Internship Dokter, Komunikasi Antar Generasi dan Sistem Kesehatan Kita

Heryadi Silvianto CNBC Indonesia
Minggu, 14/06/2026 09:38 WIB
Heryadi Silvianto
Heryadi Silvianto
Heryadi Silvianto merupakan praktisi public relations yang mengambil konsentrasi pada isu korporasi, government relations dan kehumasan poli... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi dokter. (Dokumentasi KMN EyeCare)

Berbagai peristiwa yang muncul dalam beberapa waktu terakhir terkait Program Internship Dokter Indonesia telah menarik perhatian publik. Beragam pandangan mengemuka, mulai dari isu kesejahteraan peserta, beban kerja, perlindungan peserta, hingga kualitas pembimbingan di wahana pelayanan kesehatan.


Di tengah berbagai polemik tersebut, ada satu hal yang perlu kita lihat secara lebih jernih. Peristiwa-peristiwa ini sesungguhnya memberikan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan refleksi terhadap sistem yang selama ini berjalan.

Tidak ada sistem yang sempurna, begitu pula dengan sistem kesehatan. Sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, rumah sakit, puskesmas, dokter pendamping, dan peserta internship, selalu terdapat ruang untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi siapa yang salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dapat kita perbaiki bersama?

Mengapa Internship Tetap Penting?
Program Internship Dokter Indonesia merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu lulusan kedokteran dan keselamatan pasien. Program ini dirancang sebagai masa transisi dari dunia pendidikan menuju dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.

Pada fase inilah seorang dokter belajar mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan klinis, etika profesi, kemampuan komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam situasi nyata. Di berbagai negara, fase transisi semacam ini merupakan bagian penting dari pembentukan profesionalisme tenaga kesehatan.

Tujuannya bukan hanya menghasilkan dokter yang mampu melakukan tindakan medis, tetapi juga dokter yang matang secara profesional dan siap menghadapi kompleksitas pelayanan kesehatan.

Skala program ini tidaklah kecil. Di Provinsi DKI Jakarta saja, pada periode 2025-2026 terdapat 108 wahana Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) dengan 562 peserta, serta 27 wahana Program Internship Dokter Gigi Indonesia (PIDGI) dengan 78 peserta. Program ini didukung oleh lebih dari seratus dokter pendamping yang bertugas di berbagai rumah sakit dan puskesmas.

Artinya, kualitas pelaksanaan internship bukan hanya menyangkut kepentingan individu peserta, tetapi juga menyangkut kualitas pembentukan dokter masa depan dan pelayanan kesehatan yang akan diterima masyarakat. Karena itu, ketika muncul berbagai persoalan dalam pelaksanaannya, yang perlu diperbaiki adalah kualitas implementasinya, bukan semangat dasar dari program tersebut.

Persoalan yang Sering Terabaikan: Komunikasi
Dalam beberapa kesempatan, penulis menjadi narasumber pada kegiatan pembinaan dokter pendamping internship di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dari berbagai diskusi yang berlangsung, muncul satu benang merah yang menarik.

Banyak persoalan internship ternyata tidak semata-mata berakar pada kompetensi klinis. Persoalan sering kali muncul dari komunikasi. Ekspektasi yang berbeda, instruksi yang tidak jelas, umpan balik yang kurang efektif, kesalahpahaman dalam memahami arahan, atau hubungan yang terlalu hierarkis sehingga peserta enggan bertanya.

Temuan monitoring dan evaluasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa berbagai keluhan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan dan beban kerja, tetapi juga menyangkut fungsi pendampingan dan komunikasi yang kurang baik.

Di sisi lain, evaluasi dokter pendamping juga menunjukkan adanya keluhan terkait kedisiplinan, inisiatif, etika profesi, serta kepatuhan peserta terhadap berbagai kewajiban pembelajaran.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan internship tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Kedua belah pihak menghadapi tantangan yang nyata. Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan memperbaiki kualitas komunikasi dan pembelajaran.

Padahal dalam dunia kesehatan, komunikasi bukan sekadar soft skill. Komunikasi adalah bagian dari kompetensi klinis. Kesalahan komunikasi dapat memengaruhi proses pembelajaran, koordinasi tim, bahkan keselamatan pasien.

Penulis berfoto bersama peserta pelatihan komunikasi Program Dokter Internship di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis)

Ketika Dua Generasi Bertemu
Kita juga tidak dapat mengabaikan fakta bahwa internship hari ini berlangsung dalam konteks perubahan generasi. Sebagian besar dokter pendamping dibentuk oleh kultur pendidikan yang relatif hierarkis dan instruktif. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan senioritas sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, sebagian besar dokter internsip saat ini berasal dari Generasi Z yang tumbuh dalam era digital. Mereka terbiasa dengan akses informasi yang cepat, memperoleh umpan balik secara langsung, serta lebih nyaman dengan dialog dibandingkan instruksi satu arah. Berbagai studi global mengenai Generasi Z menunjukkan bahwa mereka cenderung menghargai keterbukaan komunikasi, kolaborasi, dan kejelasan umpan balik dalam proses belajar maupun bekerja.

Perbedaan tersebut bukanlah masalah. Namun tanpa komunikasi yang baik, perbedaan itu dapat berkembang menjadi kesenjangan persepsi. Dokter pendamping merasa peserta kurang inisiatif. Peserta merasa pendamping sulit didekati. Pendamping merasa sudah menjelaskan. Peserta merasa belum memahami. Pesan yang disampaikan sama, tetapi makna yang diterima berbeda. Di sinilah komunikasi menjadi faktor yang menentukan.

Pentingnya Psychological Safety
Salah satu konsep yang banyak dibahas dalam dunia pendidikan dan organisasi modern adalah psychological safety. Amy Edmondson dari Harvard Business School mendefinisikannya sebagai kondisi ketika seseorang merasa aman untuk bertanya, menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, maupun meminta bantuan tanpa takut dipermalukan atau dihukum.

Penelitian Edmondson menunjukkan bahwa tim dengan tingkat psychological safety yang tinggi memiliki kemampuan belajar yang lebih baik karena anggota tim berani mendiskusikan kesalahan, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan kekhawatiran yang berpotensi memengaruhi kinerja tim.

Dalam konteks internship, psychological safety bukan berarti menurunkan standar profesional. Justru sebaliknya, lingkungan belajar yang aman memungkinkan peserta lebih berani berdiskusi, lebih cepat belajar, dan lebih terbuka terhadap umpan balik.

Dalam pelayanan kesehatan, budaya takut bertanya merupakan ancaman bagi keselamatan pasien. Sebaliknya, budaya belajar yang sehat merupakan investasi bagi kualitas pelayanan kesehatan jangka panjang.

Dari Supervisor Menjadi Coach
Perubahan zaman menuntut perubahan pendekatan. Dokter pendamping tetap memiliki otoritas profesional yang tidak tergantikan. Namun peran tersebut perlu diperluas, bukan hanya sebagai supervisor, melainkan juga sebagai coach.

Supervisor berfokus pada pengawasan. Coach berfokus pada pengembangan. Supervisor memastikan pekerjaan selesai. Coach membantu seseorang bertumbuh.
Pendekatan coaching tidak mengurangi kewibawaan seorang dokter pendamping. Sebaliknya, pendekatan ini memperkuat efektivitas pembelajaran karena peserta merasa didengar, dibimbing, dan diarahkan untuk berkembang.

Dokter pendamping yang baik mengajarkan cara bekerja. Dokter pendamping yang hebat mengajarkan cara berpikir. Dan dokter pendamping yang luar biasa menginspirasi cara bertumbuh.

Pesan untuk Dokter Internsip
Refleksi ini juga perlu ditujukan kepada para dokter internsip. Internship bukan hanya tentang hak untuk dibimbing. Internship juga tentang kesiapan untuk belajar.
Belajar berarti menerima koreksi. Belajar berarti menghargai pengalaman para senior. Belajar berarti menjaga disiplin, etika, dan profesionalisme. Belajar berarti menyadari bahwa kompetensi tidak dibangun dalam semalam.

Setiap kritik yang disampaikan dengan niat baik adalah kesempatan untuk bertumbuh. Setiap tantangan adalah bagian dari proses menjadi dokter yang lebih matang. Dan setiap pengalaman akan menjadi bekal ketika suatu hari nanti mereka berada di posisi sebagai pembimbing bagi generasi berikutnya.

Saatnya Membangun Sistem yang Lebih Baik
Peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini hendaknya tidak dipandang sebagai kegagalan sistem. Sebaliknya, ini adalah sinyal bahwa sistem membutuhkan penyempurnaan.

Menariknya, berbagai rekomendasi yang muncul dari para dokter pendamping justru berfokus pada penguatan sistem pembelajaran. Mulai dari perbaikan sistem logbook dan borang, penyusunan pedoman yang lebih seragam, pembinaan yang lebih rutin, hingga peningkatan kapasitas dokter pendamping sebagai pembimbing dan mentor.

Kita memerlukan pembimbingan yang lebih kuat, komunikasi yang lebih sehat, mekanisme umpan balik yang lebih terbuka, perlindungan peserta yang lebih baik, serta budaya belajar yang semakin berorientasi pada keselamatan pasien.

Perbaikan tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, pimpinan wahana, dokter pendamping, dan para peserta internship sendiri.

Menyiapkan Dokter Masa Depan Indonesia
Pada akhirnya, dokter internsip hari ini adalah dokter umum besok. Mereka adalah calon dokter spesialis, calon kepala puskesmas, calon direktur rumah sakit, calon akademisi, calon peneliti, dan calon pemimpin sistem kesehatan Indonesia.

Cara kita membimbing mereka hari ini akan menentukan kualitas pelayanan kesehatan kita di masa depan. Barangkali hikmah terbesar dari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini adalah kesadaran bahwa sistem kesehatan kita masih memiliki ruang untuk diperbaiki.

Dan itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan organisasi yang mampu belajar dari setiap masalah yang muncul.

Karena itu, mari menjadikan berbagai peristiwa yang terjadi sebagai momentum untuk memperkuat sistem, memperbaiki komunikasi, dan membangun budaya pembelajaran yang lebih sehat.

Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar memperbaiki Program Internship. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan dokter yang lebih kompeten, lingkungan belajar yang lebih manusiawi, dan pelayanan kesehatan Indonesia yang semakin berkualitas bagi seluruh masyarakat.

Dokter internship hari ini adalah investasi kesehatan bangsa. Dan seperti investasi lainnya, hasil terbaik hanya akan lahir ketika semua pihak bersedia belajar, berkolaborasi, dan bertumbuh bersama.



(miq/miq) Add as a preferred
source on Google