Solusi Titik Awal Kemandirian Teknologi Indonesia

Kuntjoro Pinardi CNBC Indonesia
Sabtu, 05/09/2026 17:28 WIB
Kuntjoro Pinardi
Kuntjoro Pinardi
Kuntjoro Pinardi merupakan pengajar di Institut Sains Teknologi Nasional. Ia adalah Ahli Manajerial dan Tata Kelola Sistem Kebijakan Energi ... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi cip. (Dokumentasi Freepik)

Presiden Prabowo Subianto menempatkan kemandirian industri, energi, dan mobilitas sebagai bagian penting transformasi Indonesia. Pemerintah menargetkan pembangunan 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta memperkuat kendaraan dan motor listrik nasional. Di balik semua produk tersebut terdapat satu komponen yang menentukan: semikonduktor.



Pemerintah juga telah memulai langkah di sisi sumber daya manusia (SDM). Melalui pengembangan ekosistem bersama Arm, Indonesia menargetkan pelatihan 15.000 talenta semikonduktor dalam tiga tahun. Fokus pada desain cip penting karena Indonesia tidak harus menunggu memiliki foundry sendiri untuk mulai membangun kemampuan semikonduktor.

Namun pertanyaannya bukan hanya berapa orang yang dilatih. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah pelatihan, apakah mereka mampu membangun sesuatu?


Kajian terhadap kurikulum program studi Teknik Elektro di UI, ITB, UNDIP, dan ITS menunjukkan bahwa perguruan tinggi besar Indonesia sebenarnya telah mempunyai banyak komponen yang dibutuhkan. Ada semiconductor devices, VLSI, FPGA, analog/mixed-signal, microelectronics, embedded systems hingga IC technology.

Masalah utamanya adalah kompetensi tersebut masih tersebar. Industri membutuhkan orang yang mampu menghubungkan teori menjadi satu proses engineering: requirement, architecture, design, verification, prototype, debugging, hingga evidence bahwa hasilnya benar.

Di sinilah program Pemagangan Nasional MagangHub dapat mempunyai peran yang jauh lebih strategis. Kementerian Ketenagakerjaan telah menaikkan kuota MagangHub 2026 menjadi 150.000 peserta, dengan masa pemagangan hingga enam bulan serta peluang fasilitasi sertifikasi kompetensi.

Pemerintah menyatakan program ini dimaksudkan untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Bayangkan bila dari jumlah itu hanya 2.000 tempat magang dikhususkan untuk semiconductor engineering. Bukan 2.000 orang mengerjakan pekerjaan administratif di perusahaan teknologi, tetapi dibagi ke tiga kemampuan inti.

Digital IC: specification → RTL → verification → FPGA → synthesis → timing → DFT → physical implementation.

Analog/mixed-signal: specification → transistor-level design → simulation → PVT → layout → extraction → post-layout verification.

Firmware: power/reset → first execution → register initialization → peripheral → boot → security → operating-system handoff → board bring-up.

Dengan komposisi tersebut, peserta dapat dibentuk menjadi ratusan tim engineering lintas-disiplin. Satu tim dapat diberi target sederhana tetapi nyata: controller smart meter, secure MCU, motor-control subsystem, BMS controller, sensor interface, atau utility processor.

Ukuran keberhasilannya juga harus berubah. Jangan sekadar "telah mengikuti magang enam bulan", melainkan peserta harus meninggalkan program membawa engineering evidence: desain, source code, hasil verification, defect yang pernah ditemukan, root cause, repair, regression, dan prototype yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kami pernah melihat dalam skala sangat kecil bagaimana dua orang fresh graduate dapat mengikuti pembelajaran intensif RISC-V processor engineering sekitar empat minggu dan berkembang dari logika digital menuju architecture, SystemVerilog, pipeline, hazard, verification, dan processor integration dengan evaluasi mentor yang sangat baik.

Ketika kemudian dicoba memperluasnya menjadi delapan posisi tambahan, pengajuannya belum berhasil melewati proses internal MagangHub. Pengalaman kecil itu tidak membuktikan ada yang salah dengan MagangHub. Justru ia menunjukkan perlunya jalur khusus untuk pekerjaan teknologi strategis yang karakter kompetensinya berbeda dari magang umum.

Indonesia tidak harus langsung membuat semua wafer sendiri. Kita masih dapat memakai Arm atau RISC-V, EDA internasional, serta foundry global. Tetapi satu hal harus mulai dimiliki sendiri: kemampuan engineering.

Jika 2.000 anak Indonesia setiap tahun benar-benar pernah mendesain, menguji, menemukan kegagalan, memperbaiki, dan membawa sistem menuju cip yang bekerja, kemandirian semikonduktor tidak lagi dimulai dari slogan atau bangunan pabrik. Ia dimulai dari manusia yang tahu bagaimana teknologi dibuat.


(miq/miq)