4 Tren Digital: Manusia, Kecerdasan Buatan, dan Bentuk Koneksi Baru

Wafa Taftazani,  CNBC Indonesia
06 February 2026 12:59
Wafa Taftazani
Wafa Taftazani
Wafa adalah General Manager Indonesia di Tools for Humanity, kontributor utama untuk World Network. Sebagai seorang eksekutif, pengusaha, dan investor, ia memiliki lebih dari 12 tahun pengalaman di bidang teknologi, keuangan, dan hiburan. Sebelum bergabung.. Selengkapnya
Ilustrasi Transformasi Digital. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Transformasi Digital. (Dok. Freepik)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Indonesia berada di momen yang menarik dalam perjalanan teknologinya, terutama memasuki tahun 2026 ini. Dengan salah satu basis pengguna media sosial terbesar di dunia dan ekonomi digital yang terus tumbuh, kita bukan cuma jadi pengguna teknologi, kita ikut membentuk bagaimana teknologi itu berkembang.

Di satu sisi, kita sudah sangat terkoneksi. Menurut laporan Profil Internet Indonesia 2025 dari APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah menembus 229 juta orang. Artinya, internet sudah benar-benar jadi bagian dari keseharian kita. Tapi di sisi lain, pemahaman kita tentang teknologi baru, terutama AI, masih terus berkembang. Indeks Literasi AI Indonesia berada di angka 49,6, yang menunjukkan masih banyak orang yang baru mulai mengenal bagaimana AI bekerja dan bagaimana memanfaatkannya secara maksimal.

Singkatnya, kita sudah online, tapi tantangan berikutnya adalah bagaimana kita bisa benar-benar siap. Bukan cuma memakai teknologi, tapi juga memahaminya, mengontrolnya, dan menggunakannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Karena kalau manusia ingin tetap jadi pusat dari kemajuan digital, kita butuh lebih dari sekadar koneksi, kita butuh pemahaman.

1. AI bukan cuma alat, tapi perantara

Dulu, AI terasa seperti alat bantu. Sekarang, ia mulai jadi perantara. Dari mengatur jadwal, membantu belanja, sampai memberi rekomendasi keputusan, AI makin sering hadir di tengah-tengah aktivitas kita.

Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat AI bekerja, melainkan seberapa banyak keputusan yang ingin kita serahkan padanya. Di tengah semua otomatisasi ini, peran manusia untuk menilai, mengawasi, dan bertanggung jawab, justru jadi semakin penting.

2. Komunitas digital berbasis kepercayaan

Saat bot, deepfake, dan akun palsu makin sulit dibedakan dari manusia asli, banyak orang mulai mencari ruang online yang terasa lebih "nyata". Dari sinilah muncul komunitas digital berbasis kepercayaan, tempat di mana pengguna bisa memilih untuk memverifikasi bahwa mereka adalah orang sungguhan.

Beberapa platform chat, forum, sampai marketplace mulai mencoba verifikasi opsional untuk interaksi yang lebih sensitif atau berisiko. Tujuannya bukan membatasi, tapi membuat interaksi terasa lebih aman, lebih jujur, dan lebih manusiawi.

3. Lebih sedikit data, lebih banyak privasi

Selama ini, rasanya kita harus "membayar" dengan data pribadi untuk bisa menikmati layanan digital. Tapi, pendekatan baru mulai muncul.

Dengan teknologi seperti Zero-Knowledge Proof, seseorang bisa membuktikan hal tertentu, misalnya umur atau status tertentu tanpa harus membuka data pribadinya. Di dunia digital yang makin canggih, kemampuan untuk menjaga privasi justru bisa jadi nilai utama.

4. Proof of human sebagai lapisan kepercayaan baru

CAPTCHA sudah tidak cukup lagi ketika AI bisa dengan mudah meniru perilaku manusia. Karena itu, teknologi proof of human mulai muncul sebagai cara baru untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar manusia.

Di platform sosial atau layanan online berisiko tinggi, teknologi ini bisa membantu membangun rasa aman tanpa harus mengorbankan privasi. Jika dikembangkan dengan pendekatan yang tepat dan selaras dengan aturan perlindungan data, ini bisa menjadi fondasi baru bagi kepercayaan di dunia digital.

 


(rah/rah)