Menyambut Babak Baru Pertumbuhan BNPL Indonesia

Perry Barman Slangor CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 15:56 WIB
Perry Barman Slangor
Perry Barman Slangor
Perry Barman Slangor merupakan profesional di sektor jasa keuangan yang telah berkarier di berbagai institusi perbankan dan pembiayaan selam... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi Buy Now Pay Later

Dalam berbagai perspektif, regulasi kadang diposisikan sebagai faktor yang membatasi ruang pertumbuhan. Namun di sektor jasa keuangan di Indonesia, arah yang terlihat justru sebaliknya. Penguatan kerangka regulasi justru berperan sebagai katalis dalam membangun fondasi pertumbuhan industri yang lebih sehat.

Dalam konteks Buy Now Pay Later (BNPL), hal ini terlihat nyata. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan kerangka regulasi formal melalui POJK No. 32 Tahun 2025 yang memberikan definisi dan batasan yang lebih jelas terhadap layanan BNPL di Indonesia.

Melalui aturan ini, penyelenggaraan BNPL ditegaskan hanya dapat dilakukan oleh institusi yang berada dalam pengawasan langsung, yaitu perbankan dan perusahaan pembiayaan. Regulasi tersebut juga menetapkan standar tata kelola, manajemen risiko, serta kewajiban pelaporan yang lebih terstruktur bagi penyedia layanan.


Lebih dari sekadar pengakuan formal, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memastikan akses pembiayaan tetap inklusif namun bertanggung jawab. Hal tersebut tercermin melalui penguatan berbagai ketentuan yang mendorong penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen yang lebih baik dalam penyelenggaraan layanan BNPL.

Sejalan dengan implementasi regulasi tersebut, OJK juga memberikan masa penyesuaian terhadap sejumlah ketentuan. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi pelaku industri untuk memastikan implementasi berjalan selaras dengan ketentuan regulator, sekaligus memperkuat fondasi ekosistem BNPL yang lebih sehat, kredibel, dan berkelanjutan dalam sistem keuangan nasional.

Arah kebijakan yang semakin jelas ini mendorong terbentuknya ekosistem yang lebih akuntabel. Dampaknya mulai terlihat, baik dalam peningkatan standar underwriting dan pengelolaan risiko, maupun dalam penguatan kepercayaan dari konsumen, mitra perbankan, dan investor institusional.

Dalam konteks ini, regulasi tentu jelas tidak membatasi pertumbuhan. Melainkan kehadirannya memastikan bahwa pertumbuhan tersebut dibangun di atas fondasi yang sehat.

Pendekatan ini sekaligus menandai pergeseran penting dalam lanskap industri. Inovasi tidak lagi bergerak melampaui pengawasan, melainkan berkembang dalam kerangka yang semakin terarah. BNPL pun kini menjadi bagian dari layanan keuangan formal dengan posisi yang semakin jelas dalam sistem keuangan nasional.

Dengan fondasi regulasi yang semakin matang, perhatian kini tertuju kepada besarnya peluang pertumbuhan industri ke depan. Indonesia merupakan salah satu pasar pembiayaan digital yang menarik, didukung oleh basis populasi underserved yang besar, dengan sekitar satu dari tiga populasi belum tersentuh layanan perbankan formal, serta percepatan adopsi digital di berbagai sektor.

Potensi tersebut tercermin dalam perkembangan industri. Otoritas Jasa Keuangan mencatat outstanding pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan telah mencapai Rp12,8 triliun, meningkat hampir 56% secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa BNPL tidak lagi berada pada tahap awal adopsi, melainkan telah berkembang menjadi salah satu alternatif pembiayaan yang semakin diterima masyarakat Indonesia.

Di balik pertumbuhan tersebut, terdapat kekuatan demografi yang menjadi salah satu motor utama perkembangan industri BNPL di Indonesia. Dengan dominasi populasi usia produktif, termasuk Generasi Z (Gen Z) dan Milenial yang mencakup separuh dari total populasi, Indonesia memiliki basis masyarakat yang akrab dengan layanan digital dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi generasi ini, kecepatan dan kemudahan akses bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan ekspektasi dasar dalam mengakses layanan, termasuk layanan keuangan.

Karakteristik tersebut juga tercermin pada basis pengguna PT Akulaku Finance Indonesia. Sekitar 60% pengguna berada pada rentang usia 18 hingga 29 tahun. Hal ini memperlihatkan bahwa BNPL juga berkembang karena kemampuan dalam menjawab kebutuhan generasi digital.

Perkembangan yang sama juga tercermin dalam kinerja PT Akulaku Finance Indonesia. Di tengah berbagai tantangan dan dan ketidakpastian global, perusahaan secara konsisten mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit. Penyaluran pembiayaan baru perusahaan mencapai tumbuh 23% senilai Rp7,44 triliun di sepanjang 2025.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap pembiayaan digital yang dikelola secara prudent tetap kuat, bahkan ketika masyarakat dan pelaku usaha menghadapi kondisi makro yang dinamis.

Menarik untuk dicermati, sebagian besar transaksi yang difasilitasi perusahaan didominasi oleh pemenuhan kebutuhan yang bersifat esensial. Produk elektronik penunjang produktivitas, kebutuhan rumah tangga, serta berbagai kebutuhan sehari-hari menjadi kontributor utama dalam portofolio pembiayaan perusahaan.

Hal ini menunjukkan bahwa BNPL semakin banyak dimanfaatkan sebagai instrumen untuk membantu masyarakat mengelola arus kas rumah tangga sekaligus memenuhi kebutuhan yang relevan dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dengan demikian, penggunaan BNPL saat ini tidak lagi semata dipandang sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai solusi pembiayaan yang mendukung produktivitas dan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pesatnya pertumbuhan BNPL sekaligus membawa industri memasuki fase perkembangan yang baru. Seiring dengan hadirnya kerangka regulasi yang efektif, pertumbuhan perlu disertai dengan penguatan tata kelola, peningkatan standar manajemen risiko, serta perlindungan konsumen yang memadai. Dengan demikian, industri tidak hanya bertumbuh lebih besar, tetapi juga berkembang menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa pertumbuhan BNPL diiringi oleh meningkatnya perhatian terhadap perlindungan konsumen, potensi over-indebtedness, serta kebutuhan akan kerangka regulasi yang matang.

Membangun Ekosistem yang Lebih Bertanggung Jawab

Seiring dengan semakin luasnya adopsi BNPL dalam kebutuhan sehari-hari, tanggung jawab penyedia layanan juga meningkat secara signifikan.

Menjangkau first-time borrowers, yang sebagian besar belum memiliki riwayat kredit formal, tidak cukup hanya dengan menyediakan akses pembiayaan. Diperlukan kemampuan untuk menilai risiko secara akurat, memahami perilaku pembayaran, serta mengelola portofolio secara berkelanjutan.

Di sinilah sinergi antara regulasi dan inovasi teknologi menjadi krusial. Keterhubungan dengan sistem informasi kredit nasional, serta pemanfaatan data alternatif dan model analitik berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), memungkinkan proses pengambilan keputusan yang lebih presisi.

Pada saat yang sama, kerangka regulasi memastikan bahwa inovasi tersebut berjalan dalam batasan yang jelas, dengan tetap mengedepankan perlindungan konsumen. Kombinasi ini menjadi fondasi bagi ekosistem yang tidak hanya inklusif, tetapi juga bertanggung jawab.

Sinyal Positif bagi Pemangku Kepentingan

Bagi investor dan mitra global, perkembangan BNPL di Indonesia mencerminkan dinamika yang semakin progresif. Hal ini menunjukkan bahwa pasar dengan potensi pertumbuhan tinggi tidak harus mengorbankan tata kelola atau stabilitas. Sebaliknya, Indonesia memperlihatkan bahwa inovasi dan disiplin regulasi dapat berjalan beriringan dalam membangun nilai jangka panjang.

Dalam lanskap global yang semakin menekankan kualitas pertumbuhan, kekuatan institusional, dan manajemen risiko, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak hanya besar dari sisi ukuran pasar, tetapi juga semakin kredibel sebagai ekosistem keuangan.

Ke depan, arah perkembangan BNPL di Indonesia akan semakin ditentukan oleh kualitas pertumbuhan yang dihasilkan.

Seiring dengan kerangka regulasi yang terus berkembang dan praktik industri yang semakin matang, fokus akan bergeser pada bagaimana layanan ini dikelola secara bertanggung jawab. Hal itu dilihat baik dalam hal perlindungan konsumen, disiplin risiko, maupun keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

Babak baru ini menuntut pelaku industri untuk tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga dengan kehati-hatian. Pada akhirnya, masa depan BNPL tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat industri ini tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fondasi kepercayaan yang mampu dibangun.

 


(rah/rah) Add as a preferred
source on Google