Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS

Mahendra Siregar,  CNBC Indonesia
17 March 2026 11:02
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar menyampaikan paparan dalam acara Financial Forum 2025 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/12/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Sepanjang sejarah 100 tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) tidak pernah "kalah perang" secara militer atau tactical terhadap negara lain. "Kekalahan" AS di Vietnam maupun Afghanistan disebabkan berubahnya sentimen konstituen politik di AS yang menjadi sangat anti-perang, sehingga menyebabkan pemerintah yang berkuasa di AS diganti atau berganti posisi.

Saat perang Vietnam, Presiden Lyndon B. Johnson, dari Partai Demokrat, yang mengeskalasi perang di Vietnam dengan menurunkan pasukan secara besar-besaran
digantikan oleh Presiden Richard Nixon tahun 1969, dari Partai Republik, yang secara bertahap mengurangi dan akhirnya menarik mundur seluruh pasukan AS dari Vietnam tiga tahun kemudian.

Akibatnya, Pemerintah Viet Cong Vietnam Utara berkuasa atas seluruh Vietnam Selatan, dan kemudian menyatukan dua negara itu menjadi Republik Sosialis Vietnam tahun 1976.

Begitu juga halnya dengan Perang AS di Afghanistan. Mantan Wapres Biden sejak kampanye Pilpres tahun 2019 menghadapi Presiden Trump sudah menjanjikan akan
menarik pasukan dari Afghanistan karena misi pasukan itu dianggap sudah tercapai. Dan setelah menang pilpres itu, Presiden Biden dalam waktu kurang dari dua tahun memerintahkan penarikan mundur penuh seluruh pasukan AS dari sana, bahkan terkesan secara terburu-buru.

Ironi terbesar yang terjadi di Afghanistan bagi AS adalah setelah 20 tahun berperang di Afghanistan melawan rejim Thaliban yang dianggap bertanggungjawab terhadap serangan teroris September Eleven 2001, justru menyaksikan Thaliban kembali berkuasa di Afghanistan bahkan menguasai seluruh peralatan dan instalasi militer yang ditinggalkan AS.

Kedua kasus di atas memberikan rujukan penting. Kekalahan perang AS lebih disebabkan sentimen politik dalam negerinya yang berubah menjadi sangat anti-perang, bukan karena kekalahan pasukannya di medan perang. Lalu bagaimana dengan perang di Iran saat ini?

Peristiwa elektoral terdekat saat ini adalah Pemilihan Sela AS (mid-term election) pada tanggal 3 November 2026, yang akan memilih seluruh 435 anggota DPR (House of Representatives) dan 33 dari 100 senator. Parpol yang menang dalam pemilu sela itu akan menguasai Ketua DPR (Speaker of the House), ketua-ketua seluruh komisi, menetapkan agenda legislatif, sehingga secara efektif akan menentukan apakah suatu RUU akan lolos atau gugur.

Namun satu hal penting yang secara riil tidak dilakukan pada pemilu sela itu adalah: referendum tingkat kepercayaan terhadap Presiden yang sedang berkuasa. Pada
tahun ini, justru faktor ini yang akan menjadi penentunya.

Berdasarkan pengalaman selama 40 kali pemilu sela sejak Perang Saudara di AS tahun 1862, parpol pendukung Presiden petahana kalah 37 kali dan hanya menang tiga kali. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai demokrasi masyarakat AS yang lebih menyukai sistem check-and-balance antara eksekutif dan legislatif, atau dapat juga dianggap sebagai penilaian ketidakpuasan terhadap kinerja presiden petahana.

Hal itu terjadi karena sejarah yang sama mencatat pada pemilu sela parpol pendukung presiden secara rata-rata kehilangan sekitar 26 kursi DPR dan empat kursi senat. Jika hal ini ditempatkan pada posisi Partai Republik saat ini yang hanya mayoritas tiga kursi di DPR dan enam kursi di Senat, maka parpol itu sangat
rawan terhadap kehilangan mayoritas di kedua lembaga itu.

Dengan latar belakang sejarah itu saja, Presiden Trump dan Partai Republik patut khawatir dengan hasil pemilu sela November mendatang. Apalagi jika Perang di Iran berjalan berkepanjangan. Kenapa?

Faktor-faktor Penentu Pemilu Sela AS Tahun 2026
Pemilu Sela AS November ini seperti yang juga terjadi dalam Pemilu dan Pilpres sebelumnya ditentukan oleh faktor-faktor utama seperti: inflasi dan affordability; harga
energi dan BBM; imigrasi; kondisi ekonomi dan lapangan kerja; belanja dan utang pemerintah serta pajak; dan isu-isu sosial utama seperti kesehatan, program sosial,
aborsi, keamanan publik, dan isu yang biasanya tidak terlalu mendapat perhatian: politik luar negeri AS.

Dalam konteks itu, perkembangan Perang di Iran sangat berisiko bagi Presiden Trump dan Partai Republik. Apabila perang berakhir dalam waktu singkat sebelum kampanya Pemilu mencapai puncaknya pada Agustus-awal November, maka relevansinya agak terbatas memengaruhi hasil pemilu.

Namun apabila terjadi sebaliknya perang berlangsung panjang, maka dapat dipastikan Partai Republik akan terpukul. Perang dengan Iran ditransmisikan kepada Pemilu Sela AS melalui beberapa faktor penentu ini:

1. Harga energi dan BBM akan langsung membebani masyarakat AS. Strategi defensif Trump yang mengatakan bahwa AS saat ini swasembada energi bahkan net-
eksportir tidak berpengaruh karena minyak produksi dalam negerinya tetap akan mengikuti harga dunia. Tidak ada mekanisme subsidi harga BBM di AS;

2. Selain harga energi yang secara langsung akan menyebabkan inflasi naik, negara-negara Èšeluk Persia (GCC) adalah sumber 30% ammonia dan 50% urea yang
diperdagangkan dunia, yang adalah elemen penting produksi pupuk non-organik. Kondisi ini menjadikan faktor inflatoir yang makin besar. Terlebih lagi bagi Partai
Republik, yang daerah pertanian perdesaan AS merupakan basis kuat konstituen MAGA/America First pada Pilpres dan Pemilu 2024;

3. Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja AS akan melambat, baik karena faktor harga energi dan inflasi tadi maupun Bank Sentral AS yang akan lebih enggan
turunkan suku bunga saat risiko inflasi meningkat;

4. Perang yang lama akan meningkatkan belanja pertahanan AS, yang mendongkrak defisit dan utang Pemerintah AS yang sangat tidak populer di masyarakat AS,
terutama kalangan pendukung Partai Republik dan Presiden Trump yang menang Pemilu dan Pilpres 2024 dengan janji menurunkan belanja, defisit, pajak maupun
utang pemerintah.

Selain isu-isu yang lazim terjadi saat Pemilu AS itu, perang berkepanjangan akan menimbulkan sentimen anti-pemerintah karena jumlah korban di pihak AS dan
keseluruhan meningkat, sentimen anti-AS dan anti-Trump di dunia akan meningkat tajam yang akan langsung meningkatkan risiko keamanan bagi AS dan warganya, maupun mengurangi dukungan terhadap posisi mereka dalam persaingan geopolitik dan geo-ekonomi dengan China.

Kesimpulan
Semakin lama perang AS dengan Iran berlangsung, maka probabilitas Partai Republik akan semakin tergerus pada pemilu sela mendatang meningkat. Pada gilirannya hal itu akan dipersalahkan kepada Presiden Trump yang melakukan perang ini tanpa konsultasi dengan Kongres.

Jika hal ini terjadi, maka dapat diprakirakan akan terjadi kebuntuan sistem legislasi di Kongres, munculnya berbagai proses investigasi, termasuk kasus Epstein, dan
maraknya gagasan impeachment terhadap Presiden Trump. Kondisi paruh kedua Presidensi Trump akan berubah drastis: Gedung Putih menjadi sangat berkurang efektifitasnya, risiko stagflasi AS meningkat dan dominasi AS atas politik dan ekonomi global berkurang.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google