Jangan Terlena oleh Ketenangan Semu Ekonomi Global
Ekonomi global sedang mempertontonkan sebuah paradoks yang menarik sekaligus menyesatkan. Di permukaan, pasar keuangan tampak semakin tenang. Harga minyak mulai bergerak turun, inflasi menunjukkan kecenderungan melandai, dan eskalasi konflik di Timur Tengah tidak lagi seintens beberapa bulan sebelumnya. Seolah-olah dunia sedang bergerak menuju fase pemulihan.
Namun, di balik ketenangan tersebut, tiga lembaga ekonomi internasional S&P Global Ratings, International Monetary Fund (IMF), dan World Bank,justru menyampaikan pesan yang sama dengan diksi yang berbeda.
S&P menggunakan istilah Fragile Relief, IMF menggambarkan ekonomi global berada dalam Crosscurrents of War and Technology, sedangkan World Bank menyebut dunia sedang menghadapi another major shock yang menekan prospek pertumbuhan global ke titik terendah sejak pandemi Covid-19. Perbedaan mereka hanya terletak pada pilihan kata, tetapi substansinya identic, yaitu risiko global belum berakhir, melainkan sedang berubah bentuk.
Saya melihat ketiga laporan tersebut bukan sebagai tiga narasi yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu mosaik besar yang menjelaskan fase baru perekonomian dunia. Fase inilah yang saya sebut sebagai Fragile Relief Syndrome.
Fragile Relief Syndrome: Ketenangan yang Menipu
Fragile Relief Syndrome merupakan kondisi ketika indikator-indikator ekonomi tampak membaik, sementara sumber ketidakpastian justru semakin kompleks. Inilah "jebakan batman" terbesar dalam membaca ekonomi global saat ini. Investor kembali optimistis. Pemerintah mulai merasa tekanan telah berkurang. Bank-bank sentral memperoleh ruang yang lebih luas untuk menata kebijakan moneternya.
Tetapi di balik optimisme tersebut, fondasi risiko justru semakin melebar. Risiko tidak menghilang; ia hanya berganti wajah. Krisis energi bergeser menjadi krisis produktivitas. Tekanan inflasi berubah menjadi kompetisi penguasaan teknologi. Konflik militer berkembang menjadi perang rantai pasok, perang data, dan persaingan penguasaan kecerdasan buatan.
Oleh karena itu, saya tidak memaknai fragile relief sebagai awal pemulihan ekonomi global. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai fase transisi menuju tatanan geoekonomi baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya.
Dunia Tidak Lagi Digerakkan Harga Minyak
Selama hampir lima dekade, siklus ekonomi dunia relatif mudah dipahami. Ketika harga minyak naik, inflasi meningkat. Ketika inflasi meningkat, bank sentral menaikkan suku bunga. Ketika suku bunga naik, pertumbuhan ekonomi melambat. Kini pola tersebut mulai kehilangan relevansinya.
Laporan S&P menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi global semakin bergantung pada investasi teknologi dan kepercayaan pasar. IMF bahkan menilai bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah menjadi penyeimbang terhadap dampak negatif konflik geopolitik. Sementara itu, World Bank memperkirakan apabila negara-negara berkembang mampu mengadopsi AI secara luas, dekade 2030 berpotensi menjadi periode dengan lonjakan produktivitas terbesar sejak tahun 1970-an.
Pesannya sangat jelas. Mesin pertumbuhan ekonomi dunia telah bergeser. Bukan lagi minyak. Bukan lagi batu bara. Bukan lagi bijih besi. Melainkan data, algoritma, semikonduktor, komputasi awan (cloud computing), dan kecerdasan buatan. Dengan kata lain, dunia sedang mengalami transformasi dari commodity cycle menuju technology cycle.
Indonesia di Persimpangan Sejarah
Di tengah perubahan tersebut, posisi Indonesia sesungguhnya relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional masih mencapai 5,61% pada triwulan I 2026, inflasi berada pada kisaran 3,48%, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, sementara defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB masih berada dalam batas yang sehat.
World Bank juga tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia sekitar 5,0% pada2026 dan meningkat menjadi 5,2% pada 2027, menjadikan Indonesia salah satu ekonomi besar yang paling stabil di tengah perlambatan ekonomi global. Proyeksi ini yang justru menjadi tantangan terbesar berada.
Selama ini kita terlalu sering mengukur keberhasilan pembangunan melalui besarnya angka pertumbuhan ekonomi. Padahal, ukuran sesungguhnya bukanlah pertumbuhan, melainkan produktivitas. Pertumbuhan dapat terdorong oleh siklus harga komoditas dan produktivitas hanya lahir dari inovasi.
Dari Hilirisasi Menuju Ekonomi Berbasis Inovasi
Kebijakan hilirisasi merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Namun, hilirisasi bukanlah tujuan akhir pembangunan ekonomi. Hilirisasi hanyalah pintu masuk menuju transformasi industri.
Negara-negara maju tidak menjadi kaya karena menjual nikel. Mereka menjadi kaya karena menguasai teknologi yang memanfaatkan nikel. Nilai tambah terbesar tidak berasal dari aktivitas pertambangan, tetapi dari kemampuan menghasilkan inovasi, teknologi, dan produk bernilai tinggi. Karena itu, agenda pembangunan Indonesia harus segera bergerak dari resource-based economy menuju innovation-driven economy.
APBN Harus Menjadi Mesin Produktivitas
Dalam perspektif ini, reformasi fiskal memasuki babak baru. Hal ini berorientasi pada apa yang disampaikan oleh World Bank, yang mengingatkan bahwa banyak negara kaya komoditas gagal memanfaatkan periode booming harga karena tambahan penerimaan negara lebih banyak digunakan untuk memperbesar belanja rutin. Ketika harga komoditas turun, ruang fiskal menyempit dan kemampuan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ikut melemah.
Indonesia tidak boleh mengulangi konjungtur tersebut. APBN tidak lagi cukup cukup diposisikan sebagai instrumen distribusi, termasuk redistribusi aset dan stabilisasi ekonomi. APBN harus bertransformasi menjadi mesin produktivitas nasional.
Belanja negara harus diarahkan untuk memperkuat riset, mengembangkan ekosistem Artificial Intelligence, membangun pusat data nasional, mempercepat digitalisasi industri, meningkatkan kualitas pendidikan, dan menciptakan sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam titik pandang ini, defisit fiskal yang sehat bukanlah tujuan akhir, akan tetapi hanyalah prasyarat untuk membangun produktivitas jangka panjang.
Indonesia sesungguhnya memiliki hampir seluruh modal dasar yang dibutuhkan untuk melakukan lompatan besar, antara lain bonus demografi, pasar domestik yang luas, cadangan mineral strategis, Stabilitas sistem keuangan, posisi geopolitik yang relatif netral. Namun kita harus sadari bahwa kita masih kurang atas kecepatan transformasi.
Dalam era geoekonomi modern, keunggulan suatu negara tidak lagi ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh kecepatannya mengubah sumber daya tersebut menjadi inovasi, teknologi, dan daya saing.
Penutup
Dalam titik pandang saya, laporan S&P, IMF, dan World Bank bukan sekadar publikasi ekonomi triwulanan. Ketiganya sedang mengirimkan sinyal yang sama kepada seluruh negara berkembang dengan menyatakan bahwa Era stabilitas telah berakhir, kita telah memasuki era kompetisi produktivitas.
Hanya Negara yang hanya mampu menjaga inflasi akan bertahan, Negara yang mampu mengubah stabilitas menjadi inovasi akan memimpin. Maka pada titik ini, Indonesia dihadapkan pada pilihan sejarah. Apakah kita akan terus menikmati fragile relief yang bersifat sementara? Ataukah kita menggunakan momentum ini untuk melakukan lompatan besar menuju ekonomi berbasis inovasi, teknologi, dan produktivitas?
Saya meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa besar cadangan nikel atau sumberdaya alam lainnya, akan tetapi atas seberapa besar kemampuan bangsa ini mengubah sumber daya menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, dan inovasi menjadi daya saing. Karena di era geoekonomi, stabilitas hanyalah fondasi, produktivitas adalah mesin pertumbuhan dan inovasi merupakan jalan menuju kedaulatan ekonomi Indonesia.
(miq/miq) Add
source on Google