Pancasila Baik-Baik Saja, yang Bermasalah adalah Kenyataannya
Ada yang aneh terjadi setiap 1 Juni. Negeri ini mendadak sangat mencintai Pancasila. Tagar nasional meledak, konten bertema merah putih berhamburan di linimasa, kutipan para founding fathers berseliweran di stories dengan filter estetik keemasan.
Algoritma merayakan, negara merasa sudah menunaikan kewajiban, dan kita tanpa sadar ikut dalam sebuah pertunjukan yang lebih mirip performance kolektif ketimbang refleksi yang sungguh-sungguh. Lalu setelahnya, di hari-hari berikut jadi Sepi. Pancasila kembali disimpan.
Kita hidup di era ketika sebuah nilai bisa viral dalam delapan jam dan terlupakan dalam dua hari. Era ketika kebenaran bersaing dengan konten, ketika keadilan dihitung dari jumlah like, ketika suara paling keras bukan selalu suara yang paling benar, tapi pada suara yang paling viral. Di sinilah Pancasila sedang menghadapi ujian yang sesungguhnya, bukan dari musuh ideologi, namun dari kebisingan yang kita ciptakan sendiri.
Dan di tengah kebisingan itu, ada kesunyian yang tidak banyak dibicarakan. Kesunyian sebuah jemaat kecil yang rumah ibadahnya disegel karena kalah suara dari massa yang lebih besar dan lebih berisik. Kesunyian seorang perempuan muda yang dilaporkan ke polisi karena mengunggah pendapat yang tidak populer.
Kesunyian komunitas adat yang surat tanah leluhurnya kalah kekuatan hukum dari selembar izin konsesi yang ditandatangani di Jakarta. Kesunyian buruh yang upahnya tidak naik sementara laporan keuangan para pemilik modal terus mencetak rekor. Kita hafal bunyi sila pertama dan sila kelima. Tapi kesunyian-kesunyian itu terlalu sering tidak terdengar di antara keramaian peringatan.
Pada 1 Juni 1945, Soekarno tidak bicara kepada bangsa yang sedang berbahagia. Ia bicara kepada bangsa yang belum ada, kepada masa depan yang belum pasti, dengan keyakinan bahwa fondasi yang diletakkan hari itu akan menentukan ke mana kapal bernama Indonesia ini harus terus berlayar puluhan tahun kemudian.
Para pendiri bangsa tidak sedang membangun ideologi untuk barang pajangan. Tapi mereka sedang merakit alat untuk dipakai. Alat yang cukup kuat untuk menampung semua perbedaan, cukup lentur untuk merangkul semua golongan, dan cukup tajam untuk memotong setiap bentuk ketidakadilan yang menghalangi jalan.
Yang tidak pernah dibayangkan Soekarno atau mungkin justru sudah dibayangkan adalah kemungkinan bahwa alat itu suatu hari akan dipajang di etalase, bukan cahaya penuntun nurani bangsa.
Hari ini kita menyaksikan sesuatu yang sulit untuk tidak disebut sebagai ironi sejarah. Pancasila diucapkan paling lantang justru oleh mereka yang paling jarang merasa terganggu oleh ketidakadilan. Ia dijadikan tameng oleh kekuatan-kekuatan yang sesungguhnya sedang menggerogoti nilai-nilai yang ada di dalamnya.
Oligarki modal terus merangsek dan mendikte kebijakan publik dari balik layar. Konsentrasi kekayaan pada segelintir oligarki terus melebar sementara jaring pengaman sosial terus menipis, dan demokrasi yang perlahan berubah menjadi prosedur tanpa substansi.
Kita sudah terbiasa menyembah nama, bukan menguji kerjanya. Terbiasa mengagungkan simbol, bukan mempertanyakan apakah simbol itu masih merepresentasikan kenyataan. Dan ketika ada yang berani bertanya, terlalu mudah bagi kekuasaan untuk menjawab dengan satu tuduhan yang mematikan percakapan: tidak nasionalis.
Padahal nasionalisme yang sesungguhnya bukan kesetiaan buta kepada negara. Bicara nasionalisme adalah soal kesetiaan kepada nilai-nilai yang menjadi alasan negara ini layak ada.
Maka pertanyaan yang harus kita bawa masuk ke dalam diri bukan apakah kita mencintai Pancasila. Pertanyaan mungkin itu terlalu mudah dijawab dengan ya. Sebaliknya, pertanyaan yang lebih jujur dan lebih menyakitkan adalah, di mana kita berdiri ketika Pancasila sedang dikhianati atas nama Pancasila itu sendiri?
Di mana kita ketika kelompok minoritas beribadah dalam ketakutan sementara negara memilih tidak melihat? Di mana kita ketika ruang digital dipenuhi hoaks yang memecah belah, sementara literasi kritis kita masih kalah cepat dari kecepatan jari yang membagikan kebencian? Di mana kita ketika kebijakan publik lahir bukan dari musyawarah yang terbuka, melainkan dari lobi-lobi gelap yang tidak pernah masuk berita?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih mencerminkan ke-Pancasila-an kita ketimbang hafalan sila yang sempurna sekalipun. Sebabnya, generasi ini tidak butuh Pancasila yang lebih indah dan nyaring bunyinya.
Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif, kesadaran yang tidak berhenti pada diri sendiri, yang berjalan ke depan dengan saling mengoreksi, saling menguji, dan saling mengingatkan bahwa nilai itu bukan milik negara, bukan milik penguasa, bukan milik mereka yang paling keras bersuara. Ia milik kita semua, dan tanggung jawab yang ada pada pundak seluruh warga bangsa.
Pancasila tidak butuh pembela yang pandai berpidato. Ia butuh orang-orang yang bersedia tidak nyaman, yang mau berdiri di sisi yang benar meski kalah populer, yang mau bersuara untuk mereka yang suaranya dikucilkan, yang mau menguji setiap kebijakan dengan satu pertanyaan sederhana: ini adil untuk siapa?
Begitulah para pendiri bangsa mengejawentahkan cita-citanya, yang bukan dengan menghafal, tapi dengan bergerak dalam kehendak yang sama. Bukan dengan merayakan, tapi dengan mempertaruhkan, mengisi kekurangan dan menopang cita-cita yang sama.
Dan Soekarno meninggalkan kita bukan dengan instruksi, melainkan dengan pengingat yang sampai hari ini masih lebih tajam dari semua pidato sesudahnya. Bahwa, "entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah bagaimana rupanya persatuan itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia merdeka itulah kapal persatuan adanya." Begitu kata Soekarno.
Hingga pada detik ini, kapal itu masih berlayar. Tapi ia tidak butuh penumpang yang sibuk bersolek di geladak sambil membiarkan lambungnya bocor. Sebabya, Pancasila bukan hafalan. Ia gerakan kolektif. Bukan pula narasi seremonial. Ia adalah pilihan, yang harus dihidupkan kembali setiap hari, di setiap keputusan kecil, di setiap momen ketika kita memilih antara diam yang nyaman dan suara yang berisiko.
Selamat Hari Lahir Pancasila. Bukan untuk dirayakan tapi untuk dibuktikan.
(miq/miq) Add
source on Google