Menjaga Pangan di Tengah Ancaman Iklim

Surya Gentha Akmal, Ph.D. CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 14:02 WIB
Surya Gentha Akmal, Ph.D.
Surya Gentha Akmal, Ph.D.
Surya Gentha Akmal merupakan Dosen Tetap di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan Peneliti pada... Selengkapnya
Foto: Petani memanen padi. (Dokumentasi Kementerian Pertanian)

Ketahanan pangan kembali menjadi perhatian utama nasional. Ancaman El Niño dan perubahan iklim tidak lagi bersifat hipotetis, tetapi nyata dan berdampak langsung pada produksi, distribusi, dan harga pangan. Dalam konteks ini, arah kebijakan pemerintah menempatkan pangan sebagai fondasi stabilitas menjadi sangat relevan.


Arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan diterjemahkan melalui pendekatan terintegrasi. Fokus tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup distribusi, penguatan cadangan, stabilisasi harga, serta koordinasi lintas sektor. Pendekatan ini penting karena ketahanan pangan tidak semata berbicara tentang beras, melainkan juga akses masyarakat terhadap pangan, kecukupan gizi, dan keterjangkauan harga.

Secara faktual, tekanan terhadap sektor pangan sudah mulai terlihat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,71 juta ton, sementara pada 2026 produksi tetap dijaga di kisaran 25 juta ton pada periode awal tahun. Pada saat yang sama, luas panen sempat mengalami penurunan sekitar 3,16 persen pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan sensitivitas sektor pertanian terhadap dinamika iklim.

Pengalaman El Niño 2023 memberikan pelajaran penting. Kebijakan saat ini bergerak lebih preventif. Pemerintah mempercepat tanam, memperluas pompanisasi, merehabilitasi jaringan irigasi, mengoptimalkan lahan, serta memperkuat cadangan pangan. Di saat yang sama, sektor perikanan didorong sebagai sumber protein alternatif yang strategis.

Urgensi langkah ini diperkuat oleh proyeksi iklim. Data menunjukkan probabilitas El Niño moderat sangat tinggi dan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang. Kondisi tersebut berisiko menurunkan produksi pertanian. Proyeksi internasional bahkan memperkirakan penurunan produksi padi dan jagung, meski dalam skala terbatas.

Namun, tantangan tersebut tidak bersifat deterministik. Produksi pangan tidak hanya ditentukan oleh faktor alam. Intervensi pemerintah melalui teknologi, pengelolaan air, penggunaan varietas unggul, dan peningkatan produktivitas lahan menjadi faktor penentu. Dengan langkah mitigasi yang tepat, target swasembada tetap berada dalam jalur yang realistis.

Dalam menghadapi El Niño, faktor kunci terletak pada pengelolaan air. Program pompanisasi dan rehabilitasi irigasi menjadi garda terdepan menjaga keberlanjutan produksi. Di sisi lain, penguatan cadangan beras pemerintah menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga jika terjadi gangguan.

Saat ini, posisi cadangan beras nasional berada pada level kuat, sekitar 5,2 juta ton. Angka tersebut memberikan bantalan yang cukup dalam menghadapi tekanan jangka pendek. Pemerintah juga memiliki berbagai instrumen tambahan seperti stabilisasi harga, bantuan pangan, dan penguatan distribusi antarwilayah.

Stabilitas harga menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Strategi pemerintah mencakup penguatan produksi di hulu, kelancaran distribusi antarwilayah, serta intervensi pasar melalui cadangan pangan dan program stabilisasi. Keseimbangan dijaga agar petani dan nelayan tetap memperoleh insentif, sementara masyarakat tetap dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau.

Koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Kementerian teknis, lembaga pangan, dan pemerintah daerah harus bergerak dalam satu arah. Peran Kementerian Koordinator Bidang Pangan memastikan seluruh kebijakan bergerak dalam satu arah, cepat, dan responsif terhadap dinamika di lapangan.

Ke depan, tantangan tidak hanya El Niño, tetapi perubahan iklim yang semakin ekstrem. Karena itu, pembangunan sistem pangan harus bersifat jangka panjang. Modernisasi pertanian, digitalisasi, pengembangan varietas tahan iklim, perlindungan lahan pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber lokal, serta penguatan sektor perikanan menjadi agenda penting. Indonesia memiliki potensi besar dalam sumber pangan alternatif, termasuk komoditas lokal yang selama ini belum dimanfaatkan optimal.

Ketahanan pangan yang kuat tidak cukup diukur dari stok. Indikatornya lebih luas. Ketersediaan yang berkelanjutan, harga yang stabil, akses yang merata, kualitas gizi yang baik, serta kemampuan bertahan terhadap krisis menjadi ukuran utama. Jika seluruh aspek tersebut terpenuhi, maka ketahanan pangan bertransformasi menjadi kedaulatan pangan.

Pada akhirnya, menjaga pangan adalah menjaga stabilitas bangsa. Dalam situasi penuh ketidakpastian, pendekatan yang tenang, terukur, dan berbasis data menjadi kunci. Dengan kolaborasi antara pemerintah, petani, nelayan, pelaku usaha, dan masyarakat, optimisme menuju sistem pangan yang tangguh tetap terjaga.


(miq/miq)