Indonesia Emas 2045 Untuk Siapa?
Tahun 2045 nanti, Indonesia akan memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Pemerintah dan banyak pihak menyebut momentum tersebut sebagai "Indonesia Emas 2045", yaitu cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai negara maju, berdaya saing tinggi, memiliki kualitas sumber daya manusia unggul, ekonomi yang kuat, serta kehidupan sosial yang lebih sejahtera dan berkeadilan.
Namun pertanyaannya, Indonesia Emas 2045 itu sebenarnya untuk siapa? Jawabannya tentu untuk seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, jika melihat dari sisi waktu dan demografi, generasi yang paling menentukan keberhasilan Indonesia Emas 2045 adalah generasi muda saat ini, khususnya Generasi Z.
Generasi Z atau Gen Z umumnya merupakan mereka yang lahir sekitar tahun 1997-2012. Artinya, ketika Indonesia memasuki tahun 2045, usia Gen Z akan berada di kisaran 33 hingga 48 tahun.
Itu adalah usia produktif, usia ketika seseorang berada pada fase memimpin, mengambil keputusan, membangun keluarga, mengembangkan usaha, hingga menentukan arah bangsa. Dengan kata lain, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang generasi muda hari ini, tetapi juga akan dipimpin langsung oleh mereka.
Namun di tengah optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu adalah apakah generasi yang akan menjadi tulang punggung Indonesia Emas benar-benar sudah dipersiapkan dengan baik?
Hari ini, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak muda masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Bahkan tidak sedikit lulusan sarjana yang harus berjuang sangat keras hanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Gelar pendidikan yang diperoleh dengan penuh pengorbanan, biaya, waktu, tenaga, bahkan tekanan mental yang ternyata belum tentu menjadi jaminan untuk mendapatkan kesempatan kerja yang sesuai harapan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2025 mencapai 4,17 persen dan mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Bahkan kelompok usia muda menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi.
Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran usia 15-24 tahun berada di kisaran 16 persen, jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan generasi muda hari ini bukan hanya tentang "malas" atau "tidak mau berusaha", seperti stigma yang kadang muncul.
Persoalannya jauh lebih kompleks. Persaingan kerja semakin ketat, kebutuhan industri berubah cepat, perkembangan teknologi bergerak sangat agresif, sementara lapangan kerja yang tersedia belum sepenuhnya mampu menyerap jumlah lulusan yang terus bertambah setiap tahunnya.
Di sisi lain, Gen Z juga sering mendapat label sebagai "strawberry generation", terlihat bagus di luar tetapi dianggap rapuh menghadapi tekanan. Padahal, tidak semua realitas bisa disederhanakan seperti itu.
Generasi ini tumbuh di era yang berbeda. Mereka menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan digital yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah standar keberhasilan yang terus dibandingkan di media sosial, ketidakpastian ekonomi global, hingga perubahan dunia kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan/AI.
Maka, jika ingin jujur, persoalan hari ini bukan tentang siapa yang salah. Bukan semata-mata karena generasi mudanya lemah, dan juga bukan sepenuhnya karena negara gagal menyediakan peluang. Yang dibutuhkan adalah bagaimana semua pihak saling memahami dan mencari solusi bersama.
Sebab mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak mungkin menjadi tanggung jawab satu orang, satu kelompok, atau bahkan pemerintah saja. Semangat gotong royong yang sejak dahulu menjadi identitas bangsa Indonesia tetap menjadi kunci utama. Dunia pendidikan, pemerintah, perusahaan, masyarakat, hingga generasi mudanya sendiri harus bergerak bersama.
Generasi muda juga perlu mulai mempersiapkan diri, bukan hanya mengejar ijazah, tetapi juga kemampuan intelektual, adaptasi, keterampilan, kreativitas, komunikasi, dan mentalitas belajar yang kuat. Sementara itu, negara bersama sektor industri perlu membuka lebih banyak lapangan kerja serta menciptakan peluang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkembang.
Sebab, di tengah kondisi ekonomi dan persaingan kerja yang semakin ketat, penyediaan pekerjaan yang layak bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga tanggung jawab negara dalam memastikan anak muda memiliki kesempatan untuk membangun masa depan, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Karena pada akhirnya, Indonesia Emas bukan sekadar slogan atau target angka pertumbuhan ekonomi. Indonesia Emas adalah tentang manusia-manusia di dalamnya. Tentang apakah generasi yang hari ini sedang berjuang menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja benar-benar diberikan kesempatan yang adil untuk memperoleh pekerjaan, mengembangkan potensi, serta berkontribusi secara nyata bagi masa depan bangsa.
Tulisan ini mungkin tidak memberikan jawaban pasti apakah Gen Z siap atau tidak menghadapi Indonesia Emas 2045. Namun setidaknya, ini menjadi renungan bersama bahwa masa depan bangsa tidak dibangun dari saling merendahkan antargenerasi, melainkan dari saling memahami dan mendukung.
Tidak selalu ada pihak yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Yang ada adalah bagaimana kita mau membuka sudut pandang, memahami tantangan masing-masing, lalu bergerak bersama demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Karena bisa jadi, perubahan besar untuk menuju Indonesia Emas 2045 dimulai dari satu orang yang sadar bahwa bangsa ini tidak akan bergerak maju jika sesamanya masih saling menjatuhkan, bukan saling menguatkan.
(miq/miq) Add
source on Google