Dari Bundesliga hingga AFC WCL sebagai Jembatan Antar Korea

Darynaufal Mulyaman,  CNBC Indonesia
07 May 2026 08:12
Darynaufal Mulyaman
Darynaufal Mulyaman
Darynaufal Mulyaman adalah seorang akademisi yang sekarang menjadi pengajar di Universitas Kristen Indonesia pada bidang Hubungan Internasional dengan fokus ekonomi politik global, kajian Asia Timur, budaya populer, dan studi pembangunan... Selengkapnya
Foto: Suasana di puncak Observatorium Puncak Aegibong, selatan zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara di Gimpo, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. (REUTERS/Soo-hyeon Kim)
Foto: Suasana di puncak Observatorium Puncak Aegibong, selatan zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara di Gimpo, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. (REUTERS/Soo-hyeon Kim)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Sepak bola punya cara tersendiri untuk merobohkan dinding yang dibangun oleh politik. Tidak ada yang membuktikannya lebih gamblang daripada adegan yang tertangkap kamera di Port Elizabeth pada musim panas 2010, ketika seorang penyerang berperawakan kokoh berdiri dalam balutan seragam merah Korea Utara, matanya berkaca-kaca seiring kumandang lagu kebangsaan Republik Demokratik Rakyat Korea.

Dunia kemudian mengenal namanya, Jong Tae-se, yang disematkan gelar The People's Rooney oleh media Inggris karena gaya bermainnya yang mengingatkan pada bintang Manchester United itu.

Jong bukan warga asli Pyongyang. Lahir dan tumbuh di Jepang sebagai keturunan Zainichi, sang ibu berafiliasi dengan Chongryon, organisasi pro-Pyongyang di Jepang, sehingga Jong berhak atas paspor Korea Utara meski darah Korea Selatan mengalir dari pihak ayahnya. Air mata itu nyata, dan keabsurdan itulah yang membuat dunia berhenti sejenak, menatap, dan bertanya-tanya tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari sebuah pertandingan bola.

Piala Dunia 2010 bukan kali pertama Korea Utara mencuri perhatian dunia lewat lapangan hijau. Tonggak terpenting diukir pada 1966 di Inggris, ketika tim Chollima yang nyaris tak dikenal menghentikan laju Italia dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Pak Doo-ik, sebuah kejutan yang hingga kini disebut sebagai salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia.

Capaian itu mengantarkan Korea Utara ke perempat final, menjadikan mereka wakil Asia pertama yang menembus tahap itu di panggung turnamen dunia. Setelah 1966, Korea Utara menjadi hantu di kancah sepak bola internasional. Penolakan mereka untuk bertanding melawan Israel dalam kualifikasi 1970 menjadi salah satu tonggak ketidakhadiran yang paling politis, sebelum akhirnya kembali ke putaran final empat dasawarsa kemudian di Afrika Selatan.

Penampilan Jong yang memukau di Piala Dunia 2010 membuka pintu karier Eropa baginya. Setelah bergabung lebih dulu dengan VfL Bochum di divisi kedua Jerman, Jong berlabuh di 1. FC Koln pada Januari 2012, mengisi kekosongan di lini depan akibat cedera yang menimpa Lukas Podolski.

Waktu bermainnya terbilang minim, namun jejak yang ditinggalkan melampaui statistik karena Jong menjadi warga negara Korea Utara yang menapakkan kaki di salah satu liga paling kompetitif di dunia, mewakili bangsa yang secara resmi masih berperang dengan tetangganya sendiri.

Bagi media internasional, kehadiran Jong di Mungersdorfer Stadion bukan sekadar urusan transfer, melainkan demonstrasi diam-diam bahwa warga Korea Utara, ketika diberi ruang, mampu melampaui batas-batas yang selama ini dibayangkan publik Barat tentang mereka.

Jong pun bukan satu-satunya. Pada masa yang sama, Korea Utara hampir mampu menurunkan starting eleven yang seluruhnya berbasis di luar negeri, dari Hong Yong-Jo di Rusia, Pak Kwang-Ryong di FC Basel, hingga Cha Jong-Hyok di Swiss.

Puncak perjalanan Jong bukan di Koln, melainkan ketika pada awal 2013 nama Jong tercatat sebagai pemain Suwon Samsung Bluewings di Korea Selatan. National Security Law Korea Selatan secara teknis melarang interaksi warganya dengan warga Korea Utara, namun otoritas sepak bola memilih tidak menghalangi, bahkan mendaftarkan Jong sebagai pemain domestik.

Lapangan bola berhasil membuka celah yang selama ini terkunci rapat oleh hukum dan ideologi. Akademisi Udo Merkel dari University of Brighton berargumen bahwa pertukaran atletik antara dua Korea berfungsi menjaga isu reunifikasi tetap bernyawa dalam wacana publik, sebuah tugas yang tidak mampu diemban oleh diplomasi formal yang kaku. Olahraga bekerja bukan dengan mengubah kebijakan, melainkan dengan mencairkan persepsi, satu penampilan setiap kalinya.

Lebih dari satu dasawarsa setelah Jong meninggalkan Bundesliga, lapangan sepak bola kembali menjadi panggung bagi pertemuan yang melampaui batas-batas negara. Pada 20 Mei 2026, Naegohyang Women's FC dari Pyongyang dijadwalkan menghadapi Suwon FC Women dalam babak semifinal AFC Women's Champions League di Kompleks Olahraga Suwon.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengonfirmasi kedatangan delegasi beranggotakan 39 orang, dengan rencana tiba melalui Bandara Internasional Incheon via Beijing pada 17 Mei. Kunjungan ini adalah yang pertama dari tim olahraga Korea Utara ke Korea Selatan sejak 2018, sebuah jeda delapan tahun yang diisi oleh dinginnya hubungan bilateral dan deklarasi Kim Jong-un pada akhir 2023 yang secara resmi mengategorikan Korea Selatan sebagai negara yang paling bermusuhan.

Naegohyang bukan tamu seremonial. Klub yang sebagian besar skuadnya dihuni pemain berlevel tim nasional itu telah membuktikan ketajaman kompetitifnya sepanjang turnamen, termasuk mengalahkan Suwon 3-0 di fase grup dan menghentikan perwakilan Vietnam 3-0 di perempat final.

Beberapa pemainnya turut andil dalam gelar Piala Dunia Wanita U-17 FIFA 2025 dan Piala Dunia Wanita U-20 FIFA 2024. Tim nasional wanita Korea Utara sendiri kini bertengger di peringkat ke-11 dunia berdasarkan peringkat FIFA per April 2026.

Yang membuat momen ini berbeda dari semua yang sebelumnya adalah dimensi gender yang hadir di dalamnya. Ini adalah pertandingan resmi internasional antara klub sepak bola putri Korea Utara dan Korea Selatan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah babak baru dalam narasi yang selama ini didominasi oleh atletik pria.

Korea Football Association mengklarifikasi bahwa keikutsertaan Naegohyang bersifat wajib berdasarkan regulasi AFC, dan ketidakhadiran akan berujung pada sanksi finansial dari konfederasi. Regulasi olahraga internasional, dengan demikian, bekerja sebagai pendorong struktural yang mampu memaksa interaksi antar-Korea bahkan ketika saluran diplomatik membeku.

Sepak bola tidak hanya menjadi bahasa, melainkan juga mekanisme, sebuah sistem insentif yang lebih pragmatis dari sekadar retorika perdamaian. Dari air mata Jong di Port Elizabeth hingga dua puluh tujuh pemain Naegohyang yang akan menginjakkan kaki di Suwon, benang merahnya sama.

Sepak bola berulang kali berhasil menjangkau apa yang gagal dijangkau oleh diplomasi formal, bukan karena sepak bola lebih kuat dari politik, melainkan karena sepak bola bekerja di frekuensi yang berbeda, di ruang yang tidak memerlukan protokol kementerian luar negeri untuk dibuka. Selama itu masih mungkin terjadi, jembatan itu belum runtuh.


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google