijinya disebarkan dalam bak dangkal berisi tanah liat dan ditaruh dalam sepanci air, sekitar bulan Januari atau Februari pada temperatur sekitar 30°C. Tanah dimasukkan pada bagian dasar bak setebal ±15 cm; untuk bak-bak yang dalam, diperlukan tanah sampai 30 cm.
Sebelum disebarkan kulit luar biji yang keras itu dikikir lebih dahulu, maksudnya untuk mempercepat perkecambahan. Perkecambahannya memerlukan waktu yang lama kira-kira 6 bulan kadang kadang lebih.
Pada waktu pertumbuhan tanaman ini memerlukan banyak sinar, dengan demikian harus ditempatkan pada ruangan terbuka di mana cahaya matahari dapat langsung diterima. Untuk pertumbuhannya ia memerlukan banyak humus.
Apabila humus tidak dapat diperoleh dapat dipakai kompos yang terdiri dari 1/3 bagian kotoran sapi, 1/3 bagian hancuran daun dan kemudian tanah secukupnya. Untuk menjaga supaya kompos tidak hanyut terbawa aliran air, maka tempat disekitar tanaman tadi harus diberi dinding sekat.
Jika semua tahapan sudah dilakukan, maka tinggal menunggu bunga ini mekar dengan sempurna dan keindahannya dapat dirasakan serta aroma wangi yang bisa dihirup di malam harinya. Selain itu, kita juga punya cadangan pengobatan tradisional.
Sekilas "Perjalanan" Teratai Raksasa
Koleksi Kebun Raya Bogor ini adalah jenis yang secara ilmiah dikenal dengan nama Victoria regia Lindl. Sinonim dengan Victoria amazonica (Poepp.) Klotzsch, atau biasa dikenal dengan nama "teratai raksasa", adalah tanaman air yang termasuk suku Nymphaeaceae (teratai terataian).
Tanaman ini mempunyai bunga yang paling besar di antara tanaman tanaman lain dalam suku ini, berwarna putih susu, harum dan mekar pada malam hari. Penyerbukan dilakukan oleh sejenis kumbang, yang masuk ke dalam bunga itu, seolah olah merupakan tahanan. Pembiakan hanya bisa dilakukan dengan biji, dan untuk mengecambahkannya diperlukan waktu 6-8 bulan, kadang kadang lebih.
Bagaimana tumbuhan ini bisa sampai ke Indonesia? Tumbuhan juga memiliki sejarah dan ceritanya sendiri. Berdasarkan berbagai literatur, diketahui bahwa tumbuhan ini diketahui untuk pertama kalinya di Bolivia oleh Haenke pada tahun 1801. Bonpland pada tahun 1809 menjumpai tanaman ini dekat Corrientes, Argentina, dan pada tahun 1825 Bonpland mengirimkan biji biji serta keterangan lain ke Marbel, Paris.
Pada tahun 1836 Robert H. Schomburgh menemukan tanaman ini di Sungai Berbice di British Guiana dan beliau mengumpulkan herbarium material serta gambarnya, dan dari penemuan inilah Lindley pada tahun 1837 menamai tumbuhan ini Victoria regia yang deskripsinya diterbitkan pada tahun 1838, yang kemudian direvisi pada tahun 1847 menjadi Victoria amazonica.
Penamaan ini sebagai suatu penghormatan kepada ratu Victoria dari Inggris. Schomburgh memindahkan tanaman ini dari danau di daerah pedalaman dan teluk teluk ke Georgetown, British Guiana, akan tetapi segera mati.
Pada tahun 1846 Bridges mendapatkan biji biji di Bolivia. Ia mengirimkan bijl-biji itu yang dibungkus oleh tanah liat basah ke Inggris, Dari 25 biji yang ada di Kew Garden, tiga biji di antaranya dapat berkecambah, akan tetapi gagal untuk mempertahankan hidupnya pada musim dingin.
Pada tahun 1848 ia mengirim biji biji kering dan rhizome ke Inggris. Rhizomenya busuk dan biji biji itu tidak berkecambah. Suatu ekspedisi dari Georgetown pada tahun 1849 telah berhasil membawa 35 tanaman hidup, tapi semuanya segera mati. Rodie dan Luckie, dokter muda dari Inggris mengirimkan beberapa butir biji yang berasal dari S. Demerara ke Kew Garden.
Biji-biji tersebut dimasukkan kedalam botol yang berisi air bersih. Kiriman pertama tiba pada tanggal 28 Pebruari 1849 dan pada tanggal 8 Nopember 1849 tanaman berbunga di Chatsworth. Dari pohon inilah Victoria regia disebarkan ke taman-taman di Eropa, Asia dan Amerika termasuk Indonesia. Kebun Raya Bogor mendapat kiriman biji Victoria regia ini dari Kebun Botani Amsterdam, Belanda pada tahun 1860.
Jadi, di balik keindahan bunga yang kita nikmati keindahannya, terkandung sejarah Panjang perjalanan ilmu pengetahuan. Mereka tidak pernah kenal Lelah terus mencoba berbagai upaya penelitian, uji coba, dan upaya-upaya yang terus menerus menghadapi rintangan.
Upaya tersebut tidak melibatkan banyak peneliti, lembaga penelitian, bahkan diplomasi lintas negara. Tumbuhan tersebut mengajarkan pada kita mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dengan berbagai eksperimennya, kesungguhan dalam berusaha, dan perlindungan diri yang kuat.
Dengan cara-cara tersebut, versi terbaik kita dapat mekar sempurna yang tidak saja mempercantik lanskap, melainkan juga menebar aroma harum. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, manfaat-manfaat lainnya yang terkandung di dalam tumbuhan tersebut.
(miq/miq)