Makna di Balik Penundaan Penyerangan Fasilitas Energi Iran oleh AS

Mahendra Siregar CNBC Indonesia
Rabu, 25/03/2026 11:13 WIB
Foto: Mahendra Siregar. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Presiden Amerik Serikat (AS) Donald Trump mengunggah pesan melalui akun media sosialnya, Sabtu (21/3/2026), akan melakukan serangan besar-besaran kepada pembangkit listrik terbesar di Iran apabila dalam 48 jam Iran tidak membuka alur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun berselang dua hari, Trump mengunggah pesan yang sangat kontradiktif: AS menyambut baik proses pembicaraan dengan Iran untuk gencatan senjata, sehingga memberi waktu tambahan lima hari sebelum memutuskan akan meneruskan atau tidak rencana menghancurkan pusat listrik Iran itu.


Iran, dalam membalas pernyataan Trump tanggal 21 Maret, menyatakan jika AS menyerang pembangkit listriknya, maka Iran akan membalas dengan menyerang instalasi listrik dan penyulingan air di negara-negara tetangganya.

Kehidupan di negara-negara itu tentu akan menjadi sangat sulit tanpa listrik. Namun jika pusat penyulingan air di Arab Saudi, UAE atau Israel hancur, maka tingkat kesengsaraan masyarakat di negara-negara itu akan jauh lebih berat lagi.

Sedangkan saat membalas pesan Trump tanggal 23 Maret, baik Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, juru bicara tentara Iran maupun akademisi ternama yang juga penasehat Tim Negosiasi Iran dengan AS sebelum serangan awal Maret, Mohammad Marandi, menyangkal telah melakukan pembicaraan langsung atau tidak langsung dengan AS.

Bahkan mereka cenderung mencemooh logika kemungkinan terjadinya pembicaraan itu, setelah AS dua kali melanggar good faith proses perundingan pembatasan pemanfaatan nuklir Iran justru dengan membom Iran di tengah berlangsungnya negosiasi.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Trump menyampaikan pesan tanggal 23 Maret itu? Jika memang proses komunikasi kedua pihak itu sedang berlangsung, kenapa Iran menyangkalnya?

Apakah Trump, yang memang biasa melontarkan pesan-pesan yang selalu berubah, kembali menyampaikan informasi yang tidak benar? Atau Pemerintah Iran yang memang dikenal tidak memiliki sistem keterbukaan informasi, yang justru menyampaikan pesan tidak benar bahwa komunikasi itu memang terjadi?

Kemungkinan Jika Trump yang Tidak Benar
Beberapa kemungkinan yang menjadi alasan Trump menyampaikan pesan yang menyesatkan itu. Pertama, Trump menyadari bahwa perang dengan Iran ternyata sangat merugikan dan berisiko tinggi, sehingga dia secara sepihak bersedia menghentikannya.

Jumlah korban besar yang terjadi; harga migas dunia yang melonjak sangat tinggi; terganggunya logistik dan seluruh transportasi di kawasan Teluk Arab/Persia yang berisiko meningkatkan inflasi AS dan global disertai pelemahan pertumbuhan ekonomi; penyerangan terhadap instalasi dan fasilitas militer AS di GCC yang menimbulkan sikap antipati publik negara-negara itu kepada AS; dan, tentu saja risiko Partai Republik akan tergerus bahkan kehilangan mayoritas di Kongres pada Pemilihan Legislatif AS November ini, menjadi taruhan yang terlalu besar bagi Trump. Namun demi tidak kehilangan muka, Trump justru mengatakan Iran yang menyampaikan keinginan gencatan senjata itu.

Kedua, Trump kaget dan sama-sekali tidak siap dengan ketangguhan dan daya tahan Iran dalam perang ini. Semangat tinggi yang didukung oleh moral kuat dan administrasi Pemerintah Republik Islam Iran serta militer yang efektif sekalipun seluruh jajaran pimpinan tertingginya telah tewas, sama sekali di luar dugaan Trump dan kabinetnya.

Trump sudah mundur dari objektif ingin mengganti rezim Pemerintahan Iran, bahkan dengan pesannya itu mengisyaratkan siap berunding dengan rezim yang sama. Menyadari risiko AS akan dapat terperangkap dalam perang yang berkepanjangan di Iran telah menyadarkan Trump untuk segera menghentikannya. Istilah sinis yang kerap digunakan banyak orang sejak Liberation Day adalah TACO (Trump Always Chickens Out).

Ketiga, pada saat yang bersamaan dengan pernyataan ini disampaikan, AS sedang memobilisasi marinir yang disiapkan untuk kebutuhan penyerangan darat dan reinforcement persenjataannya. USS George H.W. Bush, kapal induk AS sejak akhir minggu lalu sedang bergerak dari pangkalannya di Norfolk, Virginia ke Timur Tengah.

Penempatan itu dilakukan untuk menggantikan kapal induk USS Gerald R. Ford yang sedang melakukan perbaikan, di Pangkalan Souda Bay, Pulau Crete, Yunani. Artinya, waktu lima hari itu diperlukan untuk buying time mobilisasi pasukan dan reinforcement militer AS tiba di kawasan perang.

Keempat, berbagai analisis keuangan menyampaikan bahwa 15 menit sebelum pengumuman tanggal 23 Maret itu dilakukan, terjadi transaksi lonjakan anomali sangat besar di pasar komoditas/futures minyak yang mengambil posisi bahwa harga harga minyak Brent maupun WTI yang saat itu di sekitar US$110-115 akan turun drastis.

Dan memang harga minyak turun hampir 20 persen hanya beberapa menit sejak pengumuman Trump itu, karena berkembang sentimen bahwa gencatan senjata akan menuju normalisasi situasi yang tertekan berat akibat perang itu. Para analis mengatakan terlalu luar biasa apabila hal itu dianggap sebuah kebetulan semata, dan mencurigai adanya insiders trading.

Kemungkinan jika Iran yang Tidak Benar
Sekalipun sudah jatuh ribuan korban orang Iran yang mati, disertai kerusakan fasilitas militer dan infrastruktur umum yang masif di Iran akibat perang ini, Pemerintah dan militer Iran merasa di atas angin. Kemampuan Iran untuk terus menyerang Israel dan GCC; penutupan Selat Hormuz yang tidak tertandingi oleh AS maupun sekutunya; daya tahan dan efektivitas pemerintah dan militer Iran sekalipun telah digempur di lebih 7.000 objek; moral dan semangat tinggi populasi Iran di tengah exsistential war ini merupakan bukti bahwa Iran tidak perlu meminta gencatan senjata kepada AS.

Sebaliknya, Pemerintah Iran yang percaya diri malah menuntut beberapa prasyarat untuk gencatan senjata dan dimulainya perundingan, yaitu: penghentian dan jaminan tidak akan ada serangan AS dan Israel di masa depan; ditutupnya fasilitas militer AS di GCC sebagai jaminan terhadap prasyarat pertama; dan, tuntutan ganti rugi terhadap segala kerusakan yang terjadi akibat perang.

Dengan posisi seperti itu kecil sekali kemungkinan Iran meminta gencatan senjata ke AS. Namun hal itu bukan berarti tidak mungkin permintaan itu memang dilaksanakan. Dengan kondisi ekonomi hancur, infrastruktur dan seluruh persediaan kebutuhan pokok menurun drastis, tentu Pemerintah Iran juga paham tidak mungkin melanjutkan perang ini secara berkepanjangan.

Karena jika perang tidak berkesudahan, maka pada gilirannya penduduk Iran juga akan berpandangan Pemerintahnya juga menjadi sumber kesengsaraan mereka. Dengan menyadari risiko itu maka memang ada kemungkinan pendekatan oleh Iran memang dilakukan. Namun hampir pasti bahwa pendekatan tidak dilakukan langsung, tapi melalui perantara. Ada sejumlah negara yang disebutkan sedang memainkan peran "penghubung" kedua pihak itu secara proaktif.

Dengan skenario ini Pemerintah Iran akan cukup aman. Jika terjadi kemajuan dalam proses pendekatan ini, dan jika waktunya tepat nanti, maka Iran dapat menyampaikan secara terbuka bahwa proses gencatan senjata menuju perundingan tengah berlangsung. Namun sekiranya pendekatan ini tidak membawa hasil, maka dengan mudah Iran menyangkalnya, karena memang tidak pernah mengakuinya sejak awal.

What's Next?
Tidak mudah memprakirakan apa yang akan terjadi dengan berbagai kemungkinan dan skenario di atas. Namun satu hal yang cukup jelas adalah dari segi kerangka waktu, baik AS maupun Iran memiliki keterbatasan. Keterbatasan waktu ini yang akan menentukan apa yang akan terjadi beberapa minggu dan bulan ke depan, serta posisi masing-masking pihak.

Keterbatasan waktu AS khususnya Presiden Trump adalah politik dalam negerinya, terutama Pemilu Legislatif November, yang puncak kampanyenya sudah dimulai Agustus. Seberapa hebatnyapun "kemenangan perang" AS dengan Iran, hal itu tidak dapat menggantikan risiko kekalahan partai Republik dan kehilangan mayoritas partai itu di Kongres. Kehilangan mayoritas di Kongres akan menjadikan Trump sebagai lame-duck president. Terlalu berisiko baginya untuk tidak efektif dalam paruh kedua masa presidensinya kali ini.

Sebaliknya batas waktu Iran adalah korban yang jatuh akan menjadi terlalu besar, terutama di kalangan masyarakat sipil. Begitu pula kehancuran infrastruktur, sekolah, rumah-sakit, sumber-sumber ekonomi dan berbagai fasilitas vital lainnya yang sangat diperlukan masyarakat.

Namun bagi rezim Teokratis Syiah hal itu tidak akan lebih besar risikonya ketimbang penggantian rejim itu sendiri, yang akan berarti sekaligus tamatnya pemerintahan otoriter yang berusia 47 tahun itu. Malah risiko lebih besar lagi dapat terjadi dalam bentuk perang saudara atau perebutan kekuasaan di Iran seperti yang terjadi di Libia, Suriah, Irak dan Yemen menyusul jatuhnya rezim otoriter yang berkuasa sebelumnya di negara-negara itu.

Ditinjau dari risiko yang dihadapi oleh kedua pihak ini, nampaknya batas waktu untuk AS lebih mendesak daripada untuk Iran. Trump hanya punya waktu 3-4 bulan lagi, sedangkan Iran mungkin masih dapat bertahan sampai akhir tahun ini.

Kemungkinan sangat besar, keterbatasan waktu yang dihadapi oleh Trump inilah yang mendorongnya menyampaikan pesan tanggal 23 Maret itu. Sedangkan Iran masih punya beberapa minggu atau bulan lebih panjang daripada itu.

Jika pendekatan gencatan senjata ini tidak memberikan hasil setelah batas waktu lima hari yang disampaikan Trump, maka terdapat dua skenario. Skenario optimis adalah batas waktu lima hari akan diperpanjang yang akan memberikan ruang gerak lebih besar bagi proses-proses pendekatan di belakang layar itu. Atau skenario worse case, yang berarti intensitas perang akan kembali seperti minggu lalu dengan semua konsekuensinya.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google