Subsidi Energi, Rupiah, dan Stabilitas
Setiap kali harga energi naik atau rupiah melemah, respons kita hampir selalu sama: menahan dampak, memperbesar subsidi energi, dan menenangkan pasar. Di permukaan, ini terlihat sebagai kebijakan yang rasional. Stabilitas terjaga. Inflasi terkendali. Kepanikan mereda. Namun justru di situlah letak persoalannya. Kita terlalu sering mengelola stabilitas, tanpa cukup memahami apa yang sebenarnya kita pertahankan.
Dalam berbagai perdebatan publik, stabilitas kerap direduksi menjadi angka: inflasi rendah, pertumbuhan sekitar 5%, dan nilai tukar yang relatif terkendali. Bahkan, muncul narasi yang lebih ekstrem, bahwa pelemahan rupiah ke level tertentu, seperti 20.000 rupiah per dolar AS atau 22.000 rupiah per dolar AS, akan secara otomatis membawa Indonesia menuju krisis.
Narasi seperti ini terdengar meyakinkan. Namun secara analitis, ia menyesatkan. Nilai tukar bukanlah penyebab utama krisis. Ia adalah refleksi dari struktur ekonomi. Dalam penelitian saya sebelumnya (Simatupang, 2007), saya menunjukkan bahwa stabilitas sistem keuangan tidak serta-merta mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya. Tanpa intermediasi yang efektif ke sektor produktif, stabilitas hanya menjadi kondisi statis, bukan pendorong transformasi.
Dua dekade kemudian, pola yang sama masih berulang. Dalam tulisan saya di Kompas (2017), saya mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi sering kali menyimpan fenomena "gunung es": ketenangan di permukaan dapat menutupi tekanan struktural seperti ketimpangan dan kerentanan yang berkembang secara perlahan.
Sementara itu, dalam tulisan Simatupang (2019) di Kompas, menekankan bahwa dinamika ekonomi global semakin tidak pasti, dan guncangan eksternal bukan lagi pengecualian, melainkan bagian dari sistem. Artinya, ketahanan ekonomi tidak dapat lagi bertumpu pada asumsi stabilitas eksternal. Namun dalam praktik kebijakan, kita masih merespons seolah-olah setiap guncangan adalah kejadian sementara.
Ketika rupiah melemah, kepanikan muncul. Angka tertentu dijadikan batas psikologis, seolah-olah ketika kurs melewati ambang tersebut, ekonomi akan runtuh. Padahal, yang menentukan bukanlah angka. Yang menentukan adalah bagaimana struktur ekonomi merespons tekanan tersebut.
Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat. Energi menjadi lebih mahal. Tekanan terhadap fiskal bertambah, dan kebutuhan untuk mempertahankan stabilitas semakin besar. Dalam kondisi ini, pemerintah kembali pada pola yang sama, yaitu meredam dampak melalui subsidi energi.
Di sinilah keterkaitan antara nilai tukar dan subsidi energi menjadi jelas. Subsidi energi bukan hanya instrumen stabilisasi harga. Ia adalah instrumen stabilisasi atas struktur yang belum cukup kuat.
Dalam tulisan terbaru saya di Media Indonesia dan Bisnis Indonesia (2026), saya menyebut kondisi ini sebagai jebakan stabilitas, di mana ekonomi terlihat stabil, tetapi tidak cukup berubah untuk menjadi lebih tangguh. Kita menjaga keseimbangan, tetapi tidak menciptakan lompatan. Akibatnya, setiap guncangan eksternal, baik dari energi maupun nilai tukar, akan selalu menghasilkan respons yang sama.
Kita tidak menyelesaikan masalah. Kita mengulanginya. Inilah lingkaran yang tidak kita sadari. Kita menjaga stabilitas melalui subsidi energi. Kita merespons pelemahan rupiah dengan pendekatan yang sama. Kita menenangkan gejala, tetapi tidak memperkuat struktur.
Dan dalam proses itu, kita membangun ilusi. Ilusi bahwa selama indikator makro terlihat baik, ekonomi kita kuat. Ilusi bahwa selama rupiah tidak melemah terlalu jauh, kita aman.
Ilusi bahwa stabilitas hari ini mencerminkan ketahanan jangka panjang. Padahal, seperti yang telah saya tunjukkan dalam berbagai tulisan, stabilitas tanpa transformasi bukanlah kekuatan. Ia adalah stagnasi yang tertunda.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar: Apakah kita benar-benar ingin memperkuat ekonomi? Atau hanya ingin terus menjaga agar ia terlihat stabil? Karena selama kita terus merespons gejolak dengan cara yang sama, maka masalah terbesar kita bukanlah pada harga energi atau nilai tukar. Masalah terbesar kita adalah bahwa struktur ekonomi kita belum cukup kuat untuk berdiri tanpa penopang.
Dan selama itu belum berubah, setiap pelemahan rupiah akan selalu menimbulkan kegaduhan, setiap kenaikan energi akan selalu memicu kepanikan, dan setiap kebijakan subsidi energi akan selalu kembali.
Bukan karena kita tidak tahu solusinya. Tetapi karena kita belum benar-benar mengubah cara kita memahami stabilitas. Dan tanpa perubahan itu, stabilitas yang kita pertahankan hari ini bukanlah fondasi kekuatan, melainkan ilusi yang terus kita pelihara.
(miq/miq) Add
source on Google