Apakah Narasi Terburuk Sudah 'Priced-in'?

Steven Polhaupesy,  CNBC Indonesia
22 May 2026 13:47
Steven Polhaupesy
Steven Polhaupesy
Steven Polhaupest merupakan Praktisi Pasar Modal dan Alumnus SOAS University of London dan Lund University. Saat ini aktif mengelola portofolio investasi pada family office. .. Selengkapnya
Foto: Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ada ironi menyakitkan yang selalu berulang di pasar berkembang, yaitu ketika nilai tukar menyentuh level psikologis baru, ketika asing keluar berhari-hari tanpa henti, ketika komentar di media penuh pesimisme, justru itulah saat yang paling menguntungkan untuk berinvestasi. Sejarah tiga negara berkembang besar membuktikannya dengan keras dan konsisten.

Kita mulai dari Indonesia 1997-1998. Rupiah yang semula Rp4.850 per dolar Amerika Serikat terjun bebas ke Rp17.000 atau depresiasi 73 persen dalam hitungan bulan. Soeharto jatuh. Kerusuhan melanda. IMF masuk dengan syarat-syarat ketat. Narasi saat itu tunggal: Indonesia hancur dan bangkrut. Modal asing kabur, IHSG ambruk 68 persen.



Tidak ada yang mau memegang aset rupiah. Namun investor yang justru masuk di titik panik terdalam itu menikmati kenaikan 168 persen dalam empat tahun berikutnya. Reformasi institusional yang lahir dari krisis, yaitu Bank Indonesia yang independen, desentralisasi fiskal, restrukturisasi perbankan, menjadi fondasi dua dekade pertumbuhan.

Dua dekade kemudian, cerita serupa terulang di Turki. Dalam 47 hari antara Juli dan Agustus 2018, lira kehilangan 34 persen nilainya terhadap dolar. Fitch menutup kantor Istanbul. Moody's dan S&P memangkas peringkat. Lembaga keuangan asing berteriak "Turkey is uninvestable."

Berbagai argumen akademis kemudian mengungkap temuan yang berlawanan dengan intuisi bahwa justru investor institusional asing yang berani membeli saat krisis itu yang return-nya paling tinggi di bulan-bulan berikutnya. Borsa Istanbul (BIST) dalam mata uang lokal tumbuh 479 persen antara 2010 dan 2022 bahkan melampaui hampir semua indeks pasar berkembang di dunia, meski lira terus tertekan.

Brazil melengkapi tritunggal ini. Antara 2015 dan 2016, negeri samba itu dihantam triple shock, yaitu resesi dua tahun berturut-turut (GDP minus 3,8 persen dan minus 3,6 persen), impeachment Presiden Dilma Rousseff akibat penyimpangan fiskal, dan skandal korupsi Petrobras yang mengguncang kepercayaan pasar.

Real Brazil melemah 33 persen. Ibovespa pada Januari 2016 berada di level yang sama dengan tahun 1997. Namun dari titik nadir itulah Ibovespa melipat-tigakan nilainya dalam empat tahun atau kenaikan 200 persen hingga Januari 2020, sebelum akhirnya kembali dihantam pandemi.

Pola Struktural
Ada pola struktural yang sama di ketiga kasus ini. Pertama, krisis mata uang menekan valuasi ke level historis terendah. Kedua, asing keluar masif menciptakan likuiditas yang dilempar ke pasar dengan harga diskon dalam. Ketiga, pesimisme narasi lokal mencapai puncak.

Tiga studi kasus ini membuktikan itulah tanda bahwa hampir semua berita buruk sudah terdiskon ke dalam harga (priced-in). Kemudian datanglah respons kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral, intervensi fiskal, atau reformasi struktural yang menjadi katalis pembalikan.

Tentu tidak semua krisis pasar berkembang berakhir dengan pemulihan. Argentina adalah contoh sisi gelap, yaitu default berulang, bank sentral yang tidak kredibel, dan capital control destruktif menghasilkan krisis permanen, bukan buying opportunity. Pembedanya ada pada fundamental institusi negara tersebut.

Setidaknya terdapat beberapa pertanyaan: Apakah bank sentral cukup independen untuk mengambil keputusan yang menyakitkan? lalu, apakah struktur utang luar negeri masih dapat dikelola? dan apakah krisis bersifat eksternal dan siklikal, atau struktural dan sistemik?

Bagaimana dengan Kondisi Indonesia?
Di sinilah relevansi bagi Indonesia tahun 2026 menjadi tajam. Rupiah sempat berada di level Rp17.700-an per dolar atau menyentuh titik historis terendah. Asing keluar agresif. Narasi lokal memburuk.

Jika melihat pola struktural komparasi di atas, Bank Indonesia masih dipersepsikan dapat menjaga kredibilitas dan integritasnya meskipun terdapat keraguan tata kelola oleh pasar akibat tekanan burden sharing. Pada tanggal 20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate ke 5,25 persen, di mana langkah ini sebagai sinyal policy credibility dan independence.

Indonesia juga masih bisa mengelola struktur utang luar negeri dengan baik. Debt to GDP ratio per tahun 2025 masih pada kisaran 40% atau jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Target defisit APBN juga terus dijaga di bawah 3% per GDP.

Permasalahan ekonomi dalam negeri juga bukan bersifat struktural dan sistemik, namun lebih banyak sentimen karena pemerintah masih menjaga fundamental ekonomi dan lebih banyak disebabkan ketidakpastian eksternal, khususnya tekanan di Timur Tengah dan politik luar negeri AS.

Sejarah tidak pernah berulang persis. Tetapi ia berima. Dan rima yang paling konsisten di pasar berkembang adalah bukan mereka yang masuk saat semua cerah, melainkan mereka yang berani berdiri di tengah ketidakpastian dengan kalkulasi, bukan keberanian buta ketika orang lain sedang berlarian keluar.

Jika para investor lebih bersabar dan memiliki time-frame investasi yang cukup panjang, kondisi pasar hari ini meskipun penuh ketidakpastian namun menawarkan peluang investasi terbaik seperti yang pernah muncul pada tahun 2008, 2013 atau 2020.

Semoga kepercayaan pelaku pasar modal kita (institusi dan retail), baik itu asing maupun lokal, segera membaik.





(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Dari Boom-Bust Menuju Ketahanan Struktural