Kehampaan Akibat Standardisasi AI dan Absennya Individualitas Unik

Firman Kurniawan S,  CNBC Indonesia
28 July 2026 17:08
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S merupakan pendiri literos.org. Beliau juga dikenal sebagai pemerhati budaya dan komunikasi digital... Selengkapnya
Foto: Robot menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Dokumentasi Reuters)
Foto: Robot menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Dokumentasi Reuters)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Struktur kehidupan manusia hari ini tampak mengalami penyusunan ulang secara total. Jika sebelumnya, struktur di era industry 4.0 sangat dipengaruhi oleh keberadaan internet, maka oleh kehadiran teknologi jenis yang lain struktur itu berubah. Penyebutannya pun turut diperbarui. Mungkin industry 5.0, adalah penyebutan yang tepat sebagai kelanjutan saat artificial intelligence (AI) merombak struktur secara total.

Di era industry 4.0, internet merupakan tulang punggung interaksi. Hasilnya berupa pembentukan jejaring. Ini didorong oleh masifnya penggunaan mikroelektronik, yang kemudian juga mengubah bentuk masyarakatnya.

Masyarakat yang semula disebut mass society berubah menjadi network society. Cirinya selalu berada dalam keterhubungan. Network society adalah terminologi yang dikemukakan Manuel Castells, 1996, dalam bukunya "The Rise of The Network Society". Pada masyarakat dalam bentuk ini, informasi adalah bahan baku keterhubungan.

Keterhubungan antara manusia dengan manusia lain, berlangsung tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Sebagian besarnya terjadi di dalam perangkat mikroelektronik: telepon selular, tablet, laptop, yang terhubung dengan internet.

Dengan aplikasi interaktif --media sosial, pertukaran pesan, berbagi foto dan video, perbelanjaan maupun games-sebagai ruang praktiknya. Hasil keterhubungannya berupa pengetahuan, yang maknanya terbentuk oleh interaksi sosial.

Peristiwa politik yang semula tak diperhatikan misalnya, berubah jadi bermakna -sehingga harus disikapi dengan dukungan atau penolakan- lantaran adanya interaksi sosial. Karenanya, aplikasi interaktif menjadi ruang publik digital. Sebuah ruang yang membentuk pengetahuan sosial bersama, common social knowledge.

Pengetahuan sosial bersama, merupakan ciri penting era industry 4.0 yang difasilitasi ruang publik digital. Sedangkan era AI, juga menghasilkan pengetahuan, dalam wujud: machine-generated knowledge.

Dihasilkan oleh kerja perangkat yang mengolah data berjumlah sangat besar -big data-- menjadi algoritma, melalui machine learning dan neural network. Operasinya terjadi di dalam struktur komputasional yang bersifat matematis dan statistik. Menghasilkan informasi baru berdasarkan permutasi dan kombinasi data. Informasi baru ini dapat digunakan untuk memprediksi, tak hanya mendeskripkan.

Letak perbedaan utama kehadiran dua jenis teknologi itu, berupa cara pengetahuan dihasilkan. Walaupun era AI, juga bertumpu pada internet sebagai sarana keterhubungan --juga peran data sebagai pembentuk algoritma-- namun pengetahuan yang semula dihasilkan melalui interaksi sosial di ruang publik digital, bergeser ke pengetahuan yang dihasilkan oleh mesin dengan bahan baku big data. Peran ruang publik digital, tergeser oleh operasi komputasional yang mengolah, menganalisis, dan menghasilkan pengetahuan, berdasarkan big data.

Permutasi dan kombinasi berbasis big data --di dalam machine learning maupun neural network-- menciptakan semesta pengetahuan yang jumlahnya tampak tak terhingga. Ini jika dibanding kapasitas pembentukannya, yang hanya mengandalkan peran manusia.

Namun yang terlihat jelas, pengetahuan di era AI disajikan sesuai kebutuhan individu pengguna dan bukan hasil hasil interaksi sosial. Apakah ini berarti: pengetahuan yang dihasilkan di era AI, mendukung individualitas? Tidak, justru era AI menolak individualitas dan mengeliminasi keberagamannya ke dalam standardisasi.

Realitas ini dikonfirmasi thebrokernews.ch, 2026, dalam "Humanity is an Average: No Single Person Fits that Description". Disebutkannya, misi dari setiap laboratorium AI terkemuka adalah pengembangan sistem bagi miliaran umat manusia. Tak pernah tentang individu. Analisis terhadap dokumen OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind menunjukkan konsistensi itu: individu menghilang tujuan pengembangan kecerdasan buatan.

Lebih lanjut dikemukakan: komitmen yang tercantum pada piagam OpenAI mengarahkan kecerdasan buatan bagi "seluruh umat manusia". Demikian pula Anthropic yang mendefinisikan misinya: bertanggung jawab untuk memberikan manfaat "jangka panjang bagi umat manusia".

Dan dengan nada yang tak berbeda --Google DeepMind yang meneliti kecerdasan-- bertujuan memajukan ilmu pengetahuan dan "memberi manfaat bagi umat manusia". Angka-angkanya juga mengonfirmasi itu semua. Tak satu pun dari tiga laboratorium itu, menyebut "individu" dalam misi pengembangannya. Misinya berfokus pada "kemanusiaan", "masyarakat" atau "dunia", yang dirangkum dalam satu kata: kemanusiaan.

Seluruhnya ini dapat dijelaskan, AI yang dikembangkan oleh OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind, merupakan akumulasi dari miliaran titik data maupun rata-rata dari semua yang pernah menjadi digital path umat manusia.

Maka jika dirumuskan lebih konseptual, pergeseran dari era industry 4.0 ke era AI adalah perubahan struktural untuk mencapai standardisasi dan merata-ratakan keunikan individu. Keberagaman diseragamkan melalui penggunaan AI. Seluruhnya kemudian mengubah pola komunikasi, menjadi transaksionalisasi.

Pernyataan ini relevan dengan ungkapan yang disampaikan Bjorn Beam, 2025, dalam "The Social Price of AI Communication". Disebutkannya, platform berbasis AI yang didukung oleh large language model (LLM) maupun operasi algoritmis di baliknya, secara tak disadari pelakunya mengajari untuk berbicara dan berpikir layaknya mesin. Berperilaku efisien, jelas dan tanpa emosi. Tujuan interaksinya terukur, sebagai komunikasi transaksionalisasi.

Interaksi dioptimalkan menjadi jelas dan ringkas demi efisiensi, namun kehilangan kedalaman emosionalnya. Juga nuansa budaya maupun spontanitas yang mendefinisikan hubungan manusia yang otentik, absen.

Perubahan struktur ini kemudian mempengaruhi cara orang berinteraksi --di tempat kerja maupun dalam hubungan pribadi-- menjadi efisien dan dingin ala AI. Keadaan ini -dua dekade yang lalu-- oleh George Ritzer, 2003, dalam "The Globalization of Nothing", disebut: mengonsumsi kehampaan.

Pada dasarnya, Ritzer mengontraskan keadaan yang dilahirkan oleh kapitalisme global, sebagai standardisasi dan penghilangan individualitas. Sementara AI, merupakan perangkat praktis pelanggengan sistem ekonomi ini cara mendasarnya, menggantikan bentuk-bentuk sosial yang bersifat lokal dan bermakna dengan produk-produk standar yang dikendalikan secara terpusat.

Konseptualisasinya, bergeser dari, "Something menuju Nothing". Something yang merupakan bentuk sosial yang lahir dari budaya lokal, beragam, kaya makna, unik, dan dikendalikan sebagai kearifan lokal --seperti praktik perdagangan tradisional maupun seni lokal-- digantikan oleh nothing.

Kehampaan akibat praktik sosial yang dikendalikan secara terpusat, seragam, dan minim kekhasan. Misalnya penyeragaman selera makanan lewat McDonald's, pilihan musik berdasarkan peringkat di Spotify, dan rekomendasi tontonan berdasar petunjuk Netflix. Yang lokal dan individual tak terwadahi. Disebut nothing, lantaran standardisasi menghilangkan makna yang hadir dari keberagaman. Termasuk keberagaman individu.

Nothing memiliki 4 dimensi, masing-masing: pertama non-places, yaitu bentuk ruang yang seragam tanpa identitas lokal. Misalnya, bentuk seluruh gerai McDonald serupa di seluruh dunia. Demikian juga dengan jaringan Hotel Ibis maupun Novotel yang dikelola oleh Accor. Juga Holiday Inn Express dalam pengelolaan IHG, yang memiliki bentuk seragam dalam tampilan internasionalnya.

Kedua non-things, yaitu produk massal yang identik seperti kartu kredit maupun fast food. Dan ketiga, non-people berupa interaksi yang bersifat impersonal seperti yang diterapkan oleh telemarketer maupun customer service yang berbasis teks standar. Serta yang keempat non-services berupa layanan tanpa interaksi manusia seperti ATM, registrasi hotel atau pemesanan tiket.

Pada dasarnya, 4 dimensi nothing yang dikemukakan Ritzer di atas mengeliminasi nuansa perbedaan yang berakar pada keunikan individu. Dan di era AI, praktiknya menjadi makin terwadahi. Ini lantaran algoritma yang terbangun berdasar 5V big data --volume, velocity, variety, veracity dan value- makin terpenuhi.

Rasa kopi, bentuk sepatu, makanan sela antara waktu makan siang dan makan malam, pilihan ruang untuk berlibur, tingkat rasa manis minuman ringan, hingga jenis investasi di hari tua, informasinya tersedia berdasar selera rata-rata global yang merepresentasikan keadaan agregatnya. Ini selanjutnya digunakan sebagai standar global. Namun apakah standar global, serta merta merupakan kesepakatan global?

Jawabannya, sesuai uraian di atas soal machine-generated knowledge berbasis AI yang bersifat matematis dan statistik. Sama sekali bukan hasil kesepakatan yang didasari interaksi sosial. Alih-alih gagasan individu mandiri yang diinteraksikan. Yang ditunjukkan algoritma merupakan hasil operasi komputasional.

Prosesnya tak lebih merupakan agregasi big data, yang didominasi sistem kapitalistik sebagai bujukan konsumsi maupun propaganda politik. Sehingga kehendak individu tak terwadahi oleh sistem AI. Kedigdayaan big data dan kekuatan analisisnya menihilkan interaksi manusiawi dan memperdalam jurang nothing.

Melepaskan diri dari kehampaaan, melawannya dengan "Globalization menjadi Glocalization". Yaitu mengubah dorongan kekuatan global yang menyebarkan standar tunggal ke seluruh dunia, menjadi adaptasi lokal untuk mempertahankan something. Kutukan standardisasi AI dan hilangnya keunikan individu dikembalikan dengan menempatkan individu sebagai pusat makna. Tak bersifat utopis, jika seluruhnya belum terlambat bukan?


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Kiamat Trafik Organik: Ketika AI Jadi Gerbang Penentu Keputusan Bisnis